Apa Maunya?

Senin, April 15, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


Apa Maunya?

Kadang kadang, saya dibuat sedemikian tidak mengertinya dengan pola pikir makhluk Tuhan teristimewa yang dinamai manusia. Sumpah, jika saya disuruh untuk menentukan hal-hal apa yang paling membingungkan di dunia ini, pikiran saya sudah bisa dipastikan akan merujuk ke satu hal, MANUSIA. Mari kita lihat sedikit fenomena yang baru-baru ini saya amati. Saya tidak meminta anda untuk menyetujui opini yang akan saya utarakan. Saya hanya meminta anda untu membaca tulisan ini sampai selesai, meskipun hati anda menentang opini saya mentah-mentah. Saya tekankan lagi, meskipun anda menolak opini saya mentah-mentah.

Anda pernah menghadiri sebuah rapat? Rapat apa saja, bisa rapat dalam sebuah organisasi, rapat di dalam sebuah kelas mungkin, atau apa saja. Tidak harus rapat DPR kok. Jika anda pernah menghadiri dan menjadi bagian dari sebuah rapat, saya akan mengkhususkan dan mempersempit pengertian rapat yang saya maksudkan. Rapat yang saya maksudkan adalah rapat dimana di dalamnya terdapat pemberian sebuah kepercayaan kepada seseorang atau beberapa orang. Pernah? Saya menganggap anda semua pernah. Lalu, pernahkah rapat anda mendadak stuck atau diam di tempat dan waktu yang ada menjadi terbuang sia-sia hanya karena tidak ada satu orang pun dari anggota rapat yang ada tidak mau diberi kepercayaan, menjadi ketua atau menjadi penanggung jawab misalnya? Pernah juga? Jika anda belum pernah mengalami situasi yang demikian, saya akan memberikan selamat karena peristiwa yang demikian sangat jarang terjadi, sangat jarang !

Pada situasi seperti ini, sang calon pengemban tanggung jawab saling menolak,saling melempar. Masing masing saling memberikan alasan yang entah memang kuat atau dibuat menjadi seolah-olah kuat dan pantas dijadikan alasan. Kalau sudah seperti ini, disaat sang calon pengemban tanggung jawab saling berdebat mempertahankan ‘ketidakmauannya’, anggota rapat yang tidak dipercayai menjadi apapun lah yang geram. Buang buang waktu, kebanyakan omong, kebanyakan alesan, bubar saja bubar, begitu kata mereka dalam hati. Orang orang dalam kelompok ini lalu memilih untuk diam meskipun geram, memilih untuk tidur daripada ikut ikutan tawur.

Inilah yang aneh. Keanehan yang selalu berulang tanpa pernah tahu kapan akan berakhir. Saat orang diberikan kepercayaan untuk mengemban amanah, justru malah saling melempar. Bilangnya tidak sanggup lah, belum pantas lah, masih banyak yang lebih pantas lah, belum berpengalamanlah, tidak ada waktu lah, belum sanggup mengkoordinir lah, menduduki jabatan penting di lembaga lain lah. DAMN. Terus saja mengatakan hal yang demikian. Semakin banyak alasan, semakin banyak perdebatan, rapat akan semakin seru kan? Lebih seru daripada tawuran antar supporter sepak bola Indonesia malah. Orang orang yang pasif di dalam rapat akan semakin menghujat (dalam hati), brengsek! Sampai kapan akan membuang-buang waktu wahai orang sok penting yang terhormat (masih dalam hati)? Kenapa tidak langsung mengatakan ‘iya saya sanggup, saya akan berusaha semampu saya’? Sanggup sungguhan atau tidak urusan belakang.

Tapi lihatlah di bagian lain, disaat orang yang dipercayai justru menolak untuk dipercayai, orang orang yang tidak dipercayai justru mati-matian berusaha untuk membuat dirinya dipercayai. Orang yang dibilang tidak bisa bertanggung jawab, ngotot bilang kalau dia adalah orang yang bertanggung jawab. Tapi setelah ada yang memberinya kepercayaan, justru malah menghindar dengan seribu alasan. Setelah ada yang mempercayainya untuk diberikan sebuah tanggung jawab, malah mengelak. Kontras bukan? Lalu maunya bagaimana? Apa yang salah dengan pola pikir manusia jaman sekarang sih? Apa gara gara kebanyakan makan MSG semasa SD? Mungkin saja.
Kebanyakan manusia memang seperti itu. Susah dimengerti. Saya juga demikian kok. Saya mengakui kalau saya juga punya kelakuan yang sama saat dihadapkan pada keadaan yang sama. Sebelum saya menuliskan ini, saya juga sudah pernah berada dalam posisi itu. Dan itu memang naluri, secara tidak sadar kita akan berusaha menolak. Iya kan?

Sekali lagi saya tekankan bahwa ini hanya opini. OPINI yang bisa jadi benar bisa jadi salah. Terserah sih.

You Might Also Like

0 komentar: