Jemput Aku, Sendiri Saja

Kamis, September 26, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments

Jemput Aku, Sendiri Saja

Jingga milik senja telah menggulung biru milik langit. Warna bumi serentak menjadi orange, lalu perlahan tapi pasti semburat warna orange itu kemudian pecah menyebar digantikan oleh hitam dan pekatnya warna malam. Pemilik alam menyeret lampu besar milik jagad raya ke dalam ruangannya, menjadikan bumi mendadak diliputi gulita, lalu Dia menukarnya dengan cercahan cahaya yang tidak ada apa-apanya. Bulan namanya. Namun tiada yang bisa menyainginya meskipun seluruh cahaya dari alam lain berkumpul dan bersatu untuk menundukkannya. Sinarnya terlalu lembut dan hangat untuk digantikan siapapun. Bulan itu dingin. Dinginnya itu membangkitkan luka dan seakan menjadi mesin waktu instan yang bisa membawa kita ke pusaran kenangan menyakitkan. Sayangnya tatapan anggunnya mampu membuat seluruh alam menyerahkan sebagian hari mereka padanya, 12 jam penuh tidak lebih dan tidak kurang. Keteguhannya sanggup membuat mereka percaya bahwa mereka akan tetap nyaman dalam dingin sekalipun. Dari kejauhan, lampu besar itu tersenyum dari balik pintu ruangan Tuannya, sepertinya dia menemukan teman untuk menjaga alam agar tidak kehilangan cahaya.

Malam ini, aku tahu kalau bulan sedang benderang. Mungkin dia sedang senang namun tetap tenang, tetap anggun, tidak seperti manusia yang selalu berlebihan saat mereka sedang senang dan akan berlebihan juga saat mereka dirundung duka. Lihatlah aku, manusia yang begitu rapuh dan lusuh. Cermin besarku memantulkan bayanganku yang begitu buruk. Mataku sembab karena menangis semalaman dan rambut panjangku entah sudah berapa lama aku biarkan terurai tanpa tatanan. Seharusnya aku malu pada bulan. Tapi aku berteriak pada diriku sendiri, ‘aku bukan bulan yang bisa tetap tegar menghadang badai, AKU BUKAN BULAN!’. Aku mengelak mati matian, tapi pada kenyataannya aku tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa aku memang malu pada bulan yang sanggup tegar meniti malam malam yang mulai kurang ajar. Sekali lagi, aku memandang cermin, melihat aku yang mulai lain dan aku malu pada bulan.

Kemudian aku teringat akan sosok dengan senyum yang membuat separuh jiwaku melayang ke kahyangan. Dia berjalan dengan seorang wanita berkulit putih bersih dan mata yang hanya tampak seperti garis lurus itu. Mereka berjalan menjauhi bayanganku, tertawa bersama lalu bergandengan tangan menuju masa depan. Aku berdiri tegak, tertegun menatap punggung yang semakin lama semakin jauh meninggalkanku. Aku tersenyum mantap tapi bayanganku sudah terduduk lemas, terlalu jujur dan terlalu frontal menunjukkan kesedihan. Sosok itu, pemilik senyum itu adalah orang yang sedang kucintai sekaligus sedang membuat hatiku nyeri (tanpa pernah dia sadari). Senyum itu sama seperti yang kulihat pertama kali. Yang berbeda hanyalah perasaanku yang semakin rakus ingin memilikimu dan rasa sakit yang menyerang ulu hatiku tiap kali aku semakin ingin memilikimu. Yang berbeda hanyalah kamu sudah bersama seseorang yang mencintaimu sekarang. Tapi, yang tetap sama adalah aku, aku yang masih sendiri seperti saat pertama kali aku meletakkan hatimu di hatiku dan aku yang selalu berdebar tiap kali melihat senyum ajaib itu. Sesederhana itu keadaan kita sekarang. Bagimu ini mudah, tapi bagiku ini lebih dari musibah.

Tubuhku seperti dicabik-cabik waktu. Paru-paruku layu. Degupan jantungku memompa kehidupan yang ragu-ragu. Mataku sayu, terlalu lama melihat adegan mesra antara kamu dan kekasihmu. Tapi bahuku ternyata lebih kuat daripada karang laut. ‘Deburkan saja ombak yang keras ke tubuhku, silahkan!’ Pembuluh darahku perlahan lahan berfungsi lagi setelah mati suri lalu mengalirkan kekuatan ke setiap ons takdirku. Takdir untuk tetap hidup meskipun harus patah berkali-kali. Bukankah manusia itu tidak pernah jera dengan cinta meskipun lara?

Aku merebahkan badanku di kasur. Aku mulai berpikir kalau aku mulai gila karena cinta bodoh ini. Iya, mencintai orang yang sudah dicintai orang lain adalah hal bodoh menurutku. Tapi, bukankah sebenarnya kita juga tidak menginginkan hal menggelikan itu terjadi? Bukankah kita tidak berkuasa atas cinta? Yang Maha Memiliki Cinta lebih berkuasa membolak-balikkan hati, menabur cinta dan bahkan mencabut kasih. Aku menggeser posisi tidurku, membolak-balikkan badan di atas kasur yang mulai uzur dimakan umur. Kemudian aku berpikir lagi tentang cinta yang harus satu. Cinta tidak boleh dua, cinta maksimal empat dan seterusnya. Jika cinta itu matematis, pada angka berapakah ia pas dan pada angka berapakah ia bablas? Seandainya cinta tak harus satu mungkin kami bisa menyatu tanpa takut terjerembab ke lereng waktu.

Aku kembali kuat. Meskipun cinta sialan itu hampir membuatku sekarat dan berkarat. Aku masih mampu berharap bahwa suatu saat hatiku akan utuh lagi dengan kamu sebagai pelengkap. Bagiku, patah hati yang terlalu cepat adalah konsekuensi atas proses jatuh cintaku yang cukup singkat. Karena semuanya begitu cepat, aku harus bangkit lagi dengan sigap. Cinta menungguku di depan mata. Aku harus jatuh cinta lagi kepadamu sejak awal, meskipun aku harus terluka lagi dan terluka lagi selama kamu masih menggadaikan senyummu kepada pemilik mata sipit itu. Aku belum lelah melihat hatiku patah.

Entah aku bodoh atau keras kepala atau tidak bisa menerima kenyataan bahwa kamu telah berdua. Aku tidak tahu. Nyatanya aku masih belum jera menambatkan hati di dermaga milikmu tanpa sepengetahuanmu tentu saja. Dan aku tidak mau kamu sampai tahu. Anggap saja aku terlalu mencintai diri sendiri karena aku memilih untuk tidak mengungkapkannya kepadamu, terserah. Bagiku, cinta tidak harus diucapkan dan ditunjukkan secara berlebihan. Tanpa kita menunjukkan pun, alam telah memperlihatkan terlebih dahulu lewat angin yang berhembus menerabas helaian rambutmu. Aku masih menunggu tangan tangan alam bergerak mendekatkan sisi kanan pundakku dengan sisi kiri pundakmu, lalu kita menjadi sangat dekat dalam waktu yang singkat dan kita saling memeluk erat. Persetan dengan orang yang enggan menunggu, hanya karena takut dikatakan terlalu lemah dan bodoh. Persetan dengan penantian tanpa akhir. Bukankah selalu ada janji sebuah pertemuan di setiap penantian? Kita saja yang tidak mau menunggu semenit lebih lama dan menyimpulkan terlalu cepat tentang janji itu. Sekali lagi, sekilas senyummu mampu membuatku percaya bahwa janji itu nyata, bahwa kita akan bertemu di ujung penantian masa. Seketika aku teringat mata milik kekasihnya. Seketika itu pula aku ingin menyerah karena penantian itu sudah pasti akan membuat jengah dan gerah. Aih, dimana rasa percayaku yang tadi. Payah

CUKUP !

Sepertinya aku mabuk. Duniaku seperti terjungkir kemudian terbalik. Bicaraku mulai ngawur, campur campur dan tidak beralur. Mudah saja aku mengatakan A dan setengah detik kemudian aku berkata B, menyangkal segala yang telah kuucapkan sebelumnya. Aku memang mabuk. Ruang panjang tenggorokanku barangkali telah dialiri arak berpuluh puluh tenggak.

Pergilah. Pergilah menuju senja. Tenggelamkan punggungmu disana bersama siapapun yang menjadi pilihanmu kini. Lalu aku akan berjalan menuju pagi, menghangatkan raga yang kembali mendingin sejenak setelah punggungmu hilang dari pelupuk mataku, bercampur bersama bubuk orange dari surga. Aku akan berlari menuju pagi paling hangat yang pernah ada, siapa tahu langkah jenjangmu berhasil menjangkau pagi lebih cepat daripada yang aku kira, dan kita akan bertemu. Seperti pertemuan pertama kita, aku sendiri dan kamu sendiri. Kamu sedang terluka dan aku akan menutup luka dengan bahagia yang kupunya. Aku akan membungkus lara dan kenangan lama. Dan kita akan bersama, sampai renta, sampai senja tak lagi ada.

***

Aku bangun dan berjalan menuju cermin dan masih melihat orang yang sama. Orang dengan keadaan terburuk sepanjang masa. Kemudian aku menarik kedua ujung bibirku, memaksakan senyum untuk kemudian bisa benar-benar tersenyum. Aku mengambil sisir lalu merapihkan rambutku perlahan, seperti menata kembali harapan yang baru saja pencar. Aku memperhatikan cermin, kupikir ini lebih baik dan pasti akan tetap baik-baik saja. Diam diam, di balik singgasana langit, bulan melihatku dengan tersenyum. ‘Kamu tidak perlu lagi malu kepadaku’ katanya sambil lalu.

Sampai jumpa pemilik senyum kesayanganku. Berlarilah menuju senja sampai kamu bertemu pagi. Aku menunggumu di setiap pagi yang hadir menyapa. Datanglah sendiri dan tanpa ragu aku akan menjemputmu dengan berlari.

-END-



Note: Apa kau berpikir kalau aku benar benar ‘AKU’? Jika iya, itu adalah kesalahan besar.

You Might Also Like

0 komentar: