My Mom

Minggu, September 01, 2013 Atika Nugraheni 1 Comments

Sesekali, cobalah untuk tidur bersama ibumu. Tidak perlu sampai berhari-hari, cukup satu malam saja. Pada saat malam sudah mulai larut, saat hiruk pikuk kehidupan sudah tak terdengar, saat hanya tinggal kedua matamu yang masih terjaga, pada saat itu pula, perhatikan dengan seksama orang yang sedang berbaring di sampingmu, ibumu.

Aku melakukan ini beberapa minggu yang lalu sebelum aku pergi lagi meninggalkan ibuku sendirian. Pada malam itu, aku meminta untuk tidur bersama ibuku. Ibuku cepat terlelap, mungkin lelah karena seharian membereskan pekerjaan rumah yang kata ibuku tak pernah ada habisnya. Sekilas sepele, hanya memasak, mencuci pakaian, menyapu dan hal-hal kecil lainnya. Tapi pastinya tidak akan sesepele itu mengingat setiap malam, saat ibuku menonton TV bersamaku, tanpa disadari ibuku sudah memejamkan mata barang beberapa detik lalu kemudian terjaga lagi, kembali mengomentari acara TV yang semakin tidak karuan. Begitu terus hingga beberapa kali sampai akhirnya ibuku menyerah dan masuk ke kamarnya untuk mengistirahatkan badan.  Malam itu, aku memperhatikan ibuku dengan seksama, seolah olah aku akan pergi jauh dan baru akan pulang setelah sekian lama. Malam itu, aku menagis sesegukan, tanpa suara, dibarengi dengan desahan napas yang teratur milik seseorang yang namanya tak pernah ketinggalan kusebut dalam setiap doa. Air mata masih mengalir dan perlahan lahan menghanyutkanku sampai ke masa lalu dan segala kenangan tentang ibuku, membuat hati semakin pilu.
---
Ibuku sudah tua sekarang. Rambutnya sudah mulai beruban, kerutan di wajahnya sudah mulai tampak jelas. Sebulan sekali setiap aku pulang dari tanah orang, hal yang pertama ibuku minta adalah mencabuti uban di rambutnya. Ibuku tidak ‘neko-neko’, tidak mencoba coba untuk menyemir rambutnya agar tetap kelihatan hitam. Sudah wajar katanya, toh suatu saat nanti juga tetap akan mengalami hal itu, buat apa bertingkah yang macam-macam. Ibuku juga tidak terlalu suka dandan, sewajarnya saja. Sekalipun berdandan, hanya mengoleskan bedak murah biasa ke wajahnya dengan pemerah bibir seadanya. Setahuku hingga detik ini, ibuku tetap seperti itu.

Dulu ibuku pernah bercerita kalau ibuku bercita-cita menjadi seorang guru Matematika. Sayangnya, cita-citanya kandas di tengah jalan karena eyangku tidak punya biaya banyak untuk menyekolahkan ibuku. Tapi, sisa sisa kecintaannya terhadap Matematika masih terlihat saat aku sudah masuk SD. Setiap hari, aku diajari matematika oleh ibuku. Bahkan saat itu, aku menganggap guru matematika dan guru SD terbaikku adalah ibuku. Aku tidak TK. Saat aku masuk SD, aku sudah lancar membaca, menulis dan berhitung. Itu semua berkat ibuku yang mengajariku dengan telaten setiap hari sebelum akhirnya aku didaftarkan ke SD.
Tidak banyak yang tahu kalau aku selalu mendapatkan ranking 1 dari awal masuk SD sampai lulus SD bahkan hingga SMP kelas 1. Tidak bisa dibanggakan memang karena itu hanya di tahapan Sekolah Dasar. Ibuku juga demikian, tidak pernah membanggakan aku di depan orang orang kampung seperti ibu ibu lain yang selalu membanggakan anaknya, entah karena prestasinya di sekolah atau karena hal-hal yang lain. Ibuku bersikap seolah olah aku anak yang bodoh sekali karena itu apa yang mau dibicarakan ke orang-orang? Sikapnya kadang kadang dingin dan cuek, dengar nilai ulanganku 10 pun, ibuku hanya menanggapi seadanya. Ibuku hanya akan bereaksi saat nilai ulanganku jelek. Tanpa ini itu, ibuku langsung menceramahiku sepanjang hari, menyuruhku supaya belajar lebih giat dan sebagainya. Setidaknya, ibuku sangat perhatian pada sekolahku, sampai detik ini.
Ibuku disiplin. Saat aku masih sekolah dulu, Ibu tidak akan pernah membiarkanku pulang malam, nginep di tempat teman tanpa alasan yang benar benar bisa meyakinkan ibuku, bermain-main ke tempat yang jauh-jauh meskipun bersama teman-temanku dan apapun yang berhubungan dengan bermain. Kalaupun aku diizinkan pergi, aku harus memberikan alasan yang jelas, pergi bersama siapa, pergi kemana, pulang jam berapa, dan hape tidak boleh dimatikan. Aku sering ngambek dan bertanya tanya kenapa aku tidak mempunyai ibu seperti teman-temanku, yang memberikan sedikit kebebasan. Aku ngomel ngomel sepanjang hari, tapi aku menuruti semuanya. Kehidupan masa sekolahku monoton, hanya sekolah lalu pulang lagi ke rumah, keluar rumah untuk les dan sesekali bermain meskipun harus membohongi ibuku terlebih dahulu tapi pada akhirnya tetap mengaku. Dulu aku protes, tapi sekarang aku benar benar paham akan kehawatiran seorang ibu terhadap putrinya.

Jujur adalah hal yang selalu diajarkan oleh ibuku. Tidak boleh berbohong atas alasan apapun. Kata ibu, jujurlah yang akan menyelamatkan kita pada akhirnya. Dan dulu, ibuku hanya bermodalkan kejujuran untuk bisa mendapatkan posisi kerja yang lumayan di sebuah kantor, padahal ibuku pada mulanya hanyalah seorang baby sister dari anak pemilik kantor itu. Jujur memang susah, dulu aku juga sering berbohong meskipun pada akhirnya cerita juga karena tidak bisa nyenyak tidur. Sampai sekarang pun, kadang aku masih berbohong, tidak bisa dipungkiri aku langsung tidak bisa tidur semalaman.

Ibuku juga mengajarkan untuk selalu menghargai orang, sejelek apapun orangnya, semenyebalkan apapun orangnya. Menjaga sikap, menjaga lisan, dan jangan sampai menyakiti hati siapapun dengan lisan kita. Kata ibu,’ wong kadang kita sudah bersikap baik sama orang juga kita masih bisa dibenci orang, apalagi kalau kita nggak baik sama orang. Ini susah, sangat susah dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Setidaknya, aku selalu mengingat kata-kata ibuku yang ini.

Sama denganku, ibuku tidak pandai ngobrol. Lebih sering diamnya kalau sedang bersama orang banyak, jadi pendengar. Karena itu ibuku tidak suka bergossip, membicarakan orang kesana kemari saat pekerjaan rumah sudah selesai. Jarang sekali terlihat ibuku pergi ke rumah tetangga, hanya sekadar untuk kumpul kumpul. Ibuku memilih di rumah saja meskipun sendirian.

Ibuku menjengkelkan. Saat marah karena tingkahku yang keterlaluan, ibuku tidak segan segan memukulku dengan barang apa saja yang ada di dekatnya. Ibuku juga cerewet, selalu melarangku ini itu.  Ibuku tidak membelikan apa saja yang aku minta, ibuku justru memintaku untuk menabung sendiri kalau ingin membeli sesuatu.

Aah, ibuku saja tidak pernah membicarakan keburukanku, lalu mengapa aku masih bertingkah seperti barusan? Memalukan.

---

Aku menatap ibuku lagi yang tidurnya semakin pulas. Aku menangis lagi mengingat aku masih jadi seorang anak yang demikian tidak pantas dibanggakan. Aku masih menjadi anak yang pemalas. Sering membantah saat diperintah ibuku walau hanya untuk menyapu lantai. Di saat sudah kuliah pun aku masih belum bisa membanggakan ibuku, dengan IP yang masih pas-pasan, ilmu yang tidak diamalkan, dan  sering bilang kalau sudah malas kuliah padahal ibuku berharap banyak dariku.

Aku mendengar desah napasnya dengan teramat jelas. Desah napas yang mulai panjang-panjang, menandakan umur yang sudah tidak muda lagi. Lalu di dalam hatiku yang paling dalam tanpa sadar aku berjanji akan membahagiakan ibuku. Membayangkan semua yang sudah dilakukannya untukku, itu sudah tak terhitung banyaknya. Aku pikir, aku hanya bisa menggantinya dengan doa yang kupanjatkan setiap hari, itupun masih belum bisa membalas semua kebaikan ibuku terhadapku.

Aku kehabisan kata-kata.

Aku menyayangi ibuku lebih dari apapun meskipun tidak pernah diungkapkan secara langsung. Aku menyukai segala hal yang ada dalam diri ibuku. Aku tahu, alasan aku rindu rumah setiap kali ada di kota orang adalah ibuku. Alasan pulang ke rumah adalah ibuku, tidak ada yang lain. Aku merindukan omelan omelannya yang panjang dan melelahkan untuk didengar. Aku merindukan semuanya..

Ah, malam itu aku mengerti betapa aku menyayangi wanita yang sedang tidur dengan pulasnya itu dan betapa aku tidak bisa lama lama jauh dari sosoknya. Saat jauh, aku cepat rindu.


Lagi lagi aku kehabisan kata-kata, lalu aku menangis lagi, sampai akhirnya aku tidur tanpa kusadari.. 

You Might Also Like

1 komentar:

  1. Tulisanmu mengingatkanku pada sosok mulia itu. http://indradarma-wan.blogspot.com/2012/11/bunda-sepucuk-surat-untuk-tuhan.html

    Semoga kita dapat membahagiakan mereka semua. Sangat menyesal apabila mereka belum sempat melihat keberhasilan kita, yang merupakan sebab daripada mereka tersenyum. Jadi, marilah kita bersungguh-sungguh membahagiakan mereka.

    NB: semangaaat Tikaaaaa! :) :) :) Sebenarnya aku gak tahu tipe tulisan yang seperti apa yg disuka Tika, tp klo blh jujur, blogmu sering tak 'kepoin', meski jarang diberi komen, jadi, klo boleh minta imbal balik, silakan 'kepoin' blogku di www.indradarma-wan.blogspot.com Komentarilah tulisan yg memang kamu suka & niat berkomentar. Terima kasih :) hehe.... :) :) :)

    BalasHapus