Patah (lagi)

Senin, September 23, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


(kuharap) Kau tahu kalau aku mencintaimu dengan segala isyarat halus yang kuberitahukan kepada malam, dengan beribu-ribu pesan yang kutitipkan pada hujan. Karena itu aku (berusaha) mengikhaskanmu.

©©

Aku begitu hangat saat itu. Entah karena aku sedang demam atau hanya sedang cemburu. Mungkin juga patah hati. Aku juga masih belum tahu kenapa aku layak untuk patah hati, terlalu sering patah hati lebih tepatnya. Saking seringnya, rasaku mati berkali-kali. Namun aku terlalu gengsi untuk menyerah atau mungkin hati ini masih belum lelah dan belum benar benar patah. Karena itu, aku jatuh cinta lagi, lagi lagi jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada pemilik senyum yang tiada habisnya. Aku begitu hangat saat itu. Tapi kupikir, ini bukan cemburu atau pun patah hati, ini cinta.

Senyum itu selalu berhasil membuat jantung ini berdegup lebih hebat dari biasanya dan darah serasa mengalir tidak pada tempatnya. Sistem tubuhku dikacaukan seketika oleh pemilik senyum yang sejak dulu sudah kuketahui namanya namun belum pernah membuat degup jantungku tampak berantakan seperti akhir akhir ini. Hubungan kami hanya sebatas dua orang manusia yang pernah bertemu beberapa kali secara tidak sengaja tapi tidak pernah saling memperhatikan satu sama lain. Itu saja. Aku sibuk dengan duniaku dan dia sibuk dengan dunianya, sibuk mengejar cintanya barangkali. Sampai waktu itu datang, kami hanyalah dua orang yang tidak akan pernah merasa rindu walaupun kami tidak bertemu untuk waktu yang lama. Hingga saat itu tiba, kami hanyalah orang yang akan selalu berlari ke kutub yang berbeda.

Tetesan rasa di atas hati yang berulang kali patah ini membuatku lain. Seketika aku melupakan kisah-kisah percintaan pahit masa lalu. Sepotong hati yang baru sudah kugenggam dan kali ini aku tidak akan membiarkannya patah lagi untuk kesekian kalinya. Dengan segenap rasa percaya diriku, aku mengklaim bahwa pemilik senyum itu adalah seseorang yang nantinya akan hidup bersamaku hingga renta. Dalam hati aku ragu, tapi lagi-lagi senyum itu meyakinkanku bahwa semua itu akan menjadi nyata, lebih nyata dari apapun.

Maka, semenjak aku tahu bahwa aku sedang jatuh hati kepada pemilik senyum yang menggetarkan hati, aku mencari tahu tentang dia. Apapun tentang dia. Asal-usulnya, teman-temannya, orang yang sedang dicintainya. Bahkan aku mencari tahu nomor handphone-nya, tempat tempat yang biasa dikunjunginya saat malam minggu tiba, klub sepak bola favoritnya dan seterusnya. Orang yang sedang jatuh cinta itu mempunyai rasa penasaran yang bahkan bisa membunuh singa liar sekalipun, tidak terkendali. Selalu ada cara untuk menembus batas yang tercipta yang menutupi kebenaran yang ada. Dan setiap orang yang sedang jatuh cinta pada akhirnya akan selalu berhasil menembus batas itu dan mengetahui setiap kebenaran yang ada di balik batas itu, meskipun kebenaran itu nantinya akan menimbulkan lara.

Beberapa hari setelah pemilik senyum itu berhasil mengisi ruang sempit hatiku, aku semakin gencar menunjukkan diri di hadapannya. Tujuanku hanya satu, supaya dia menyadari ada seseorang yang berdebar dadanya setiap kali senyum itu terkembang dari bibirnya. Dalam setiap pertemuan, aku selalu berdoa supaya telinganya tiba tiba mendengar degup jantung yang tidak biasa sehingga aku tidak perlu berkata langsung bahwa aku mulai mencintainya.

Pada suatu waktu, kami setidaknya mulai lebih dekat dari biasanya. Kami sering berbicara, berbicara apa saja. Aku bercerita tentang hujan yang tidak pernah bisa menghubungkanku dengan hati seseorang. Lalu kamu mulai tertawa, mengatakanku aneh dan sebagainya. Dan aku melihat tawanya sekarang. Rasanya aku ingin melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil yang baru saja dibelikan es krim coklat. Dan di sebuah waktu, aku dikejutkan oleh ajakannya ke pasar tradisional, kupikir dia bercanda karena itu aku meng-iya-kan ajakannya. Tidak disangka, itu sungguhan. Kalau tahu begini aku akan menolaknya dengan alasan-alasan yang kubuat-buat. Antara bahagia luar biasa dan sangat bahagia, aku tidak mengerti, yang jelas aaah aku sudah tidak bisa mengendalikan degup jantungku. Debaran ini mungkin lebih keras dibandingkan dengan deburan ombak pantai manapun. Ini berlebihan tapi bukankah orang jatuh cinta itu selalu berlebihan?

Di saat yang sama, di saat seolah-olah kelopak kelopak bunga sakura satu per satu jatuh di atas kepalaku dengan alunan lagu lagu cinta atas respon positif yang diberikannya, aku tidak tahu kalau cerita ini akan berakhir menyakitkan. Aku tidak tahu, sungguh.

Dia menjemputku pagi pagi sekali. Ini lucu dan terkesan tidak indah untuk ukuran kencan pertama. Kencan? Iya, aku menganggapnya demikian dan lagi lagi ini berlebihan. Tidak masalah. Jangan mengacaukan fantasiku dengan kemungkinan kemungkinan buruk yang sulit kubayangkan, biarkan aku merasa senang, setidaknya untuk hari ini. Pasarnya tidak jauh, namun kurasa jarak yang dekat ini kami tempuh dengan waktu yang lama. Entah karena gas motor yang tidak dipacu dengan dahsyat atau karena bumi sedang mengerti perasaanku yang ingin berlama-lama dengan orang ini sehingga tanpa disadari bumi menjauhkan jaraknya. Entahlah. Biarkan aku menikmati saat saat ini, siapa tahu ini akan menjadi yang terakhir kali aku bisa duduk berdekatan seperti ini meskipun dia tidak menghadap ke arahku dan sibuk dengan motornya. Aku bahagia, bahkan aku sangat bahagia hingga hampir gila.

Sejak saat itu, aku tahu kalau dia suka memasak. Tidak canggih seperti koki tapi cukup untuk membuatku lebih jatuh cinta. Aku mulai suka memasak. Setiap hari pikiranku dihiasi oleh berbagai resep masakan. Bahkan pikiran sintingku mulai membayangkan tentang betapa menyenangkannya bisa setiap hari pergi ke pasar bersama untuk membeli bahan masakan lalu kemudian mengolahnya bersama-sama. Seandainya itu nyata, mungkin aku bisa lebih gila daripada ini.

©©

Kukatakan sekali lagi bahwa orang yang sedang jatuh cinta punya rasa penasaran yang bahkan bisa membunuh seekor singa liar. Aku mencari tahu tentangnya setiap saat semampuku. Aku diam diam memperhatikan situs jejaring sosialnya, setiap menit bahkan detik. Dengan tindakan seperti ini rasanya aku sudah layak menjadi seorang intel FBI. Di sebuah waktu yang tak terduga, ada sesuatu yang menikam tepat di jantungku, sesuatu yang sulit untuk dicabut lagi. Di akun twitternya, dia melakukan percakapan yang sangat intens dengan seorang wanita yang bahkan aku tidak tahu namanya. Aku men-scroll timeline twitter hingga ujung, hanya ada satu nama itu yang begitu banyak menghiasi timelinenya. Ada beberapa yang lain, tapi tidak menyita perhatianku. Pikiran pikiran positif masih kalah jumlahnya dengan yang negative. Hatiku mendadak layu, lagu lagu cinta yang riang berubah menjadi lagu medley yang mendayu-dayu, tidak ada lagi kelopak sakura yang gugur. Yang ada hanyalah sebuah pohon yang hanya tinggal ranting, kering.

Akankah hatiku patah lagi?

Beberapa waktu kemudian, aku tahu kalau dia sudah mempunyai kekasih. Orang yang sama yang sering muncul di timeline-nya beberapa saat yang lalu. Di saat saat seperti ini, hanya satu yang ingin aku pertanyakan, adakah yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan?

Ya, hatiku patah lagi.

©©

Aku masih riang seperti biasanya meskipun aku tahu pemilik senyum itu sudah menambatkan hatinya untuk seorang wanita berketurunan Cina. Aku juga masih sering membayangkan kalau sang pemilik senyum yang menawan itu pada nantinya akan tetap memilih pergi ke pasar dan memasak makanan makanan yang lezat bersamaku. Aku juga masih semangat untuk membuatkannya masakan. Hatiku tetap berkeyakinan bahwa secantik apapun wanita yang sedang didekatinya sekarang, akan tetap kalah cantik dengan seorang wanita yang pandai memasak. Dan akulah wanita yang pandai memasak itu yang suatu saat akan merebut hatinya.

Hari ini aku ke pasar dengan ditemani temanku, membeli bahan bahan untuk membuat makanan sederhana, untuknya. Aku akan membuat klepon, makanan berbahan dasar tepung ketan dengan gula aren di dalamnya dan dibaluri dengan ampas kelapa di luarnya. Aku membuatnya dengan sepenuh hati, berharap ada pujian yang keluar dari mulutnya memakan klepon buatanku. Sayangnya, saat aku datang ke rumah kontrakannya mengantarkan klepon itu, dia belum pulang. Terpaksa aku berbohong, mengatakan bahwa aku membuatkan klepon itu untuk orang orang yang ada dikontrakannya. Mereka senang, mereka mengatakan kalau itu enak. Aku senang, tapi akan lebih senang lagi saat dia yang mengatakan itu kepadaku. Ah sudahlah, aku pulang saja. Namun sebelum aku pulang, dia tiba tiba datang. Aku deg-degan dan tidak bisa berbuat apa apa meskipun sekadar menyapanya dengan riang. Dan dia memakan kleponku. Aku masih gugup, aku tidak ingat apakah dia mengatakan enak atau tidak. Yang aku tahu, aku harus segera pulang, aku tidak sanggup melihat senyumnya. Senyum yang sudah dimiliki orang lain, bukan aku. Cinta dan rasa sakit jaraknya terlalu dekat.

Kata kata yang kuingat sebelum aku pulang adalah dia meminta dibuatkan pudding coklat dan strawberry. Ah, aku semangat lagi. Dalam hati aku berkata ‘apapun akan aku masakkan, untukmu, selagi aku mampu’ .

Cinta dan rasa sakit itu jaraknya dekat, tapi selain dekat dengan rasa sakit, cinta juga dekat dengan rasa bahagia.

©©

Aku datang lagi ke rumah kontrakannya, membawa bahan pudding, bahan kolak dan sayur mayur. Ada banyak makanan yang harus dimasak hari ini. Aku pasar siang tadi, bergelut dengan teriknya sinar matahari dan polusi kota, belum lagi keadaan pasar yang semrawut. Rambut panjangku mulai lepek, tubuhku kebanjiran peluh. Ini semua demi pemilik senyum itu.

Aku belum jadi membuat pudding untuknya. Sebagai gantinya aku memasakkan sayur untuk makan siangnya dan teman-temannya. Katanya enak, ini cukup melambungkan hatiku dan melupakan rasa lelahku.

Sore menjelang. Matahari hampir kembali ke peraduannya, sinar jingga memancar syahdu dari ufuk barat. Dan hari ini malam minggu, sebuah malam yang tidak ada artinya bagiku namun akan sangat berarti bagi setiap orang yang memiliki kekasih. Itu berarti, malam ini akan sangat berarti baginya. Aku mencoba menghibur diri dengan pura pura tidak peduli bahwa dia akan pergi bersama kekasihnya malam ini. Aku memperhatikan tingkahnya yang sejak tadi. Rupanya dia sedang bingung akan memakai baju yang mana untuk kencan malam ini. Saking tidak adanya baju yang belum disetrika, dia mengambil baju di jemuran yang baru saja kering. Aku tertawa. Sebegitunyakah?

Untuk urusan kencannya, aku tidak peduli. Hatiku sudah biasa dengan hal-hal seperti ini. Bukankah rasanya sama seperti saat aku mengetahui kalau dia sudah mempunyai kekasih di saat aku sedang benar benar dilambungkan dengan sikapnya kepadaku? Itu lebih menyedihkan dibandingkan ini.

Aku bergegas pulang. Sebelum sampai di depan pintu, temanku berlari menghampiriku seperti habis melihat setan. Dia membisikkan sesuatu di telingaku ‘ada pacarnya di sini‘ . DEG. Aku biasa saja dan masih terlihat normal seolah olah tidak ada sesuatu yang membuat lututku lemas seperti ingin pingsan. Aku berjalan ke pintu keluar dan melihatnya dengan kekasihnya. Cantik, putih, dan Cina. Mereka berboncengan, dan motornya melaju saat adzan maghrib hampir berkumandang, entah kemana, aku tidak ingin tahu.

Ada rasa yang tidak kumengerti. Seolah tidak rela namun aku bisa apa? aku bukan siapa-siapa, hanya teman yang baru dikenal. Imajinasiku tentang aku dan dia di masa depan perlahan runtuh. Tidak akan ada kita, yang ada hanya kau dengan kekasihmu dan aku dengan bayanganku. Tidak jauh berbeda. Air hangat tiba tiba mengalir di kedua pipi membentuk semacam sungai kecil. Aku menangis, tanpa disadari aku menangis. Bukan karenanya, tapi karena aku yang dengan begitu bodohnya masih mengharapkannya disaat dia sudah bahagia dengan wanitanya. Angan angan yang terlalu tinggi membuatku sulit berpijak hingga aku menjadi seorang yang imajiner. Lalu aku bisa apa? aku masih mencintai senyumnya, dan belum ada yang bisa menggantikan senyumnya sejauh ini.

Ah, apa lagi yang harus aku perjuangkan untuknya? Dan untuk apa aku masih terus berjuang demi orang yang lebih memilih pergi dengan kekasihnya dibandingkan dengan menenggelamkan punggungnya di masjid dan berusaha lebih dekat dengan Tuhannya? Meninggalkan sholatnya saja mudah, apalagi hanya untuk meninggalkan seorang wanita?

Aku membuat segenap fakta yang bisa merobohkan dinding cinta yang sudah kokoh berdiri.

Aku begitu hangat saat itu. Mungkin sedang cemburu dan patah hati sekaligus. Mengapa aku layak untuk patah hati? Mengapa aku selalu dibiarkan jatuh hati kalau selalu berakhir dengan patah hati? Aku lelah mengumpulkan kepingan kepingan hati untuk kemudian menjadikannya baru lagi untuk kemudian dipatahkan lagi. Sesekali aku tidak ingin berjuang, tapi aku ingin diperjuangkan oleh seseorang yang kuharapkan.

Aku mencintaimu, karena itu aku mengikhlaskanmu.

-END-


You Might Also Like

0 komentar: