Dunia Sophie

Minggu, Desember 23, 2012 Atika Nugraheni 2 Comments


©Dunia Sophie dan Segala Efeknya©

Saya Atika Nugraheni. Seorang mahasiswa yang oleh takdir dipertemukan dengan sebuah mata kuliah bernama ‘Sejarah Pemikiran Modern’ dengan dosen pengampu mata kuliah yang sangat super bernama Bu Ellen Kristi Nugroho. Entah ini takdir yang indah atau justru takdir yang akan sedikit menodai kebahagiaan semester 3 saya. Sebut saja ini takdir abu abu pada awalnya, takdir hitam pada tengahnya, dan berakhir pada sebuah takdir yang sedemikian pink pada akhirnya.

Semuanya berawal dari sebuah buku berjudul Dunia Sophie. Buku ini sudah tidak asing lagi bagi saya karena saya pernah membacanya hampir separuh lebih ketika saya masih duduk di bangku kelas 1 SMA, ketika saya belum mengerti benar apa itu filsafat. Saya tidak pernah benar benar mengerti apa isi buku ini. Yang saya tahu adalah saya tidak pernah bisa mengerti cerita yang disajikan tentang buku ini, hilang begitu saja kecuali nama tokohnya. Hingga pada akhirnya, saya kembali dipertemukan dengan ‘Dunia Sophie’-nya Jostein Gaarder di usia saya yang sudah 18 tahun di sebuah kelas filsafat di sebuah universitas. Sebuah kebetulan yang tidak pantas untuk disyukuri. Dunia Sophie hadir kembali di kehidupan saya dan dimulai dari detika pertama ketika saya membaca halaman satu, sebuah petualangan menyelami samudra bernama filsafat DIMULAI.

Dosen saya,Bu Ellen, selalu meminta kami untuk membaca beberapa bab sebelum perkuliahan. Sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam tahapan mencapai predikat rajin, saya membacanya dengan seksama meskipun tidak pernah selesai. Mentok mentoknya, dari 3 bab yang seharusnya dibaca, saya hanya mampu membaca satu setengah bab saja. Itupun sudah dengan teramat terseok-seok dan tetap saja tidak bisa paham. Mungkin saja ini pengaruh usia atau mungkin saya mewarisi gen DDR ( Daya Dong Rendah) dari nenek moyang saya. Sudahlah, yang jelas, setiap saya mengikuti perkuliahan dan setiap Bu Ellen melemparkan pertanyaan random yang kebetulan jatuh kepada saya, saya hanya bisa menjawab seadanya bahkan terkesan asal-asalan dan tidak sesuai dengan topik. Berkebalikan dengan teman teman saya yang selalu menjawab dengan sempurna. Ah.. bodoh sekali ya.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu mempunyai minat yang besar dengan dunia filsafat. Selain itu, saya juga tidak mempunyai kemampuan untuk memahami sebuah permasalahan baru ( terlebih lagi permasalahan yang rumit ) dengan cepat. Ketika minat yang kurang digabungkan dengan kemampuan pemahaman yang kurang, dan tetap ‘ngotot’ menginginkan sebuah pemahaman, yang muncul hanyalah sebuah keinginan belajar yang pasang surut. Saya mengalami hal yang demikian. Otak saya sangat susah diajak kerjasama untuk memahami filsafat dan sejarah pemikiran modern tetapi ada sesuatu di dalam hati saya yang memaksa saya untuk tetap mencoba paham. Yang harus saya lakukan adalah berperang melawan rasa malas dan ketidakminatan saya, untuk menghasilkan paling tidak secuil pemahaman mengenai filsafat dan antek anteknya.

Selama ini, saya tidak mengetahui dan tidak pernah berusaha mengetahui tentang bagaimana sejarah dari sebuah pemikiran modern. Apa menariknya? Saya harus jujur paling tidak kepada diri saya sendiri kalau saya tidak terlalu tertarik dengan hal-hal demikian. Sayangnya, semakin dibaca, semakin jelaslah kalau buku Dunia Sophie ini tidak akan membawa saya ke dalam dunia petualangan sihir nan menakjubkan layaknya Harry Potter tetapi justru akan membawa saya kembali ke masa lalu di mana pemikiran pemikiran unik mulai digagas. Meskipun tidak begitu memahami, yang jelas melalui buku ini saya mulai mengerti siapa Thales, Anaximandros, Anaximenes dengan pemikirannya tentang alam raya-nya, Democritus dengan teori atomnya, Parmenides dan Heraclitus dengan pertentangan hebatnya, Empedocles, Sang Filosof Bijak Socrates, Plato, Aristoteles, Descartes, Spinoza, John Locke, David Hume, George Berkeley, Bjerkely, Immanuel Kant, Hegel, Kierkegaard, Marx, Charles Darwin, Sartre dan entahlah siapa lagi, terlalu banyak nama nama asing yang sulit diucapkan dengan benar oleh lidah saya dan terlalu banyak nama yang tidak bisa saya ingat dengan jelas. Mereka mereka ini adalah tersangka di balik kasus ‘Mengapa Dunia Sophie sulit untuk dipahami?’. Dan saya adalah salah satu korban pemikiran maha-dahsyat mereka. Korban dari kejeniusan seorang filosof masa lalu. Pemikiran para pemilik IQ Berlian memang selalu membuat terseok seok para pemilik IQ Melati yang dengan nekatnya mencoba untuk memahami, saya contohnya. Alhasil, bukan pemahaman yang saya dapatkan ketika saya berusaha untuk semakin memahami, tapi sakit kepala.

Siapa yang menyangka beratus-ratus tahun yang lalu sudah ada orang yang memikirkan hal-hal yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Pemikiran pemikiran tentang alam raya adalah pemikiran yang muncul pertama kali, hingga pada akhirnya mulai berkembang dan semakin berkembang. Lalu mulailah muncul rasionalisme, logisme, materialisme, empirisisme, agnotisme, psikoanalisis, ekstensialisme dan sebagainya. Sejauh ini, saya mulai mengerti bagaimana perkembangan sebuah pemikiran modern. Ternyata ini melalui sebuah proses yang teramat panjang. Sebuah teori hadir untuk kemudian disangkal dengan teori baru lalu kedua teori tersebut diambil bagian-bagian yang paling masuk akal yang pada akhirnya disempurnakan untuk sebuah kehadiran dari teori baru, disangkal lagi disangkal lagi, begitu terus entah sampai kapan. Ini semata-mata dilakukan supaya ilmu pengetahuan tidak bersifat statis dan tentu saja supaya bisa mencapai sebuah kesempurnaan pengetahuan meskipun pada dasarnya kesempurnaan dari pengetahuan itu sendiri tidak akan pernah bisa digenggam.
Dari sekian banyak filosof dan pemikiran pemikirannya yang dihidangkan dengan manis oleh Jostein Gaarder, saya mengagumi Jean Paul Sartre meskipun tidak bisa dipungkiri kalau saya mengagumi semuanya dengan segala pemikirannya yang tidak pernah saya mengerti.

John Paul Sartre adalah seorang ateis. Lalu kenapa? Itu tidak menjadi masalah bagi saya. Toh saya hanya pengagum yang mengagumi pemikiran uniknya, meski tidak bisa dipungkiri kalau saya tidak seluruhnya sepaham dengan pemikiran-pemikirannya. Sartre adalah seorang penganut paham ekstensialisme. Ekstensialisme sendiri adalah sebuah paham fisafat yang membicarakan tentang hakikat manusia. Masalah yang dibahas adalah bagaimana cara menjadi seorang manusia yang utuh? Menarik bukan? Sartre adalah satu satunya filosof yang secara lantang berseru bahwa manusia pada dasarnya adalah bebas. Bahkan lebih radikal lagi dia berkata ‘man is free and rather man is freedom’ (manusia itu bebas dan lebih tepatnya manusia adalah kebebasan. Sebuah pemikiran yang sangat berani, dengan pemikirannya yang seperti itu, itu berarti dia sudah siap mengalami berbagai kecaman dari berbagai pihak karena pada dasarnya pemikirannya sangat ekstrem dan berbeda dari kebanyakan. Tapi di situ lah uniknya.

Menurut saya, kebebasan yang dimaksudkan oleh Sartre bukanlah kebebasan yang biasa kita artikan. Kebebasan di sini mempunyai filosofi tersendiri dan tidak semua orang bisa mengartikan kebebasan-nya dengan tepat.  Manusia adalah makhluk yang berbeda dengan yang lain. Manusia adalah unik dan tidak dapat diterangkan dari sudut metafisika ataupun sistem sistem hukum. Manusia senantiasa ‘mengada’ dengan adanya dan tidak seperti yang lain yang sudah pasti ‘ada’ dengan adanya. Sehingga, yang lain itu dapat diterangkan secara metafisika dan sistem-sistem hukum. Berbeda dengan manusia, ia berada dalam ketidakpastian dan dilingkupi dengan kemungkinan kemungkinan. Dan dari kemungkinan kemungkinan yang terbentang di hadapannya, manusia hidup untuk mengutuhkan dirinya, menentukan dirinya untuk menjadi apa. Dan dari sinilah terjadi, bahwa antara manusia satu dengan manusia yang lain itu berbeda menentukan dirinya. Bahwa manusia itu unik. Dan dari keunikan itulah, ia tidak dapat diterangkan atau didefinisikan secara pasti. Proses inilah, Sartre kemudian berkata bahwa eksistensi mendahului esensi. Maksudnya, manusia itu pertama kali mengada mendapatkan dirinya terlempar di dunia, kemudian ia mempertahankan diri. Oleh karena itu ia tidak dapat didefinisikan, karena ia bermula dari ketiadaan sampai bagaimana ia membuat dirinya.

Kemudian, yang dimaksud manusia yang utuh dalam pandangan Sartre, adalah manusia yang sadar akan dirinya sendiri. Sadar bahwa sebenarnya ia berbeda dengan yang lain. Perbedaan itu, kata Sartre,  terletak pada, bahwa manusia itu “Being-for-itself” (Le’etre-pour-soi), yakni pengada yang sadar akan dirinya sendiri, dan yang selainnya adalah ” Being-in-self” (Le’etre-en-soi), pengada yang tidak sadar akan dirinya sendiri. Dari menyadari dirinya sendiri itu, manusia akan menjarak dengan dirinya sendiri dan melihat dirinya bahwa “aku” bukanlah “aku” yang sekarang. Sebab “aku” dapat berubah dari “aku” menjadi “aku” yang lain, dan terus akan begitu. Sebab “aku” pada mulanya berasal dari ketiadaan. Ketiadaan? Ya, kata Sartre. Manusia itu tiada. Ketika ia lahir di bumi, ia tiba-tiba ada begitu saja. Keberadaan manusia yang ada begitu saja itu, dalam ilmu fenomenologi disebut faktisitas. Karena tidak ada kepastian bagi manusia untuk bertindak menjadi apa dan hidup bagaimana, maka dari sinilah, kata Sartre, manusia itu bebas. Ia bebas untuk menentukan dirinya sendiri. Sebaliknya, apabila manusia merasa tidak bebas berbuat apa-apa, maka ia bukan manusia yang bereksistensi, tak akan menjadi utuh sebagai manusia. Sebab, ketika manusia tidak bebas, berarti ia menggantungkan sesuatu pada yang lain, dengan menggantungkan dirinya pada sesuatu itulah, menurut Sartre, manusia keluar dari jati dirinya yang bebas dari apapun. Termasuk di sini, Sartre menunjuk pada orang-orang yang bertuhan. Sebab ketika seseorang telah bertuhan, maka manusia telah mengonsepkan dirinya sebagai manusia sesuai dengan ajaran agama itu. Ia tidak bebas lagi sebagai manusia. Maka, Sartre, termasuk dari golongan filosof yang atheis. Dan dengan bebasnya manusia dari Tuhan, manusia akan menjadi bebas. Mutlak.

Namun, meskipun Sartre menobatkan bahwa manusia itu bebas mutlak. Ia menyadari ada kenyataan-kenyataan yang dihadapi manusia yang kurangnya penghayatan kebebasan. Sartre tidak mengatakan bahwa kenyataan-kenyataan itu adalah batasan dari kebebasan manusia. Sebab, katanya, kenyataan-kenyataan itu, meskipun tidak dapat dihindari, namun manusia dapat melupakan, memanipulasi, dan mengolahnya. Kenyataan-kenyataan itu kemudian oleh Sartre disebut dengan faktisitas. Adapun itu ada 5 macam:

1. place (tempat)
2. past(masa lampau)
3. environtment (lingkungan)
4. fellowmen (hubungan manusia)
5.death (maut).

Dari kelima macam faktisitas di atas, yang paling menarik adalah ketika Sartre menerangkan eksistensi manusia dalam hubungannya dengan orang lain atau fellowmen. Menurut Sartre, orang lain adalah neraka. Ini ungkapan metaforis. Maksudnya, keberadaan orang lain dapat menggoyahkan eksistensi “aku”. Sehingga itu amat berbahaya. Bagaimana tidak, ketika orang lain berhubungan dengan kita, maka, untuk memahami antara satu sama lain, maka orang lain itu akan mengonsepkan diri kita, akan mendefinisikan diri kita. Dari sinilah kemudian, kita akan menjadi obyek, sementara orang lain menjadi subyek. Ketika kita menjadi obyek, maka kita tidak bebas lagi. Kita terperangkap dalam konsep yang mereka tetapkan itu. Dan dari konsep itu, kita berarti dikuasai oleh mereka. Tapi Sartre memberikan solusi, bahwa untuk keluar dari situasi itu, untuk keluar dari faktisitas macam itu, manusia harus menyadari dirinya untuk tidak menjadi obyek, tapi memproyeksikan dirinya menjadi subyek. Dan dari situlah, kita bertarung untuk mengatakan “TIDAK!” pada pandangan orang lain kepada diri kita. Jadilah subyek, itulah pesannya.
Kata kata Sartre yang bagi saya sangat berkesan adalah saat dia mengatakan ‘Tidak bisa tidak, kehidupan manusia pasti punya arti. Kita sendirilah yang harus menciptakan artinya. Omong kosong dengan Nihilisme!!’.
Saya benar benar harus mengatakan WOW untuk kalimat yang satu ini. Dan kalimat ini menguatkan saya. Saya termasuk orang orang yang kurang bisa melakukan kegiatan kegiatan yang bagi sebagian besar orang selalu dianggap ‘berarti’ untuk orang lain. Saya malas, saya tidak aktif dalam organisasi, bla bla bla bla. Hal hal yang demikian ini yang kadang kala membuat orang menilai kehidupan saya sangat tidak mempunyai arti. Hidup saya adalah NIHIL. Hidup saya adalah tidak berguna. Ketika saya membaca bab tentang Sartre, ada pemahaman baru yang muncul di benak saya. Seketika saya berpikir, tahu apa mereka tentang hidup saya? Tahu apa mereka tentang arti kehidupan? Apakah mereka pikir hidup mereka sudah berarti dan benar benar berarti hanya dengan parameter yang demikian, sering melakukan kegiatan sosial atau organisasi misalnya? Bagaimana jika hanya dengan cara hidup saya yang demikian, hidup saya mempunyai arti? Bagaimana jika saya sudah menemukan sendiri apa arti dari kehidupan yang saya punya? Bagaimana jika hidup saya lebih berarti daripada hidup kalian? Bagaimana? Dari sini saya mulai menyadari bahwa tidak ada hidup manusia yang omong kosong, tidak ada hidup yang nihil. Hidup dari orang mana pun dan orang seperti apapun, tetap saja mempunyai arti. Entah disadari ataupun tidak.
Lalu tentang kebebasan. Manusia dikutuk untuk bebas, “kutukan kebebasan” mengharuskan manusia menciptakan dunianya sendiri & bertanggung jawab terhadapnya. Yang saya tangkap di sini adalah sebuah kebebasan yang bertanggung jawab. Kita semua, termasuk saya, bebas melakukan apapun. Kita bebas melakukan apapun asalkan kita mau menerima semua konsekuensi atas kebebasan tersebut. Ini memperkaya cara pandang saya terhadap kehidupan saya tentu saja. Kadang, banyak di antara kita yang hanya ingin hidup bebas tetapi tidak mau menanggung resiko dari kebebasan tersebut. Bukankah semua ada pertanggungjawabannya meskipun itu adalah sebuah kebebasan? Bukankah begitu?

Saya banyak mengalami kendala dalam memahami buku Dunia Sophie ini. Padahal Jostein Gaarder sudah membuat buku filsafat ini semenarik mungkin dengan membuat ada cerita di dalamnya. Gaarder juga menghadirkan tokoh tokoh utama seperti Sophie,Hilde,Alberto dan beberapa tokoh rekaan lainnya. Gaarder mengadopsi cara cara Socrates dalam mengajarkan sebuah filsafat yaitu dengan cara bercerita. Sayangnya, meskipun sudah menggunakan metode demikian, saya masih saja sulit memahami. Saya akan menyalahkan siapa ketika saya mengalami hal yang demikian? Jostein Gaarder? Mana bisa? Tidak bisa dipungkiri lagi kalau dia adalah pencerita yang baik (untuk orang orang dengan kemampuan pemahaman yang baik pula). Berarti kesimpulannya adalah saya yang … ah sudahlah jangan dibahas lagi. Pedih.

Kendala yang paling besar adalah rasa malas dan ngantuk yang luar biasa ketika halaman demi halaman Dunia Sophie mulai membahas tokoh tokoh filsafat. Ampun deh. Mungkin, tokoh tokoh filsafat ini pertama tama harus digambarkan sebagai tokoh yang rupawan dan super romantis yang siap membawakan sekotak martabak manis setiap saat kepada orang orang (khususnya anak kos) yang dengan susah payah membaca kisah hidupnya dan mencoba memahami pemikiran antiknya. Harusnya begitu. Mungkin dengan demikian, daya serap otak saya bisa meningkat berpuluhh puluh kali lipat, PASTI.

Selain itu, daya ingat yang kurang juga membuat saya kesusahan dalam memahami Dunia Sophie ini. Saya sangat pelupa, pelupa untuk urusan yang berkaitan dengan materi kuliah dan hal hal lain yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Kalau di dalam dunia kedokteran, ini disebut dengan ________________ entahlah. Bagaimana tidak, setiap kali saya berhasil memahami sebuah tokoh dengan pemikirannya dan beranjak ke tokoh lain, saya begitu saja lupa dengan pemikiran tokoh yang sudah berhasil saya pahami. Sialan. Siapa yang tidak emosi ketika dirinya mengalami hal hal yang seperti ini? padahal teman teman saya tidak mengalami apa yang saya alami. Mereka toh tetap masih bisa menjelaskan tentang tokoh tokoh filsafat dari yang paling uzur hingga yang sekarang dengan fasih dan tanpa ehm, eh lupa aku, mmm itu filosof yang mana ya?, eh yang ini bukan sih?, ah nggak tau deh. Menyebalkan sekali bukan? Itulah alasan mengapa saya tidak bisa memahami Dunia Sophie seutuhnya. Kalau ada orang yang bertanya ‘Sudah pernahkah membaca Dunia Sophie?’ saya akan menjawab ‘SUDAH’ dengan lantang. Tetapi berbeda cerita ketika saya diminta untuk menceritakan pemikiran pemikiran filosof yang ada di dalam buku Dunia Sophie. Saya pasti akan menjawab ‘Maaf saya lupa, mending anda baca bukunya sendiri ya. Kalau tidak punya bisa pinjam ke saya. SEKIAN’. 

Tapi lepas dari itu semua, ini adalah buku yang menarik yang menyimpan pemahaman mengenai sejarah dari sebuah pemikiran yang modern. Semenarik menariknya buku ini, ini tidak akan pernah bisa menarik ketika kita tidak bisa mengetahui maksud yang terkandung di dalamnya. Dan yang bisa menafsirkan maksud dari buku yang super duper menarik tetapi tingkat kerumitannya benar benar dahsyat adalah seorang yang cerdas, seorang yang mempunyai passion di bidang filsafat dan sejenisnya. Seorang yang saya maksud ini tentu saja adalah BU ELLEN KRISTI NUGROHO. Seorang dosen yang benar benar hebat dalam menjelaskan semua pemikiran rumit filosof filosof uzur, tanpa harus mengeluh sakit kepala terlebih dahulu tentu saja. Di tangan bu Ellen, sebuah pemikiran yang ruwet berubah menjadi seperti cerita cerita anak anak sejenis Doraemon, asyik sekali. HEBAT.

Terimakasih Dunia Sophie. Terimakasih untuk sakit kepala yang selalu saya alami ketika saya memaksakan diri untuk memahami apa yang ada di balik cover bertuliskan ‘DUNIA SOPHIE : Sebuah Novel Filsafat’. Terimakasih untuk perkenalannya dengan tokoh tokoh filsafat dunia. Terimakasih untuk pengetahuan barunya meskipun ini tidak akan bertahan lebih lama lagi di otak saya, tapi paling tidak saya pernah mengetahui tentang hal hal yang demikian.

Terimaksih Bu Ellen. Tanpa Bu Ellen, Dunia Sophie bagi saya adalah hanya sebuah novel membosankan yang tidak pernah bisa dipahami meskipun saya membaca seratus kali. Terimakasih untuk kata kata ringan dan sederhananya dalam menjelaskan pemikiran filosof filosof yang ada di dalam buku Dunia Sophie ini. Saya tahu ibu adalah seorang dosen yang hebat tetapi ibu tidak pernah menggunakan bahasa bahasa yang rumit untuk menonjolkan kehebatan ibu, terimakasih. Ibu adalah dosen filsafat paling hebat sepanjang masa.
We love you Bu Ellen..  J


                                                 With Love
Atika Nugraheni


You Might Also Like

2 komentar:

  1. GUA JUGA LAGI BACA INI DAN KEBAGIAN YG BAHASA INGGRIS KARENA GUA MAHASISWA SASING DAN DISURUH PRESENTASI DAN GUA KEBAGIAN SOCRATES ATHENS SAMA PLATO DAN GUE PUSING DAN GUA MULAI GILA -_-

    BalasHapus
  2. Mbak atika, dr dl saya sbnrny pngn bgt baca buku ini...tp saya takut gak bs paham jln ceritanya cz saya pny karya gaarder lain jdlny Maya spt nama saya, saya cm baca dkit trs gak saya lanjutkn lg cz saya sm skli gak ngerti. Kalo karya gaarder 1 lg jdlnya magic library, saya paling sk cz saya pustakawan ;) slm kenal

    BalasHapus