Angin Lagi

Selasa, Juni 12, 2012 Atika Nugraheni 0 Comments


Perjalanan Angin

Semuanya udah sesuai sama keinginan gue. Angin brengsek itu udah berhasil ngelempar gue ke tempat yang jauh. Dan wow, gue sempurna lupa sama jalan pulang. Dengan begitu, gue gak bakalan bisa kembali ke tempat sialan itu. Tempat yang udah merubah total persepsi gue tentang dunia, tentang manusia, tentang cinta. Yang ada di benak gue sekarang adalah semua yang bisa gue denger, gue lihat itu palsu, bohong, mengada-ada, fiktif, ilusi, kosong. Hal hal itu bikin gue runtuh seketika, remuk, bobrok lalu berakhir di ujung gudang rongsok yang berdebu. Tergeletak lemah dengan jiwa yang melayang layang ingin mencari rumah baru. Dilupakan dan dibuang.

Tempat yang gue tempatin sekarang adalah tempat untuk jiwa jiwa yang kehilangan identitasnya. Jiwa yang berubah total antara hari ini dengan hari kemarin. Jiwa yang linglung,bingung, korban dari kemunafikkan dunia. Dan jiwa itu salah satunya adalah gue, yaah gue. Gue gak bisa terus terusan nganggep diri gue baik baik aja, harus gue akuin kalo gue udah mulai gak tau gue itu siapa. Bukan, bukan karena kepala gue abis ngebentur sesuatu tapi hati gue. Hati gue berasa ngilu, lebih ngilu dari apapun. Efeknya menjalar sampe ke saraf saraf otak, melumpuhkan semuanya termasuk logika. Semua jiwa di sini bertampang datar, gak ada ekspresi sedikitpun. Terlalu kompleks mungkin hingga yang dihasilkan hanya sebuah ketiadaan. Jiwa jiwa itu udah gak bisa lagi berpura pura dan gak bisa menutup nutupi. Yang mereka inginkan cuman sebuah kejujuran yang pahit dengan sedikit bumbu kepedulian dan cinta yang tulus. Cuman itu dan kebahagiaan yang terpendam akan muncul secara perlahan, senyum yang sirna akan kembali dan diam yang menyesakkan akan tergantikan dengan kata kata yang menyejukkan. Terus apa yang bisa gue lakuin buat memperbaiki semua ini sementara keadaan gue juga hampir sama, bedanya cuman mereka udah terlalu lama berkubang di lumpur yang dingin dan gue baru ngerasain betapa tersiksanya berada dalam keadaan ini beberapa saat yang lalu. Lagi lagi gue gak berdaya ngelakuin apapun bahkan buat diri gue sendiri. Sialan, kenapa gue bisa sepayah ini?? Gue berlalu, meninggalkan segalanya dan berusaha menjangkau tempat lain.

Gue menengok ke arah, entah arah mana. Samar samar gue ngeliat jiwa yang udah mengobrak-abrik dunia gue secara gak langsung. Dari matanya gue tau kalo jiwa itu ngeliat sosok gue, ngenalin gue seutuhnya. Jiwa itu mendung di satu sisi, terlalu banyak menyimpan kebencian yang tak terungkap mungkin. Tapi di sisi lain jiwa itu cerah, berkebalikan 180 derajat ,di depan gue. Andai aja gue masih bisa ngerasain apa yang disebut kecewa, kecewa itu udah numpuk ber-ton ton. Ada keinginan menyapa, ada keinginan bertanya kabar dan berkata kalo sekarang gue udah gak baik baik aja, ada tapi semuanya keinginan itu tak terucap, tercekat di ujung tenggorokan. Masih butuh 5 centimeter perjalanan untuk mengungkapkan semuanya tapi ahh lupakan. Sama seperti jiwa itu yang perlahan lahan sedang berlari melupakan dan membunuh kenangan, jiwa ini juga demikian tak mau kalah, terpaksa.

Dalam putaran angina ini, gue tetap berusaha tegar. Berusaha mencari kehidupan baru yang lebih menjanjikan. Berusaha mencari jiwa gue yang lama yang tercecer entah di mana. Jiwa yang tak pernah mengenal arti dari sebuah kegelisahan, keterpurukkan apalagi rasa sakit. Dalam putaran angin yang terus berputar mencari sebuah kepastian, gue mulai merasa rindu. Rindu akan udara segar dan dunia yang tak pernah memberi perbedaan. Gue rindu kehidupan ‘baik-baik aja’ gue, hidup gue yang datar dengan gue yang santai di dalamnya. Gue rindu dunia yang polos tanpa kepalsuan, tanpa dendam, tanpa rasa bersalah, tanpa awan hitam yang mengkuti langkah gue. Gue rindu, gue kangeeen, sungguh.

You Might Also Like

0 komentar: