Cerita Aneh

Senin, Mei 07, 2012 Atika Nugraheni 2 Comments


Ternyata Dia...?

Aku melihat sosok itu dari bangku paling belakang di sebuah ruang kelas. Sosok yang teramat kukagumi sejak awal aku melihatnya. Namanya Mas Dito, hanya Dito tanpa embel embel apapun. Singkat, padat, tidak bertele-tele. Aku memanggilnya mas meskipun usiaku dan usianya hanya terpaut satu tahun. Ibuku mengharuskanku memanggil siapapun dengan umur yang lebih tua dengan panggilan mas. Dan nampaknya aku sudah terbiasa dengan aturan ibuku itu. Tapi kalau aku boleh jujur, muka Mas Dito memang terlihat lebih tua dari umur aslinya. Raut wajahnya terkesan seperti menyimpan beban, beban yang mungkin teramat berat dan dalam. Entahlah, mungkin aku yang terlalu berlebihan. Lupakan saja toh Mas Dito sendiri tak pernah mempermasalahkan wajahnya yang ‘tua’ itu.

Aku dan Mas Dito satu kelas. Harusnya Mas Dito adalah kakak kelasku, tapi karena suatu hal dia harus menunggu satu tahun untuk melanjutkan ke SMA. Mungkin, dia sudah ditakdirkan untuk bersama denganku. Aku tidak terlalu dekat dengan Mas Dito. Hubungan kami hanya sebatas teman satu kelas. Aku tahu namanya dan dia juga sebaliknya. Kami saling menyapa saat berpapasan, tersenyum satu sama lain. Hanya itu saja dan tak pernah lebih, sederhana sekali. Bukankah ini hampir sama dengan aku tidak mengenalnya sama sekali? Bukankah lebih baik aku tidak tau apapun tentangnya daripada setengah setangah seperti ini?  Biar saja, aku menikmati. Aku suka meskipun sebenarnya aku ingin menjadi lebih dekat dengan Mas Dito, bukan seperti ini. Tetapi,ada suatu hal di dalam dirinya yang membuatku merasa sungkan kepadanya. Bukan sungkan mungkin, ah entahlah, aku sudah tidak punya kosa kata lagi untuk mengungkapkan apa yang kurasakan.

Ini bukan cinta. Tak terbesit dalam pikiranku untuk mencintai Mas Dito, tak pernah. Aku hanya sebatas mengagumi. Mengagumi dengan sebenar benarnya mengagumi. Sama seperti yang sedang aku lakukan saat ini. Aku mengagumi dalam diam. Mas Dito tampaknya serius sekali mendengarkan materi Pendidikan Kewarganegaraan yang sedang disampaikan Pak Cipto. Padahal menurutku, ini adalah pelajaran paling membosankan yang pernah ada. Sesekali, Mas Dito mengacungkan tangannya. Dia bertanya sekaligus memberikan pandangannya. Gayanya khas, kata kata yang keluar dari mulutnya begitu tertata, emosinya terkontrol dengan baik, tenang dan bagiku itu sempurna. Perfecto. Tidak hanya di pelajaran ini, di semua pelajaran dia juga seperti itu. Selalu kritis, berani, dan pengetahuannya selalu bertingkat tingkat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kami. Dan satu lagi, dia selalu berhasil membuatku  terpesona. Sama seperti sekarang  ini, aku masih terdiam, sibuk mengagumi dan mengucap tasbih. Kenapa ada manusia secerdas ini di hadapanku dan kenapa ada manusia yang hanya mampu mengagumi tanpa berusaha untuk menjadi seperti sosok yang dikagumi? Kekagumanku tak terbendung, malu yang kurasakan juga ikut-ikutan tak terbendung. Tumpah.

Bel sekolahku sudah berdentang empat kali. Itu artinya jam pulang sekolah telah tiba. Kalau saja boleh jujur, motivasi utama untukku tetap berangkat sekolah adalah bel yang berdentang empat kali ini. Dengan kata lain, aku berangkat untuk kembali pulang. Siswa macam apa aku ini? Aku melihat Mas Dito pulang sendirian. Dia memang selalu sendirian. Bukan karena dia tidak punya teman, teman Mas Dito banyak bahkan lebih banyak dari temanku. Tapi karena dia memegang teguh prinsipnya ‘ Kita harus terbiasa sendiri. Bukankah suatu saat nanti kita juga akan sendiri? ‘. Kami berpapasan di gerbang sekolah. Mau tak mau aku harus menyapanya. Aku mengatur nada bicaraku supaya terdengar biasa biasa saja dan menyembunyikan rasa kagumku yang terlalu besar itu ke dalam ruangan rahasia di dalam hatiku.

“ Hai  Mas Dito ? “ aku menepuk punggungnya keras keras dari  belakang dan ternyata itu cukup sukses untuk membuat Mas dito kaget.
“ Eh hai juga Mba, bikin kaget aja kamu ih “, Mas Dito masih terlihat kaget.
“ Kenapa manggilnya Mba si? Adek dong harusnya. Tumben banget mas udah pulang, biasanya kan sibuk tuh? “
“ Iya iya, nggak usah ngambek gitu deh. Iya nih Gina, sekali kali kan pengen istirahat juga. “
“ hehe.. oh gitu. Kalo gitu aku duluan ya Mas, udah dijemput ibu soalnya. Dadaah Mas Ditoo.. “
“ Iya hati hati Gina.. “
Kami tersenyum, kami menyapa, kami bicara dan setelah itu kami sendiri lagi, sama sama sendiri. Aku sendiri, Mas Dito juga. Berjalan saling menjauhi, berjalan di atas buminya masing masing.

***
Aku benar-benar tergesa-gesa. Hari ini aku ada ulangan harian dan pastinya aku belum belajar sedikitpun. Memang biasanya seperti itu dan akan tetap seperti itu. Bagiku, ulangan tanpa belajar sama sekali adalah sebuah sensasi yang hebat, sensasi menyenangkan. Pada saat otak kita dipaksa untuk berpikir, di saat itulah sensasi hebat itu kita dapatkan. Sudahlah, aku yakin kalian tidak akan mengerti apa yang disebut “sensasi hebat” menurutku itu. Aku sudah gila sepertinya. Langkah kaki ini sebisa mungkin aku percepat. Aku bukannya takut terlambat. Aku hanya takut kena sial yaitu duduk di bangku paling depan, di depan guru persis. Pada saat musim ulangan, teman temanku pasti berangkat lebih pagi dari biasanya supaya bisa memilih posisi duduk paling strategis. Sialan memang, tapi mau bagaimana lagi? Dan sebagai orang yang hampir setiap hari berangkat terlambat, aku harus siap menduduki kursi panas. Untuk pelajaran lain aku tak menjadi masalah,tapi jangan untuk matematika.

Sampai di kelas, aku bisa sedikit bernapas lega. Masih banyak bangku kosong dan aku bisa memilih sesukaku. Aku duduk di samping Yola, teman sekelasku yang paling dekat denganku. Sambil membuka buka materi ulangan, sesekali aku berbicara kepada Yola untuk membantuku ( baca : nyontek )ketika aku kurang bisa mengerjakan.

“ Yola, tolongin aku ntar ya. Kamu duduknya deketan deh. Jangan ditutupin loh ya pokoknya “
“ Iya iya, nggak usah lebay gitu deh. Selow aja kali Gin. “
“ Makasih banget ya cantik.”

Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi. Aku masih saja membaca-baca catatanku, selagi sempat. Meskipun percuma tetapi tak apa, paling tidak ada sedikit usaha. Bu Esti sudah datang dengan segepok soal di tangannya. Matematika, aaaah tamatlah aku. Tapi, sepertinya ada yang kurang dari kelas ini. Oh iya, mana Mas Dito? Tumben sekali dia belum menampakkan diri. Biasanya dia kan selalu datang paling pagi, apalagi kalau musim ulangan seperti ini. Ah, siapa peduli. Bukankah ulangan matematika lebih penting dari hadirnya Mas Dito? Lagian Mas Dito kan orangnya pinter, jadi apa susahnya matematika buat dia? Lima menit saja pasti sudah selesai tanpa harus tengok kanan kiri seperti aku.

Soal dibagikan. Sudah kuduga, aku tidak mengerti semuanya. Sialan. Rumus mana yang akan kupakai aku juga tidak tahu. Lalu bagaimana aku bisa menyelesaikan sepuluh soal esai ini? Yola? Tidak, lebih baik aku mengerjakan sendiri meskipun hasilnya sudah pasti Sebenarnya aku resah, hampir menyerah. Tapi disitulah letak sensasi hebatnya, benar benar hebat kupikir. Sudah 15 menit berlalu, lembar jawabnya masih suci. Pikiranku tertuju kepada Mas Dito. Kenapa dia belum datang? Baru saja aku berpikir begitu, aku melihat Mas Dito berlari masuk ruang kelas. Keringatnya bercucuran, nafasnya tersengal saking lelahnya, tapi mukanya tetap terlihat ‘tua’. Setelah dia meminta maaf kepada Bu Esti akan keterlambatannya, dia langsung mengambil tempat duduk dan bersiap mengerjakan soalnya. Dia duduk di depanku persis. Tuhan, jangan biarkan Mas Dito melihat pekerjaanku yang masih kosong ini. Mau ditaruh mana mukaku ini ketika Mas Dito tahu kenyataan yang sebenarnya bahwa aku benar benar parah di pelajaran matematika. Tuhan mengabulkan doa pendekku tadi. Ya Tuhan mengabulkan, itu tandanya Tuhan masih ada di dekatku untuk mendengarkan doa doaku. Karena itu aku cepat cepat berdoa lagi ‘ Tuhan, berikanlah aku jawaban matematika ‘. Tuhan juga menjawab doaku yang satu ini, hanya saja jawabannya adalah ‘TIDAK’ tanpa terkecuali.

Dari belakang aku melihat pulpen Mas Dito terus bergerak tanpa hambatan, lancar. Hebat benar makhluk Tuhan yang satu ini. Tidak ada waktu untuk mengagumi Mas Dito. Lain kali saja, masih banyak waktu. Fokuslah dulu dengan soal ulangannya. Aku juga menggerakkan pulpenku, sebisanya. Tersendat sendat pada awalnya tapi perlahan lahan lancar. Lancar ngarangnya lebih tepatnya. Peduli apa, yang penting kan selesai terlepas dari benar atau salahnya. Mas Dito selesai lebih dulu, paling awal di antara kami meskipun dia mulai paling akhir. Brengsek sekali. Makan apa sih dia ?

Aku kesal setengah mati. Ujung ujungnya mengeluh lagi, mengeluh lagi. Kucari Mas Dito, tidak ketemu. Kemana lagi dia? Ternyata dia sedang duduk di depan kelas. Membaca buku tebal, entah apa judulnya. Ya Tuhaan, tidak pusingkah dia membaca buku setebal itu setelah ulangan matematika? Aku mendekatinya, lebih tepatnya mendekati untuk sekadar menyapa.

“ Wuiih, baca buku apaan tuh Mas? Tebel amat. Kalo aku pasti udah pusing banget tuh “
Cara bicaraku ke Mas Dito memang seperti itu. Sok akrab, seolah olah hubungan kami sangat dekat meskipun sebenarnya biasa-biasa saja.
“ Apaan si Mba, cuma buku biasa kok. Mau ikutan baca juga? “ Mas Dito menawariku untuk ikut membaca bukunya.
“ Tuh kan manggilnya Mba lagi. Gak mau ah. Bisa gila mendadak aku baca buku kayak gituan “
“ Ya udah, panggilnya Mba cantik aja gimana?”
“ Aku juga mau manggil Mas Subhanalloh ah “, aku menjawab asal

Mas Dito hanya tertawa mendengar ucapan ngawurku. Aku berlalu meninggalkan Mas Dito dengan buku tebalnya. Rasa kagum itu perlahan lahan akan menjadi aneh,sungkan,risih dan lama kelamaan hambar ketika aku terlalu lama dekat dengan Mas Dito. Mungkin gara-gara Mas Dito adalah tipikal orang yang kaku, orang yang terlalu serius menghadapi dunia, topic bicaranya berat, politik lah, teknologi lah, sains lah. Karena itu aku menjadi kurang betah kalau di dekatnya. Aah, aku saja yang bodoh, wawasanku limit. Mana nyambung omonganku dengan omongan Mas Dito? Yang aku tahu kan hanya Manga, bukan politik bukan teknologi apalagi sains. Tapi lepas dari itu semua, aku masih mengagumimu Mas, dalam diam pastinya.
***

Waktu istirahat biasanya aku gunakan untuk pergi ke perpustakaan sekolah. Hanya sekadar membaca Koran atau hotspotan. Dengan ditemani temaku, kali ini aku tenggelam di balik layar notebook. Sibuk searching, searching apa saja. Hal yang satu ini adalah favoritku, cukuplah untuk membuatku merasa mempunyai dunia sendiri. Beberapa saat kemudian, lagi lagi aku melihat Mas Dito. Sendirian, seperti biasanya. Mengambil Koran lalu duduk di depanku. Kali ini kami hanya mengurai senyum. Setelah itu sibuk lagi dengan dunianya masing masing. Mas Dito membaca Koran dan aku asyik membalas mentions sambil retweet kanan kiri. Biasalah, namanya juga ababil. Twitter harus eksis terus meskipun sibuk sekolah.

Sesekali aku melirik ke arah Mas Dito. Ya Tuhan, dia tertidur. Mukanya terlihat benar benar lelah. Aku beru pertama kali melihatnya sampai seperti ini. Memang aku sering melihat mukanya kelelahan, seperti habis begadang semalaman tapi tidak sampai tertidur.
“ Yola, liat tuh Mas Dito. Tidur. Kok bisa ya orang kayak dia ngantuk? “
“ Buseet, ini beneran Dito? Masa sih sampe ketiduran gitu. Gak mungkin ih.”

Aku perhatikan mukanya sekali lagi, siapa tahu bukan Mas Dito. Tapi itu memang Mas Dito. Tidak salah lagi. Aku mendengar deru nafasnya yang berat, seperti memendam beban. Mukanya lusuh sekali. Sepertinya memang butuh tidur lama. Aku melanjutkan aktivitasku yang tadi tertunda. Lagian apa salahnya si orang tidur? Semua orang kan sah-sah saja memejamkan matanya, Tuhan juga tidak melarang. Dan untuk yang terakhir kalinya aku melihatnya lagi. Sebentar, kenapa di pelupuk matanya ada warna coklat keemasan? Apa itu? Seperti bekas eye shadow yang belum terhapus sempurna. Tipis, dari jauh memang tersamarkan. Tapi kali ini aku melihatnya dari jarak dekat dan aku yakin mataku ini belum rabun, lebih tepatnya belum terlalu rabun. Aku memang bukan orang yang tahu make-up. Jangankan eye shadow, lipstick yang merupakan hal yang teramat biasa bagi seorang perempuan di masa-masa remaja pun aku tak pernah punya apalagi memakainya. Dengan alasan ini, aku bisa menipu diriku sendiri bahwa apa yang kulihat di mata Mas Dito itu hanya salah lihat. Ya, hanya salah lihat. Aku berusaha meyakinkan diriku meskipun keyakinan ini membuat rasa penasaranku menjadi beribu-ribu kali lipat. 
***

Sampai detik ini, isi kepalaku hanya dipenuhi Mas Dito,Mas Dito dan Mas Dito, dengan bekas eye shadow tipis di pelupuk matanya tentu saja. Aku benar-benar tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Yola? Mana mungkin aku bercerita kepadanya, mulutnya kan seperti ibu-ibu arisan. Takutnya akan terjadi gossip-gosip yang akan merusak namanya. Pikiranku terbang kemana-mana, mengira-ngira hal yang tidak tidak. Jangan jangan Mas Dito adalah ………….

“ Gina, jalannya yang bener dong. Jangan nglamun gitu. “ , seseorang mengagetkanku
“ Hah, iya. Eh, Mas Dito, ngagetin aja. Udah dari tadi mas? “, pertanyaanku ngawur
“ Iya, aku dibelakangmu dari tadi Gina. Habisnya aku perhatiin kamu jalannya sambil ngelamun gitu, takutnya ada apa-apa. “
“ Oh, masa aku ngelamun sih mas? Tapi makasih ya mas. “
“ Kamu gak apa apa kan Gin? “
“ hehe, nggak apa apa kok mas. Cuma lagi galau aja gara-gara ulangan matematika nggak bisa ngerjain “
“ Udah ah nggak usah dipikirin. Ya udah aku tinggal dulu ya. Buru-buru nih soalnya.”
Aku hanya terdiam, tidak seperti biasanya yang selalu menyambut riang apa saja yang diucapkan Mas Dito. Terbesit keinginan untuk mengikuti Mas Dito kemana pun dia pergi tapi kesannya aku lancang sekali. Sudahlah, aku lelah, aku ingin pulang.

***
Ini malam Minggu, maksudku Sabtu malam. Tahu kan kenapa aku menyebutnya Sabtu malam? Semoga saja tahu karena aku sudah malas menjelaskannya, muak. Dan satu-satunya hal yang membuatku merasa bahagia di Sabtu malam ini adalah melihat lampu-lampu kota dari atas bukit, bukit belakang sekolahku.Aku sering kesana, sudah tak terhitung lagi berapa kali. Aku sama sekali tak bosan, aku suka. Karena setiap kali aku menginjakkan kaki disana dan melihat cahaya kecil kecil itu, rasanya damai sekali, tenang.

Malam ini aku juga pergi kesana, sendirian saja. Tapi kali ini aku tidak lama. Hanya melihat kerlipan lampu-lampu itu kemudian aku pergi lagi. Dengan menggunakan motor kesayanganku, aku berkeliling kota kecilku ini. Aku sudah minta izin ke ibu kalau Sabtu ini aku memang akan pulang malam, belajar kelompok di rumah Yola alasannya. Lagi lagi berbohong. Ya mau bagaimana lagi, hanya itu satu satunya alasan yang bisa membuatku keluar malam. Aku tidak menyadari kalau jarak yang kutempuh sudah cukup jauh. Setelah menengok kanan-kiri ternyata ini adalah daerah rumahnya Mas Dito. Sialan, kenapa aku bisa sejauh ini? Setauku, rumah Mas Dito itu paling jauh di antara teman teman sekelasku. Ah, sudah terlanjur basah, menyelam saja sekalian. Karena itu, aku berniat untuk mampir ke rumah Mas Dito. Lagian ini kan masih jam 7 malam, kupikir itu masih sopan untuk sekadar bertamu.
Ada sedikit rasa kurang yakin apakah ini rumah Mas Dito atau bukan. Setahuku sejak kami satu kelas setengah tahun yang lalu, belum ada satu orang pun yang tahu di mana rumahnya. Mas Dito hanya memberi tahu nama daerahnya saja, itupun atas hasil paksaan teman teman. Kalau boleh jujur, sepulang sekolah sekitar dua bulan yang lalu aku diam-diam mengikuti Mas Dito pulang. Dan inilah hasilnya, aku tahu rumahnya meskipun lupa lupa ingat.

Kakiku kupaksa untuk melangkah menuju depan pintu dan kupaksakan tanganku untuk mengetuk pintunya

“ Assala…..mu…..a “, salam yang kuucapan perlahan lahan melemah hingga akhirnya tak terdengar.

Di dalamnya kudengar orang yang sedang marah marah. Jelas sekali suaranya. Jelas.

“ Lo itu emang adek yang gak tau diuntung ya. Tiap hari itu gue kerja banting tulang buat ngebiayain sekolah lo, sekolah gue. Tapi lo malah gitu. Nilai apaan ini? “
“ Maaf kak, maafin Dion kak “, kata Dion sambil terisak.
“ Pokoknya gue nggak mau tau, besok-besok nggak boleh kayak gini lagi. Ngerti lo?”
“ Iya kak, Dion janji nggak bakalan ngecewain kakak lagi. Dion janji. “, tangisnya benar benar pecah kali ini.

Air mataku juga ikut-ikutan tumpah, tak terbendung . Aku yakin dan benar benar yakin kalau itu memang suara Mas Dito. Ya ampun, kenapa dia menjadi sekasar itu? Kenapa Mas Dito yang ini berbeda 180 derajat dari Mas Dito yang aku kenal? Air mata ini semakin deras. Rasanya aku masih belum percaya, masih ragu. Lagi lagi aku berusaha untuk membohongi diriku sendiri bahwa yang kudengar tadi itu bukan suara Mas Dito. Mas Dito itu baik, Mas Dito sempurna, dan Mas Dito….

“ Gue mau pergi dulu. Baik baik lo di rumah, belajar yang bener. Jangan sampe lo ngecewain gue lagi kayak tadi. Dan kalo lo gak mau gue anggep sebagai adek yang brengsek dan nggak tau diuntung, pas gue pulang pokoknya rumah ini harus udah bersih. Paham lo?”

Aku ingin tetap pada keyakinanku kalau Mas Dito itu adalah sosok yang sempurna tetapi keyakinanku perlahan lahan runtuh. Kenyataan ini meruntuhkan semuanya. Aku tersadar dari lamunanku. Kuusap air mataku sebisanya dan aku segera beranjak pergi dari depan pintu rumah Mas Dito. Jangan sampai Mas Dito melihatku ada di sini. Lalu aku berdiri di balik pohon manga yang ada di dekat dekat situ supaya sosokku tersamarkan. Yang kupikirkan saat ini hanya satu, aku ingin mengikuti Mas Dito pergi, diam-diam.
***
Mas Dito keluar dari rumahnya. Itu benar benar Mas Dito. Dia membawa ransel besar. Entah itu apa isinya aku juga tak tau. Tatapan matanya dingin, tidak seperti yang biasanya kulihat. Dia mengambil motor bututnya dan mengendarai dengan tergesa gesa. Seperti mengejar sesuatu. Aku melirik jam tanganku, baru jam 8 malam. Ah, tak apalah kalau aku pulang sedikit lebih larut. Buru buru aku menaiki motorku, ikut ikutan ngebut. Aku benar benar tak tahu kemana Mas Dito akan pergi. Daerah yang kulewati ini benar benar asing, sangat asing. Laju motor Mas Dito menjadi pelan. Aku sedikit khawatir apakah dia mengetahui kalau ada orang yang mengikutinya? Tapi ternyata, dia memelankan laju motornya karena dia ingin berhenti. Aku juga ikut-ikutan berhenti. Jarakku dengannya lumayan jauh jadi kupikir dia tidak menyadari keberadaanku. Dia berhenti di sebuah rumah tua. Dan dia masuk ke rumah itu. Otak ini tak henti hentinya bertanya tentang rumah siapakan itu? mau apa Mas Dito masuk ke rumah itu?

Aku menunggu lama sekali. kutengok jam tanganku dan ternyata sudah hampir jam sepuluh malam. Hampir dua jam aku menunggunya. Handphone-ku berkali kali bordering, ibuku menelpon. Kudiamkan saja. Lalu beberapa saat kemudian aku mengirim sms ke ibu kalau tugasku masih banyak dan kemungkinan akan menginap di rumah Yola saja. Aku berbohong untuk yang kesekian kalinya. Perhatianku kembali tertuju ke rumah tua itu. Menunggu Mas Dito keluar. Sekarang sudah jam sepuluh malam, jam sepuluh tepat. Aku melihat ada seseorang yang keluar dari rumah itu. Tapi itu bukan Mas Dito, itu seorang wanita. Cantik, tapi terlihat sudah agak tua. Wanita itu mengenakan gaun merah selutut. Rambutnya panjang, kakinya jenjang. High heels merah yang dipakainya membuatnya terlihat semakin cantik. Tas yang dibawanya juga merah. Benar benar serasi, matching kalau kata orang jaman sekarang. Siapa dia?

Hal yang paling tidak aku sangka adalah dia mengambil motor Mas Dito, mengendarainya. Ya Tuhan, apa yang baru saja kulihat itu adalah Mas Dito? Aku mengambil motorku dan aku membuntutinya. Konsentrasiku buyar, hampir saja tadi aku menabrak orang yang hendak menyebrang. Air mataku tumpah lagi. Aku tak peduli. Motor butut itu berhenti di sebuah tempat pelacuran. Wanita wanita malam berjejeran di pinggir jalan. Mengenakan gaun yang mengundang. Menawakan dirinya kepada siapa saja. Tak hanya wanita, waria juga banyak. Bergerombol di sisi lain, tak kalah cantik dan seksi dari wanita yang sebenarnya. Wanita yang kuduga adalah Mas Dito ini tiba tiba muncul dan bergabung dengan waria lainnya. Sayup sayup kudengar pembicaraan mereka.

“ haii Dito, eh maksud eke Dinda. Udah selese ngerjain PR-nya hah? Uuh, unyu unyu banget deh kamyu”
“ iye iye, eke tau kalo di sini eke masih pemula di sini, tapi nggak usah digodain terus gitu dong”
“ iih ngambek “, goda si waria itu.

Waria itu memanggil wanita yang kulihat tadi itu dengan nama Dito. Jadi itu benar benar Mas Dito. Tidak mungkin, tidak mungkin. Mas Dito yang teman sekelasku tidak mungkin melakukan hal serendah ini. Mas Dito yang kukenal bukan waria, bukan banci. BUKAAN. Aku masih terima kalau Mas Dito adalah pribadi yang kasar, tapi aku tidak menyangka kalau Mas Dito bisa melakukan hal bejad macam ini.
***
Aku melihat mereka dari jauh sambil terisak. Bodohnya aku berdiri di tempat yang masih bisa dijangkau oleh mata mereka dan aku tidak menyadarinya. Kan sudah kubilang, aku sedang kacau. Pikiranku benar benar kacau. Mungkin kalau ada orang yang bertanya siapa namaku, aku sudah lupa gara gara saking kacaunya. Tak kusangka, salah satu dari waria waria itu ada yang menghampiriku. Memakai gaun warna merah selutut dan setelah kuamati ternyata dia adalah waria yang dipanggil dengan nama Dito oleh waria yang lain. Waria yang tadi kulihat. Berarti itu adalah……..

Tak sempat aku berpikir siapa dia, yang jelas aku langsung berlari sekencang-kencangnya. Takut. Motorku kutinggal, aku tak peduli dan lebih tepatnya aku lupa.

“ Ginaaaaa, jangan lari Gin. Ginaaaa… “
Suara itu sangat familiar, suara Mas Dito. Aku diam saja. Aku tetap berlari.
“ Ginaaaaaaa.. Gue bilang berhenti Gin. “

Apa? Gue? bukannya biasanya ‘aku’. Aku masih berlari meskipun kecepatanku menurun drastis tapi aku menyerah juga. Aku berhenti karena kakiku tak kuat lagi, benar benar tak sanggup meskipun aku ingin tetap berlari. Sial, rupanya aku tak ada bakat untuk menjadi pelari handal.  Mas Dito ada di belakangku sekarang, tentunya dengan dandanan yang sama sekali lain. Aku tak bisa menghindar lagi, ah brengsek.

“ Mas Dito? “
“ Ngapain lo di sini Gin. Ini bukan tempat yang baik buat lo. Lo pulang aja sana, jangan di sini Gin “
“ Harusnya aku yang bilang kayak gitu ke Mas Dito. KENAPA MAS DITO DI TEMPAT BEJAT KAYAK GINI HAAH?”

Kali ini aku tak bisa mengontrol emosi. Aku benar benar kecewa, sangat kecewa. Suaraku bergetar. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku, menyusahkanku untuk meluapkan emosiku. Tapi aku tetap nekat bicara, sebisa-bisanya.

“ aku bener bener nggak nyangka Mas Dito ngelakuin hal ini. aku sama sekali nggak nyangka mas. Kalo Mas Dito butuh uang buat biaya sekolah Mas sama adek Mas, kenapa nggak kerja di tempat lain? “

Mas Dito terdiam, tertunduk lama sekali.

“ kenapa Mas diem aja? kenapa mas nggak jawab pertanyaanku hah?”
“ Oke, gue akuin kalo gue salah. Asal lo tau, gue terpaksa ngelakuin ini, GUE TERPAKSA. Manusia mana yang mau ngelakuin hal menjijikan macam ini Gin? Nggak ada yang mau. Tapi kondisi, kondisi yang maksa gue ngelakuin hal ini. Apa menurut lo gue nggak pernah nyoba pekerjaan lain yang lebih mulia daripada ini? Gue pernah Gin, segala macam pekerjaan udah gue coba. Tiap gue pulang sekolah gue langsung kerja Gin. Dan apa yang gue dapet? Gue cuman dapet capek, gue nggak dapet duit banyak sementara gue harus ngebiayain sekolah adek gue. Gue cuman hidup berdua sama adek gue Gin. Nyokap gue meninggal dua tahun yang lalu dan bokap gue entah kemana. Setelah nyokap gue meninggal, bokap gue ninggalin kita berdua.”

Mas Dito meneteskan sedikit air matanya, terbawa emosi. Tapi setelah itu mengusapnya dan berusaha untuk tetap kuat. Sementara aku diam saja. Merasa bersalah menuduh hal yang tidak tidak kepadanya.

“ Gue harus berjuang buat tetap hidup Gin. Masalahnya gue nggak cuman sendiri, gue punya tanggungan lain yaitu adek gue. Kalo aja gue sendiri, gue lebih milih mati daripada terjebak dalam keadaan kayak gini. Tapi gue punya adek Gi, dan gue bener bener sayang sama dia. Dia adalah alasan buat gue tetep hidup. “

“ Kalo Mas Dito sayang sama adek Mas Dito, kenapa tadi aku denger Mas Dito marah marah ke adek Mas Dito? Kenapa? “
“ Itu karena gue sayang sama dia Gina. Gue pengen adek gue jadi orang yang lebih baik dari gue, lebih pinter dari gue dan lebih segala-galanya dari gue. Gue pengen adek gue nggak jadi orang brengsek macem kakaknya. Pergi malem hari,pulang pagi. Gue nggak pengen adek gue sampe gitu.  “
“Oiya, gue pernah bilang ke lo kalo gue berhenti sekolah selama setahun sebelum gue akhirnya ngenjutin ke SMA. Tapi itu sebenernya bohong Gin. Gue itu seharusnya udah duduk di kelas 3 SMA. Maaf ya gue udah ngebohongi lo, ngebohongin semuanya.“

Sekarang aku memahami benar bahwa posisi Mas Dito itu sulit, serba salah. Mungkin jika aku jadi dia, aku sudah tidak sanggup. Kami berdua sama sama diam. Kami terduduk di pinggir jalan, untung saja jalannya tidak ramai. Sejak tadi hanya ada beberapa mobil yang lewat.

“ Gina, lo mau janji sesuatu sama gue kan?” kata Mas Dito
“ Janji apaan mas?”
“ Gue minta lo jangan kasih tau siapapun soal hal ini. SIAPAPUN. Janji gin?”
“ Janji Mas, Gina janji gak akan ngomong ke siapapun “
“ makasih banget ya Gin. Semoga aja lo bisa gue percaya. “

Ada sesuatu yang masih membuatku penasaran hingga saat ini. Jika tadi Mas Dito bilang kalau dirinya sering pulang pagi, lalu kapan Mas Dito belajar? Kenapa dia tak pernah kesusahan mengikuti semua pelajaran yang ada, jangankan kesusahan justru dialah yang menjadi paling pintar diantara semuanya. Kuberanikan diri untuk bertanya, itung itung ini untuk mengurangi rasa penasaranku terhadap kemisterusan Mas Dito.

“ Mas, kalo mas dito itu pulangnya pagi, kapan mas dito belajar? Kenapa Mas DIto bisa sepandai itu?”

Mas Dito tertawa. Apa ada yang salah dari pertanyaanku?

“ Sebelum gue berangkat kesini, gue itu belajar dulu di rumah. Kalo sempet ya pagi-pagi baca buku lagi. Cuman itu kok. “
“ mmmm, aku boleh tanya sesuatu nggak Mas?”
“ boleh boleh, tanya aja Gin. “
“ Mmmm, sampe kapan Mas Dito mau ngejalanin profesi ini? Mas dito nggak mau cari kerjaan lain apa? Gina bantuin cari kerja yaa Mas, biar Gina bilang ke bapak Gina suruh nyariin kerja buat Mas Dito. Mas Dito kan pinter, sayang banget kalo Mas Dito malah jadi kayak gini.”
“ sampe kapan? Gue nggak tau Gin, mungkin sampe Tuhan ngambil nyawa gue kali. Makasih banget tawarannya, tapi gue nggak mau ngerepotin orang. “
Aku sungguh tidak mampu melihat keadaannya yang seperti ini. Orang sepintar dia harus menjalani nasib yang seperti ini? Ya Tuhan, kejam sekali dunia ini. Aku harus berusaha membantunya meskipun bantuanku tak berpengaruh banyak pada kehidupannya. Harus.
***
“ Gina, mendingan lo pulang deh. Ini udah hampir jam 12 malem. Nggak baik kali cewek keliaran di luar malem malem gini. “
“ hah, ini udah jam 12 ya mas. Mampus, semoga aja Yola masih bisa dibangunin. Ayo anterin aku ambil motor Mas! “

Mas Dito menemaniku mengambil motor yang entah aku tinggal di mana. Ternyata motorku ada di tengah jalan yang sepi karena setauku itu adalah jalan alternative untuk mencapai tempat pelacuran itu. Untung saja tidak hilang, jadinya kan aku masih bisa pulang. Mas Dito mengantarkanku hingga jalan biasa, yang masih agak ramai. Disitu aku mendengar teriakan dari waria waria lain.

“ cieeee Dinda, sekarang mainnya sama yang ABG ABG nih. Eke dilupain deh jadinya “

Yang semacam itulah. Aku si tidak peduli. Cuek saja aku dengan semua itu. Lagi lagi Mas Dito memintaku untuk menjaga rahasianya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Gas motorku sudah kunyalakan, tinggal bergegas pulang. Tapi mendadak semuanya berhamburan keluar, semuanya. Aku tidak mengerti ada apa ini sebenarnya. Mas Dito memintaku untuk pergi dan dia pun ikut ikutan berlari.

“ Gina, cepetan lo pergi. Cepetan !!! “ teriak Mas Dito

Setelah beberapa saat ternyata aku tau kalau sekarang ini ada razia mendadak. Pantas saja semua orang sibuk melarikan diri. Aku tetap saja diam di tempat. Kenapa harus panik, aku kan tidak salah apa apa. Aku juga bukan bagian dari wanita wanita penghibur itu. Seharusnya petugas kan bisa membedakan mana yang pelacur mana yang bukan.

“ GINA, CEPETAN PERGI. SATPOL-PP ITU NGGAK PEDULI SAMA APAPUN GIN. PERGI GINA !!! “

Nampaknya Mas Dito tidak sabar melihat kelakuanku. Dia yang sudah cukup jauh meninggalkanku pun akhirnya memutuskan untuk kembali. Dia lalu mengambil alih motorku , memintaku untuk mundur dan berusaha untuk ngebut. Sialnya,baru beberapa puluh meter motor itu melaju, di depan kami sudah ada empat orang petugas yang menghadang kami sementara berpuluh puluh petugas lainnya mengamankan yang tertangkap, menggiringnya ke mobil. Aku benar benar deg-degan. Aku tidak tau harus bagaimana lagi.

“ hey kamu, cepat naik ke mobil, kamu juga ! “ petugas itu mengacung-acungkan tangannya ke muka kami.
“ bawa aja gue, nggak usah bawa bawa cewek ini. Dia nggak tau apa apa. “
“ nggak bisa, pokoknya kalian berdua harus ikut “ petugas itu ngeyel.
“ Udah, tangkep gue aja. Cewek ini biarin aja bebas, dia sama sekali nggak bersalah “

Petugas itu menarik tanganku, memaksaku turun dari motor. Sakit sekali rasanya. Aku berusaha melepaskan diri sebisaku, memberontak semampuku. Tapi tenaga petugas itu lebih kuat dari tenagaku. Dan usahaku pun benar benar sia sia. Mas Dito berusah membantuku dengan cara memukul petugas itu dari belakang. Tapi petugas yang lainnya pun turut serta memukuli Mas Dito sementara yang satunya memegangi kedua tanganku.

“ Lepasin gue, lepasin gue “, aku berteriak seperti kesetanan

Tanpa aku sadari aku menyikut mukanya dan menggigit tangannya. Kali ini sukses, aku segera mengambil helm yang masih menyangkut di motorku dan menghantamkannya pada salah satu petugas yang sedang memukuli Mas Dito. Alhasil perhatian petugas petugas brengsek itu pun beralih kepadaku. Mereka mengepungku sementara Mas Dito terbujur dengan wajah yang babak belur, make up yang rusak, gaun yang robek sana sini dan rambut palsu yang sudah terlempar jauh.

“ Mau apa lo hah? Berani maju satu langkah, gue telpon polisi nih “, kataku sedikit mengancam
“ anak kecil nggak usah sok berani deh. kita berempat, sementara lo Cuma sendirian. Temen lo yang banci itu udah berhasil gue abisin. Terus, mau apa lo sekarang hah?”

Kakiku gemetar. Aku sangat takut. Tuhan, tolong aku, tolong selamatkan aku dari manusia manusia bangsat ini Tuhan. Aku melirik kea rah Mas Dito, dia berusaha bangkit rupanya. Tapi aku diam saja dan aku kembali waspada.

Salah seorang petugas berusaha menangkapku lagi. Aku berhasil menghindar dan kembali mencoba menghantamkan helm-ku kea rah mereka. Mereka semakin beringas, semakin ganas. Tenagaku mulai terkuras dan sebentar lagi habis. Napasku sudah tersengal sengal. Mereka mengejarku lagi, kali ini mereka mencoba untuk memukulku dan pukulannya mengenai pelipisku padahal sebisa mungkin aku sudah menghindar. Sakit, aku tidak sanggup lagi, siapapun tolong aku. Tiba tiba Mas Dito sudah bangkit dan kembali memukul mereka. Kali ini lebih kuat meskipun mukanya sudah babak belur. Mas Dito mengamuk. Petugar petugas itupun satu per satu tumbang. Tapi aku tidak tahu lagi bagaimana kelanjutannya. Aku pingsan.
***
Saat aku tersadar , aku sudah terbaring di rumah sakit. Perban sudah menempel di sana sini.
“ Mas Dito, Mas Dito mana Mas Dito?”
“ Siapa Mas Dito, nggak ada yang namanya Dito di sini Gina “
“ lhoh, kenapa ibu bisa ada di sini? Siapa yang membawaku ke sini bu? Siapa?”
“ Tadi ibu tiba tiba ditelpon sama rumah sakit, katanya kamu kecelakaan “
Aku tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan ibuku. Yang kukhawatirkan kali ini hanyalah bagaimana keadaan Mas Dito sekarang ini? Di mana dia sekarang? Apa dia sudah dibawa petugas petugas sialan itu?
Sampai aku keluar dari rumah sakit, sampai luka luka di pelipisku mongering, sampai aku masuk sekolah lagi pun aku belum mengetahui keadaan Mas Dito. Mas Dito seperti hilang begitu saja, lenyap. Setiap hari kerjaanku hanya memikirkan Mas Dito. Merasakan kehilangan yang luar biasa. 
Satu mingguku, dua mingguku, satu bulanku, dua bulanku, tiga bulanku berlalu tanpa adanya Mas Dito, benar benar tak ada kabar sedikitpun. Misterius maksimal. Aku mulai terbiasa sebenarnya. Aku bahkan mulai lupa meskipun tidak bisa sepenuhnya. Hingga pada suatu hari, ada seseorang yang mengirimkan surat kepadaku. Katanya itu titipan dari Mas Dito.

Gina,
Ada banyak hal yang terjadi setelah lo pingsan malem itu. Banyak banget Gin. Dan hal hal itulah yang ngebikin gue memilih untuk menghilang dari kehidupan ini. Sekarang gue ada di suatu tempat yang bener-bener gue pengen. Disini gue bahagia Gin, lo nggak usah khawatirin gue.
Maaf kalo selama ini gue nggak pernah ngabarin lo Gin. Maaf kalo gue tiba tiba ilang. Maaf juga kalo malem itu gue nggak bisa ngelindungin lo. Maaf banget Gin.
Lupain gue Gin. LUPAIN. Dan satu lagi, nggak usah nyari tau keberadaan gue kayak yang pernah lo lakuin dulu.. Sekali lagi, MAAFIN GUE GIN.

You Might Also Like

2 komentar:

  1. Ceritanya bagus bngt, memang hidup itu selalu ga adil dan ga seperti yg kita inginkan tapi dengan berusaha mungkin apa yg kita inginkan bisa terwujud, ini kali ya pesan hidup yg bisa kita petik dari cerita ini. Btw ini kisah nyata bukan? Kalo iya saya penasaran sama keadaan mas dito sekarang!
    Dan menurut saya km berbakat jadi penulis.

    BalasHapus
  2. terimakasih udah mau baca.. :)
    bukan kisah nyata kok, cuma fiktif.. hho

    BalasHapus