Sebuah Fenomena

Rabu, November 28, 2012 Atika Nugraheni 1 Comments


Sebuah Fenomena

When the sale come first
And the truth come second
Just stop for a minute and smile
( Price Tag – Jessie J  feat B.O.B )




Tidak ada hal yang istimewa di lagu ini. Ini hanya sebuah lagu yang sering didengarkan oleh generasi gaul masa kini. Tapi coba letakkan perhatian anda pada sebuah bait di atas. Mungkin anda akan tersenyum lebar seperti apa yang sedang saya lakukan sekarang. Lucu sekaligus miris.

Lagu ini seakan-akan berusaha menyentil mereka mereka yang hidup glamour, money oriented, yang lupa akan tujuan utama mereka datang ke dunia –yang jelas bukan untuk berbelanja.

Fenomena iming iming diskon di berbagai pusat perbelanjaan dalam moment moment tertentu  rupanya masih digandrungi sebagian besar masyarakat Indonesia, mulai dari kalangan biasa dengan uang di dompet yang seadanya sampai kalangan kelas atas yang ternyata juga menggemari barang diskonan. Papan papan besar bertuliskan ‘Diskon 50% + 20%’ di keranjang besar berisi pakaian yang katanya ‘bermerek’ kadangkala membuat orang kalap berbelanja. Betapa bangganya ketika berhasil membeli pakaian yang seharusnya seharga Rp 499.900 menjadi Rp 200.050. Coba pikirkan lagi ‘siapa yang benar benar tahu kalau harga asli pakaian tersebut memang Rp 499.900?’. Siapa yang tahu dan mau tahu? Toh nyatanya tidak ada yang peduli ketika wabah diskon besar besaran dan gempuran dari SPG SPG malang mulai menyerang pertahanan iman.



Di saat banyak orang masih kelimpungan memikirkan bagaimana caranya mendapatkan sesuap nasi, kesulitan tidur nyenyak tanpa harus dibayang bayangi hutang, kesulitan menghilangkan predikat jomblo veteran *eh, kegiatan belanja dengan iming iming diskon nyatanya tak pernah benar benar musnah. Menghabiskan waktu berjam-jam di pusat perbelanjaan untuk berdesak desakkan mengejar diskon demi membawa pulang puluhan kantong belanja. Ternyata masih banyak orang kaya di Indonesia, meskipun tak sebanyak fakir asmara.

Coba kita intip isi lemari mereka mereka yang suka berbelanja –dan suka diskonan tentu saja. Coba lihat berapa banyak pakaian yang sia sia di lemari sang shopaholic ini. Sekali pakai, terlupa gara gara sudah ada penganti yang baru. Masih jauh dari kata tidak layak pakai, sudah berakhir menjadi kain pel darurat. Lalu, apa yang mereka sebut harga? Saya curiga jangan jangan mereka tak mengenal kata mahal, semuanya dianggap murah semurah harga mie biting super pedas. Dahsyat sekali. Ini sangat ironis dengan kehidupan saya tentu saja yang harus berpikir ribuan kali sebelum membeli pakaian gahol ala ala model di sampul majalah fashion ( yang sudah didiskon ). Saya selalu berpikir ‘apakah setelah membeli baju ini, masih akan tetap ada asupan rames warteg sampai akhir bulan?’,’apakah status jomblo saya menjadi hilang ketika saya memakai baju ini?’ dsb. Pada akhirnya, saya gagal membeli pakaian tersebut. Karena rupanya selain iman saya yang masih cukup kuat untuk menahan terpaan diskon yang bertubi tubi, saya juga masih ingin makan nasi lauk di saat paling krisis seorang anak kos dibandingkan menjilati baju yang saya beli ketika lapar melanda *paham maksud saya?*

Kadangkala saya berusaha mengakumulasi jumlah uang belanja mereka setiap bulannya. Bisa jadi jumlahnya setara dengan gaji rector di sebuah universitas. Atau, jika sang shopaholic masih level 1 alias yang kayanya masih setengah setengah, uang belanja mereka mungkin bisa digunakan untuk membayar kost saya selama satu semester. Sedih. Dan dari semua yang saya paparkan, satu yang paling jelas di sini adalah saya iri.

Saya termasuk dalam golongan orang yang iri terhadap mereka yang dengan mudahnya mendapatkan kesenangan mahal dengan mudahnya, sedangkan saya harus berjuang sedemikian kerasnya hanya untuk mendapatkan kesenangan murah, ice cream coklat di akhir bulan misalnya. Murah sekali bukan keinginan sederhana saya? Sungguh ironis memang, ketika masih ada seorang anak kos jomblo bertampang unyu menginginkan sepotong ice cream cokelat di akhir bulannya yang merana diantara orang orang yang kalap berbelanja mengejar diskon Natal dan akhir tahun. Sebuah fenomena yang seharusnya perlu dibenahi.

© Hasil adaptasi dari sebuah artikel berjudul ‘Sebuah Percakapan’ karya Andi Gunawan ©

You Might Also Like

1 komentar:

  1. Jadi, kesimpulannya adalah jangan buang "hajat" sembarangan. I see :D

    BalasHapus