Semenjak Beranjak

Selasa, Februari 04, 2014 Atika Nugraheni 0 Comments



Make-upnya sudah selesai sedari tadi. Namun bedaknya selalu luntur karena menangis.

Tapi, nanti dia akan tetap datang. Sebagai seorang tamu di pesta perkawinan sekaligus sebagai seorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan.Yang terpenting, dia harus mengeringkan air mata-nya, biar tidak menangis lagi mendapati kenyataan bahwa cintanya diambil orang.

Dipungutnya gaun itu, gaun sutra bersulam, berkerah lebar dan ramping di pinggang. Gaun teristimewa yang diamiliki sepanjang hidupnya.  Lalu dia melangkah menuju cermin, sudah lama dia tidak melihat dirinya sendiri. Sedikit lebih cantik dengan gaun yang dikenakannya. Barangkali akan lebih cantik lagi jika dia tidak kehilangan senyumnya yang baru saja menguap bersama sendu. 

Sekarang, dirinya sudah sempurna, tanpa air mata. Bedaknya tidak lagi luntur.Wajahnya berbedak tipis dengan perona merah delima.Dia memasukkan kakinya ke sepasang sepatu dengan hak paling tinggi yang pernah dia punya. Hari ini, dia menjelma menjadi perempuan paling cantik. Hari ini, semua orang harus akan mengingatnya. Di hari yang paling dia benci ini, dia harus lebih cantik dari sang pengantin.

Di depan orang yang paling dicintainya dan orang yang dicintai oleh orang yang paling dicintainya, dia mengucapkan selamat lalu berlalu begitu saja, menguatkan hatinya. Jejaknya hanya menyisakan wangi parfum yang lembut.

Mata yang teramat dikenalnya memandangnya dari kejauhan.

‘Mengapa memandang kudemikian?’
‘Tidak apa-apa’

Mampuslah kau yang merindu, tapi seperti anak mencari-cari alasan. 

You Might Also Like

0 komentar: