Penjual Pulsa

Sabtu, Februari 01, 2014 Atika Nugraheni 0 Comments

Penjual Pulsa

Panggil saja Mas Cahyadi. Dia penjual pulsa di kios mini di daerah kampus milik seorang pensiunan pegawai negeri. Meskipun hanya jualan pulsa, dia harus tetap wangi dan rapi (syukur-syukur dianggap seksi) biar pelanggannya tidak pindah ke lain hati. Di depan kiosnya, ada pangkalan angkot. Tidak ada warna lain selain kuning, karenanya disebut angkot kuning, angkot penyelamat bagi mahasiswa yang tidak dimodali kendaraan roda dua untuk mengarungi kampus yang luasnya edan-edanan. Sopir-sopirnya dekil, hitam, tidak seperti Mas Cahyadi yang memperhatikan penampilan dari rambut sampai kaki. Tapi mereka baik hati sama Mas Cahyadi, sering kasih sebungkus sarapan pagi.

Pagi ini, Mas Cahyadi tidak sewangi hari yang lalu. Selain sedang patah hati karena cintanya ditolak janda beranak dua, Mas Cahyadi terancam tidak lagi bisa berjualan pulsa. Bos-nya akan menjual kios mini yang sudah sangat disayanginya kepada pengusaha, entah pengusaha apa. Beberapa bulan belakangan, kiosnya memang sepi. Mahasiswa-mahasiswa yang dulunya berlangganan membeli pulsa padanya beralih membeli pulsa kepada temannya sesama mahasiswa yang ikut-ikutan jualan pulsa. Bisa ngutang dulu katanya. Alhasil, kios yang sepi membuat bos-nya semakin frustrasi dan memutuskan untuk menjual si kios mini tanpa peduli betapa kacaunya hati Mas Cahyadi.

Kini, giliran Mas Cahyadi yang frustrasi bercampur ingin mati. Kehilangan pekerjaan, kehilangan cinta. Ini semua gara-gara mahasiswa-mahasiswa yang ikut-ikutan jualan pulsa.


Hari-hari berikutnya, sudah tidak ada Mas Cahyadi yang rapi dan wangi. 

You Might Also Like

0 komentar: