Rumit

Jumat, Juni 22, 2012 Atika Nugraheni 0 Comments


Mana yang Rumit?

Ternyata dunia itu rumit. Apalagi bagian dari dunia yang sering kalian sebut sebagai manusia, itu lebih rumit. Padahal manusia itu hanya sebuah benda kecil yang diberi tiupan nyawa oleh Tuhannya. Kemudian manusia itu pun hidup, bergerak, berbicara, berpikir. Itu saja, lalu apa yang membuat rumit? Entahlah, ada bagian dari manusia itu yang sulit dipahami. Dan ketika kita mencoba memahami bagian itu, semuanya menjadi bertambah kompleks seperti tak berujung. Tapi apa salahnya mencoba memahami meskipun ujung ujungnya hanya sebuah kebingungan alias semakin tidak mengerti. Anggap saja itu sensasi hebat sehebat sensasi naik turun di sebuah hysteria.

Jika manusia adalah puzzle, itu berarti manusia tersusun dari berpuluh puluh bahkan beratus ratus bagian kecil puzzle. Kasih sayang, cinta, perhatian, kelembutan, hingga masalah semuanya menyusun hingga terciptalah sebuah susunan puzzle berbentuk manusia. Terlihat kokoh dan hebat ketika semuanya lengkap tapi saat ada satu bagian yang diambil perlahan lahan mulai rapuh, mulai tersingkap. Beberapa ada yang berusaha melepas dan mengobrak abrik susunan itu, ingin menyusun ulang sendiri atau bahkan bersama. Mereka bercerita satu per satu tentang bagian bagian kecil itu. Semuanya diceritakan, diungkapkan dengan mudah semudah menghirup dan menghembuskan napas. Lalu puzzle yang sudah bobrok itu perlahan lahan tersusun dengan sendirinya, lebih kokoh karena semua hal yang akan meruntuhkan sudah dibuang jauh. Dan beberapa lagi ada yang berusaha melindungi puzzle­-nya supaya tidak terjamah, suci, tidak hancur. Sekuat tenaga mereka menolak untuk mengobrak abrik puzzle-nya itu meskipun sana sini sudah menawarkan bantuan untuk mendirikannya kembali. Semuanya semata mata hanya karena mereka ingin membuktikan bahwa dirinya kuat, bahwa hal hal yang mengancam akan merapuhkan bahkan menghancurkan pertahanannya bisa mereka hadapi tanpa harus menyeret berbagai pihak kecuali Tuhan. Berbagai pihak menghujat kekukuhannya, menganggap mereka terlalu memaksakan diri, sok kuat, sok tegar, sok bisa sendiri. Mereka hanya bisa diam dan mendengarkan, acuh tapi sakit, tersenyum tapi pahit. Bukankah mereka hanya sedang berusaha mempertahankan pertahanannya sendiri? Rupanya itu salah. Semuanya ingin dan harus tahu apa yang sedang tersembunyi dibalik susunan puzzle itu, tapi mereka menutup pintu, tak membiarkan ada celah sedikitpun, rapat, solid. Pada akhirnya mereka mulai menyerah, tidak bisa lagi menjelaskan kenapa semuanya bisa serapat ini? Ini bukan salah mereka, jangan salahkan ketidakterbukaannya. Menyelamlah lebih dalam dan temukanlah di dalam diri mereka, ada sesuatu yang menjerat dan menutup sehingga semuanya benar benar sempurna tertutupi. Itulah alasan sebenar benarnya alasan.

Bagian mana lagi yang membuat manusia terlihat rumit? Semuanya. Tentang hidupnya, tentang persahabatannya, tentang cintanya, tentang rasa ingin tahunya yang terlalu jauh, tentang mimpinya dan masih banyak lagi yang akan memperumit. Entah itu benar benar rumit atau hanya ilusi, siapa yang tahu. Kelihatannya rumit, itu saja. Banyak yang berusaha mengulur kerumitan yang sudah seperti benang kusut itu. Meluruskan semuanya supaya jelas. Tetapi ada juga yang tetap diam, tidak memperkusut juga tidak berusaha mengulur. Menganggap semuanya masih baik baik saja dan tak ada yang perlu diperbaiki. Manusia itu berbeda-beda, mungkin itu yang membuat semuanya semakin rumit. Sudahlah, lupakan. Jangan diperumit.

You Might Also Like

0 komentar: