Dimulai dari Telinga

Sabtu, Januari 19, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


Dari Telinga Naik ke Ingatan

Cerita gue selalu seputar kuliah gue yang berantakan atau seputar status jomblo gue yang sebentar lagi pajaknya abis dan sepertinya masih butuh perpanjangan sampe beberapa tahun ke depan *seketika sekarat*. Bosen yaa? Lo pikir cuman lo yang bosen, gue juga bro. Kadang kadang gue pengen nyeritain yang lain, gue mendadak dilamar sama anak pejabat misalnya, tapi peristiwa itu nggak dateng dateng juga. Ya udah terpaksanya gue ceritain yang itu itu aja. Makanya doain gue biar cepet dilamar sama orang biar gue bisa bikin cerita dengan tema yang baru. Ya ya ya, doain gue ya !!!!!!!!!!!!!

Tapi untuk kesekian kalinya, gue bakal cerita tentang kuliah gue yang nggak pernah bener. Mahasiswa bejat dengan syaraf otak yang sebagian besar udah nggak nyambung ini bakal sedikit berbagi kisah, baca nih baca! Tulisan gue sekarang udah naik tahta menjadi sama pentingnya sama fatwa MUI.

Pernah merhatiin dosen nggak? Gue yakin seenggak berguna bergunanya lo jadi mahasiswa, lo pasti pernah merhatiin dosen lo. Karena gue, sebagai mahasiswa pemegang jabatan tertinggi mahasiswa paling nggak berguna di seluruh kampus, juga ngelakuin hal yang demikian. Gue sering merhatiin dosen dosen gue, dari hal hal yang paling umum sampe hal hal yang paling khusus sekalipun. Tapi seringnya, yang gue perhatiin adalah sifat dari dosen yang bersangkutan.

Dari berbagai macam pengamatan yang gue lakuin, gue selalu nemuin hal yang sama dari dosen dosen tersebut. Beberapa hal yang sama salah satunya adalah selalu suka sama mahasiswa yang pinter entah itu pinter akademis ataupun pinter ngomong, selain itu nggak jarang juga suka sama mahasiswa yang berparas rupawan dan mempunyai kemampuan memikat hati. Kalo kebetulan kita jadi pihak yang disukain sama dosen yang bersangkutan si nggak masalah, sejauh ini disukain sama dosen itu selalu menguntungkan dari berbagai sisi. Masalahnya adalah ketika kita nggak jadi pihak yang selalu terlihat menonjol di mata dosen tersebut. Seolah olah pas kita ada di dalam kelas, kita itu nggak pernah kelihatan di kacamata dosen itu. Yang ada di kubangan lensa dosen itu ya cuman mahasiswa mahasiwa yang dari awal sudah memikat hatinya dan baik nama maupun wajahnya selalu tergambar jelas di kanvas kosong otaknya. Itu menyedihkan sekali ketika berada dalam keadaan di tengah tengah macem itu, antara disukai dan tidak disukai sama sekali.

Gue adalah orang yang yakin bahwa semua orang yang diciptakan Tuhan itu punya potensi hebat di dalam dirinya. Kadang kadang, gue nemuin beberapa dosen yang selalu menganggap remeh kemampuan mahasiswanya yang kesehariannya pasif. Artinya, mahasiswa itu sekadar berangkat kuliah semata mata karena demi absen atau karena udah bayar kuliah mahal. Raga mereka di kelas tapi pikiran mereka mungkin sedang berkelana memikirkan jodoh mereka yang tak kunjung menampakkan diri. Sementara mahasiswa yang pasif itu memikirkan jodohnya, mahasiswa aktif selalu mengangkat tangannya untuk menanyakan suatu permasalahan yang sedikit rumit. Beda jauh. Nah, perbedaan ini semakin ngebikin mahasiswa pasif ini nggak punya kesempatan buat diinget sama dosen tersebut padahal mungkin mahasiswa pasif ini juga punya kemampuan hebat lain yang nggak diketahui sama dosen itu.

Sementara ada dosen yang selalu tertarik sama mahasiswanya yang pinter ngomong buat ngeyakinin sesuatu ataupun pinter akademik, ada juga dosen yang selalu tertarik sama mahasiswa dengan paras yang aduhai. Berbahagialah yang punya wajah di atas SNI. Banyak temen temen gue yang cantik cantik dihapal sama dosen. Ya selain cantik mereka juga punya kemampuan akademik dan kemampuan berkomunikasi yang mantap juga sih sebenernya. Tapi minimal, cantik aja pun udah lebih dari cukup buat dijadiin kandidat makhluk makhluk pujaan dosen.

Dari semua hal yang akan menentukan posisi kita di mata dosen, apakah kita termasuk dalam kumpulan yang terbuang atau yang akan masuk ke dalam pelukan dosen, yang terpenting adalah kemampuan berkomunikasi terutamanya kemampuan menaklukan rasa takut untuk berbicara. Ini adalah hal yang paling penting. Dosen itu suka sama orang yang ‘cerewet’, yang aktif, bukan yang pasif. Ketika di sebuah kelas kita aktif menyampaikan aspirasi kita, entah itu benar atau salah, yang penting aktif. Yang aktif adalah yang akan diingat sepanjang masa. Yang nggak aktif, idih siapa elo? Itu prinsipnya.

Sayangnya, nggak semua orang mempunyai kemampuan berkomunikasi lisan yang baik. Mungkin bukan nggak punya kemampuan berkomunikasi lisan yang baik tapi yang dimaksudkan di sini lebih ke arah kurang bisa menyampaikan pendapatnya meskipun sebenarnya memiliki pendapat yang hebat di benaknya. Beberapa orang akan menjadi seseorang yang hebat ketika dia menuliskan aspirasinya ke dalam sebuah tulisan, bukan lisan. Yang sedikit menyebalkan adalah ketika orang yang mempunyai kemampuan lisan yang baik biasanya selalu didukung dengan kemampuan non-lisan(tertulis) yang baik pula sedangkan yang mempunyai kemampuan non lisan yang baik tidak selalu didukung dengan kemampuan lisan yang baik. Menyedihkan ya. Ditambah lagi orang Indonesia selalu menyukai orang yang pandai ‘ngoceh’ ini itu. Wah, ya sudah.

Gue juga pernah ngalamin hal yang demikian. Gue termasuk orang yang nggak pinter ‘ngoceh’. Oleh karena itu gue nggak pernah aktif di kelas. Dan pada saat gue nggak aktif di kelas, gue udah melewatkan satu hal yang bernama ‘cari perhatian’ dosen. Itu nggak masalah toh gue bukan orang yang suka cari perhatian. Sialnya, di salah satu mata kuliah, nilai gue parah abis. Si dosen yang nggak kenal gue sama sekali pun sempet kebingungan mikirin gimana caranya biar nilai gue bisa tetep jelek, tapi nggak keterlaluan. Kebetulan dosen gue yang satu ini sangatlah memperhatikan keaktifan mahasiswanya di kelas. Di cek lah keaktifan gue di kelas. Kan gue udah bilang kalo gue bukan mahasiswa yang aktif, jelaslah kalo dsen itu nggak bakalan dapetin nama gue di catetannya. Padahal, ketika gue aktif, nilai gue mungkin bisa sedikit tertolong. Mampus nih gue, mampus.

Gue akuin kalo gue emang gak punya kemampuan berkomunikasi dengan baik dan selain itu gue juga terlalu pengecut karena gue nggak sanggup ngelawan rasa takut gue buat ngomong ini itu. Mungkin karena itu pula gue nggak cocok jadi anggota DPR. Tapi, buat yang ngalamin nasib sama kayak gue, nggak usah sedih, nggak usah minder. Meskipun banyak nggak enaknya, tapi percaya deh kalo sebenernya kita juga punya kemampuan yang sama hebatnya dengan orang orang yang punya kemampuan berbicara yang hebat. Sayangnya, kita nggak dikasih waktu lebih banyak buat nunjukin kemampuan diri kita yang sebenarnya.

Dan untuk mahasiswa angkatan muda, mumpung belom terlambat, silahkan caper secaper-capernya ke dosen. Keuntungannya banyak loh. Jangan sampe kayak gue yang cuman berani ngoceh lewat tulisan, ngomel ngomel lewat tulisan. Tulisan itu nggak bisa dijadiin alat buat caper. Kalo ngomong langsung itu kedengeran di telinga, dari telinga bisa turun ke hati ataupun nyantol di otak. Kalo tulisan mentok mentoknya cuman di baca satu kalimat pertama. Manusia berwujud dosen itu lebih suka mendengar, apalagi mendengar sesuatu yang cetar membahana. Jadi kalo lagi ngomong sama dosen, bikin omongannya itu tetep terngiang ngiang di telinga dan nggak bisa dilupain. Kalo mau menyangkal teori, pake teori yang dahsyat yang sekiranya dosen itu belom pernah denger. Apapun itu intinya caper dengan kata kata yang menggetarkan hati *tsaaah..

BYE BYE. Semangat ngoceh demi caper, demi nilai yang lebih baik.. 

You Might Also Like

0 komentar: