1+1 = (rumit)

Jumat, Juni 22, 2012 Atika Nugraheni 0 Comments


1+1= ( rumit )

Pertanyaan pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut itu dan semua orang menjawab dengan begitu mudahnya, semudah menjawab pertanyaan 1+1=2. Kecuali aku. Jika 1+1 bagi mereka menghasilkan angka 2, bagiku 1+1 adalah rumit bukan kepalang. Sama rumitnya dengan operasi limit, trigonometri atau bahan kalkulus. Apa kamu akan berkata bahwa aku terlalu bodoh, oon, goblok? Pertanyaan itu terlalu mudah untuk dijawab bukan? Sayangnya, tidak. Jangan berpikir kalau aku benar benar tidak tahu jawabannya. Aku tahu jawabannya tapi jawaban itu entah dimana. Butuh waktu lama untuk mencarinya di antara tumpukkan sampah di kepala ini, butuh keberanian untuk mengucapkan, membiarkan dunia tahu semua hal yang sudah bertahun tahun tertutup rapat.

“ kamu ingin laki-laki yang seperti apa? “ atau “ kamu ingin wanita yang seperti apa? “

Bukankah itu pertanyaan mudah. Katakan saja ingin yang ganteng/cantik, pengertian, humoris dan kriteria kriteria pasaran lainnya. Dan setelah itu selesai, tidak ada desakkan dari pihak penanya karena rasa penasaran mereka terpuaskan, pertanyaannya terjawab dengan sempurna, plong. Tapi lihat, ketika pertanyaan itu terlontar ke arahku, yang bisa aku lakukan hanyalah diam. Bingung, entah apa yang hendak kukatakan. Dan yang terjadi rasa penasaran itu semakin membuncah, desakkan pun terjadi. Bibirku terkunci rapat serapat rapatnya, linglung. Ada sesuatu yang menghalangi, menutup semua jalan keluar suara. Sementara aku masih diam, mereka masih berusaha mendesak, menanti ada suara yang keluar dari mulut ini. Ujung ujungnya, mereka menyerah karena kekukuhanku, karena tembok yang menghalangi alam pikiranku masih kokoh dan belum berhasil diruntuhkan. Asal tahu saja, ini bukan keinginanku untuk menutup semuanya, bukan. Entah keinginan siapa aku juga masih belum tahu. Yang jelas, itu bukan keinginanku, bukan keinginanku.

Siapa mau peduli? Yang mereka tau hanya aku terlalu tertutup jika aku tidak memuaskan rasa ingin tahu mereka. Mereka benci ketika apa yang telah mereka ungkapkan tidak ada timbal baliknya, feed back=0, aksi tidak sama dengan reaksi. Itu memang benar benar menjengkelkan dan menyulut emosi. Kalian pikir aku tidak merasa demikian? Aku juga lelah, lelah dianggap seperti ini. Aku jengkel ketika aku tidak berhasil mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan, sementara yang lainnya begitu fasih bercerita sefasih membaca Al-Fatihah atau mengucap tasbih. Aku benar benar merasa kalah dengan sesuatu yang ada dalam jiwa ini yang selalu menghalangi semuanya. Lalu mereka berkata bahwa hanya dengan cara sharing seperti ini, semuanya akan terasa lebih mudah, lebih ringan tanpa terkecuali. Aku tahu, hafal malah. Terlalu banyak orang mengatakan hal demikian, di setiap sudut. Kata kata itu sudah seperti slogan ‘Jagalah Kebersihan’ atau ‘Buanglah Sampah Pada Tempatnya’ yang terpaku di mana-mana. Dan tanggapanku terhadap itu semua hanyalah acuh. Terserah.

Diri ini benar benar paham. Mata kalian masih belum bisa menyembunyikan rasa penasaran itu. Aku terlalu misterius. Kalian membenci aku yang seperti ini bukan? Sangat membenci malah. Jangan salahkan aku sepenuhnya. Bukannya semua orang diciptakan berbeda-beda. Kalian tidak mengelak bahwa setiap jiwa memang tercipta berbeda. Tapi, kalian tetap bersikeras semua hal yang membuat aku begitu misterius itu bisa hilang. Aku bisa menjadi pribadi yang begitu berbeda. Sudahlah, mungkin nanti tapi yang jelas bukan sekarang ini. Tetaplah tenggelam dalam rasa penasaran itu, nikmati dulu. Suatu saat aku akan menjawab semuanya meskipun bagiku tidak ada yang perlu dijawab. Aku akan menghilangkan rasa haus akan sebenar benarnya diri ini.

Jangan paksa aku untuk tetap berbicara karena itu akan membuatku semakin enggan, semakin mengurungkan niat untuk mengatakan semuanya, semakin bingung akan berkata apa. Buatlah diri ini nyaman sehingga semuanya akan terucap dengan mudah, mengalir begitu saja tanpa disadari dan tanpa harus diminta. Aku akan sangat berterimakasih jika kalian mampu memahami aku tanpa aku harus berkata panjang lebar ingin ini ingin itu, harus seperti ini harus seperti itu. Dan selama aku masih belum bisa mengatakan semuanya tentang diri ini, aku juga masih berusaha mengubur rasa ingin tahuku yang tumbuh seliar ilalang. Aku membunuh rasa ingin tahuku sendiri, mencoret hal itu dari daftar sifat utama manusia. Sungguh.

Jawaban pertanyaan pertanyaan itu masih belum kutemukan. Ini tak semudah menjawab 1+1=2. Untuk menemukan angka 2, aku harus mengais ngais tumpukkan angka angka yang berserakan, kombinasi dari 10 angka pokok sekaligus. Jika kalian begitu mudahnya menjawab 1+1=2, selamat. Karena 1+1 bagiku sama dengan rumit, pahit. J

You Might Also Like

0 komentar: