Berbeda Beda, karena Memang Beda (?)

Senin, Desember 03, 2012 Atika Nugraheni 0 Comments


Berbeda Beda, Karena Memang Beda (?)

Bhineka Tunggal Ika kini telah mengalami penyusutan makna, bahkan nyaris kehilangan maknanya. Aktualisasi ‘berbeda-beda tetapi tetap satu jua’ menjadi amat langka dewasa ini. Masyarakat semakin hari semakin menyalahartikan sebuah perbedaan yang pada akhirnya perbedaan justru digunakan sebagai senjata penghakiman bahwa suatu kelompok lebih baik dari kelompok lainnya. Sebuah perbedaan yang seharusnya menjadi motivasi peningkatan motivasi peningkatan integritas bangsa beralih fungsi seiring dengan maraknya modernitas pemikiran yang dipengaruhi oleh rasa ingin bersaing. Apakah ini berarti bahwa semakin modern pemikiran sebuah bangsa, perbedaan akan terlihat semakin tajam? Atau ini hanya terjadi pada sebuah bangsa yang pemikiran modern masyarakatnya didapat secara instan? Pemahaman yang kurang akan arti dari perbedaan mungkin mengambil peran penting di setiap centimeter penyusutan makna Bhineka Tunggal Ika. 

Persaingan antarkelompok mulai merampas sebuah kebersatuan. Fenomena ini bisa dilihat di institusi pendidikan tinggi.Munculnya kelompok kelompok mahasiswa yang mulai memisahkan diri dari mayoritas merupakan bukti paling sederhana dari adanya parit pemisah antar mahasiswa. Hanya parit memang, tapi kemungkinan untuk menjadi semakin dalam masih ada hingga akhirnya bukan lagi parit tapi jurang pemisah. Akan lebih susah untuk dilompati.

Mereka mungkin tidak sengaja memisahkan diri dari mayoritas. Tetapi, dengan alih-alih bahwa ideologi premature mereka tidak sejalan dengan kebanyakan, mereka akhirnya mulai membuat jarak. Jarak sempit untuk permulaan untuk kemudian menjadi semakin lebar dan semakin susah dirangkul untuk kembali disatukan. Beberapa menganggap ini sepele, hanya sekadar soal memilih teman nongkrong, teman curhat dan tidak menutup kemungkinan teman tidur ( siapa tahu? ). Coba lihat dari atas, bukankan akan semakin terlihat parit pemisah antara satu kelompok mahasiswa dengan kelompok mahasiswa lain? Ini adalah bentuk awal dari sebuah perpecahan dalam sebuah institusi pendidikan.

Anggap saja hal ini adalah hal yang tidak terhindarkan, sudah sejak awal ada scenario sebuah perguruan tinggi. Anggap saja begitu supaya tidak semakin rumit. Mungkin banyak yang lupa bahwa selalu ada hal penting di balik sesuatu yang dianggap sepele. Ada banyak hal luar biasa yang dimiliki oleh para mahasiswa yang dianggap remeh oleh mahasiswa lainnya yang merasa lebih superior. Sayangnya hal luar biasa itu tidak pernah dianggap nyata, toh nyatanya masih ada yang (merasa) lebih segala galanya. Ditambah lagi keengganan mencari tahu yang sudah mengakar sampai kea lam bawah sadar. Kalau begini siapa yang salah dan siapa yang benar? Mari kita telaah soal pengklasifikasian illegal mahasiswa ini dengan pembagian sebagai berikut : Akademisi Tulen, Organisator, Anak Gaul, dan yang tidak ketiganya.

Kelompok Akademisi adalah dimaksud adalah mereka yang selalu berorientasi pada nilai. Kuliah itu ya untuk belajar dan mendapatkan hasil yang memuaskan pada setiap ujian. Kuliah itu ya untuk mendapatkan nilai A. Mahasiswa semacam ini biasanya disebut mahasiswa kupu-kupu ( kuliah-pulang-kuliah-pulang ). Interaksi sosial yang payah tetapi dengan integritas yang bisa dibilang lumayan. Kombinasi yang buruk, tapi paling tidak ada yang bisa dibanggakan. Integritas, IP Cumlaude sempurna, dan berada di pelukan setiap dosen karena prestasi akademiknya. Yah, semacam itulah.



Kelompok kedua adalah Organisator. Organisator adalah orang orang hiperkatif. Mereka bergelut dalam kelembagaan kampus. Bahkan jika manusia tidak mengenal kata lelah dan ngantuk atau satu hari tidak hanya terdiri dari 24 jam, mungkin mereka akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengikuti seluruh organisasi yang ada. Sebut saja mereka mahasiswa kura-kura ( kuliah-rapat-kuliah-rapat). Beberapa organisator memang dilahirkan untuk berorganisasi tapi beberapa lainnya yang kesetanan mengikuti hampir semua organisasi, organisasi hanya dijadikan ajang eksistensi bahkan ada yang hanya untuk ajang pencarian jodoh. Supaya telinganya selalu mendengar ‘cieee yang sibuk rapat’ di detik yang dilaluinya.



Organisator adalah orang yang paling gencar menyuarakan ‘berorganisasi itu penting, berorganisasi itu menyenangkan, berorganisasi itu bla bla bla’. Tidak jarang ditemui, orang orang yang aktif dalam organisasi mengesampingkan orang yang tidak mengikuti organisasi. Selalu bertanya dengan tatapan sinis ‘kamu ikut organisasi apa?’ kepada orang yang jelas jelas tidak berorganisasi. Lalu mereka tersenyum menang ketika ada jawaban ‘aku nggak ikut organisasi apa apa nih’. Wow, semakin terlihat jelas bukan kalau berbeda beda karena memang beda?

Bersosialisasi dengan banyak orang mungkin adalah suatu pencapaian aktualisasi diri, tapi bukan berarti mengesampingkan tugas utama sebagai seorang mahasiswa, belajar. Menjadi organisator seharusnya bukan alasan menunda kelulusan hingga satu atau dua tahun lebih lama. Saking sukanya rapat, tidak sedikit dari mereka yang sukanya merapatkan tubuhnya ke lawan jenis. Sangat rapat. Kan memang sukanya ‘rapat’.

Kelompok ketiga adalah Anak Gaul. Mereka tidak beorientasi pada nilai, mereka juga tidak gila organisasi, tapi berita buruknya mereka gila fashion. Mereka datang ke kampus dengan pakaian model terbaru. Terlihat paling mencolok di antara manusia manusia normal. Kalau mahasiswi, biasanya ditandai dengan dandanan ala ala SPG, sepatu highheels, tas bermerek, rambut lurus selurus lurusnya rambut lurus atau justru sengaja dibuat ikal di bagian bawah rambutnya, fashion model paling anyar, gadget canggih. Tapi kalau mahasiswa, biasanya mereka tampil sok cool, sepatu cats atau sneaker, kaos oblong bermerek, jeans belel, pokoknya gaul. Dua kelompok di awal menganggap mereka hedonis atau entahlah apa namanya.



Ketiga kelompok ini bisa dipastikan saling menganggap remeh satu sama lain. Menganggap kelompoknya lebih unggul dibandingkan kelompok lainnya. Akademisi menganggap organisator terlalu banyak membuang waktu untuk kumpul kumpul tidak penting. Organisator menganggap Anak Gaul tidak punya keunggulan apapun selain bersolek. Anak Gaul mulai merendahkan Akademisi dengan berkata bahwa hidup tidak hanya untuk membaca buku tapi hidup juga butuh interaksi dengan sesamanya. Manusia kan makhluk sosial, bukan antisosial. Lalu ketika lingkaran saling menyalahkan semakin tak bisa diputus, akhirnya mereka mulai mencari cari kelompok yang derajatnya lebih rendah dibandingkan mereka. Siapa lagi kalau bukan kelompok yang tidak masuk ketiga-tiganya.

Kelompok ini adalah kumpulan orang orang yang tidak termasuk di kategori manapun. IP pas pasan, tidak pernah berorganisasi, tampilan cupu. Biasanya mereka bergerombol kesana kemari, menciptakan dunia sendiri, berusaha menutup telinga rapat rapat supaya tidak mendengar komentar macam macam dari kelompok kelompok diatas. Saat si kupu kupu berkata ‘mau sampai kapan IP di bawah standar?’, lalu kemudian kura kura berseru ‘ikutan organisasi dong biar hidup nggak datar, biar kenal orang orang baru. Hissh’ dan pada akhirnya Anak Gaul pun berkomentar ‘Cupu banget sih gaya lo, kayak gue dong!’. Bukankah cara yang paling baik adalah menghindar. ‘Peduli apa soal jurang pemisah? Terlanjur sakit hati’.

Pengelompokkan ini bukanlah hal yang baik untuk dipertahankan. Para mahasiswa seharusnya cukup dewasa untuk berpikir bahwa integritas adalah pilar yang seharusnya tidak bercabang. Bukankah tidak semua yang bercabang itu baik? Kelamin ganda misalnya.

Mengapa sulit sekali belajar menghargai sebuah perbedaan untuk mencapai rasa kebersatuan yang utuh? Dengan begitu, semua bisa beradaptasi dengan lebih baik lagi. Ayolah, kembalikan lagi makna ‘Bhineka Tunggal Ika’ ‘Berbeda beda tetapi tetap satu’ bukan ‘berbeda beda karena memang beda’.


©adaptasi dari karya Andi Gunawan ‘Separatisme Kekinian’©

You Might Also Like

0 komentar: