From Us to Someone

Kamis, Agustus 02, 2012 Atika Nugraheni 0 Comments


30 Juli 2012, 10:34 PM 

Dalam sekejap, semua keadaan menjadi lebih buruk dari awalnya yang sudah buruk. Malam itu buruk dan malam ini lebih buruk lagi. Sudah 24 jam rupanya. Dan dalam 24 jam itu, sesuatu telah merasuki jiwanya, meracuni otaknya, mengeraskan hatinya. Sesuatu itu bereaksi cepat. Saking cepatnya, kami tidak punya waktu untuk menyiapkan tameng hati. Kami lemah dari segala macam sisi terutama hati.
Sekarang, ada dua jiwa dalam satu jasad. Salah satunya jiwa asing yang entah datang dari mana. Jiwa asing itu mendominasi dan jiwa yang kami kenal mulai terkikis perlahan. Kami sedih, kami takut. Sedikit lagi, kami akan merasakan sebuah kehilangan. Astaga, jangan biarkan itu semua terjadi. Jiwa itu bagian dari kami. Demi apapun, kami akan berusaha untuk mempertahankan jiwa itu semampu kami dan sebisa kami.

Jiwa asing itu benar benar menghancurkan semuanya, menghancurkan kedamaian kami bersama jiwa yang lama. Semuanya sudah tidak baik baik saja. Jiwa itu mengacau, mengatakan yang tidak tidak tentang kami. Menggelapkan mata hatinya dan menghapus semua kenangan kenangan indah bersama kami tempo dulu. Sekarang dimatanya, kami busuk. Kami  hancur, kami sakit saat mendengar semua itu, tapi kami menahan semuanya di dalam hati kami masing masing. Kami tersenyum meski pahit. Kami mencoba kuat meskipun sebenarnya kami ingin mengakhiri semuanya. Yang membuat kami masih tetap bertahan di sini adalah karena kami menyayangi jiwa itu dan kami tidak ingin kehilangannya. Semoga Tuhan mencukupkan sabar kami.

Suasana semakin panas. Kaki kami mulai gentar tapi jiwa itu menyerang semakin ganas dan kami mulai tidak tau apa yang akan kami lakukan. Jiwa itu membuat kami benar benar bingung sekaligus lelah. Sebenarnya kami mulai enggan, kami ingin menyerah dan merelakan semuanya. Jiwa yang kami kenal sepertinya sudah benar benar tak mau mendengarkan kami. Yang dia tahu sekarang adalah kami orang orang yang tak memedulikannya, kami busuk. Jiwa asing itu sukses berat menghasut jiwa yang dulu kami kenal. Jika seseorang bertanya kepada kami apa yang paling ingin kami lakukan saat ini? Kami akan menjawab kami ingin menangis di hadapan jiwa itu supaya air mata kami bisa menghancurkan kerasnya hati, menghapus buruknya prasangka dan mengembalikan semuanya. Tapi sudahlah, kami masih mampu menahan kesedihan ini, sendiri. Kami kuat.

Seberapa busuk kami dimatanya sekarang? Ternyata kami sudah terlalu busuk. Kami sendiri mual mencium bau kami. Kami mengerti kalau jiwa itu menjauh, jijik. Sadarlah, jiwa asing itu sudah membutakan mata hati jiwamu sehingga kamu tidak pernah mau tahu semua yang kami lakukan. Semuanya salah, semuanya kurang, semuanya melukai. Itu karena kami manusia, kami jauh dari apa yang disebut kesempurnaan. Kami punya sisi jahat tapi jangan lupakan kalau kami juga punya sisi baik meski sedikit. Lihatlah kami seutuhnya, satu detik saja.

Akhirnya, kami memutuskan untuk menyerah. Kami bohong kalau kami kuat, itu supaya kami bertahan sedikit lebih lama untuk menghadapi jiwa itu yang semakin lama semakin kuat dan semakin lama semakin melemahkan kami. Kami runtuh sebelum kami berhasil meyakinkan jiwa itu untuk tetap di sini, di dalam lingkaran ini bersama kami.

Angin, jika kau berhembus melewati jiwa yang dulu sempat kami kenal itu di persimpangan jalan sana, tolong sampaikan maaf kami untuk semua kata yang menyakiti hatinya, untuk sikap kami yang kadang membuatnya sepi dan untuk semuanya.

Wahai kamu,
kami hanya ingin mengingatkanmu bahwa kamu tak pernah benar benar sendirian. Jika kamu sudah tidak menganggap kami ada di sampingmu dan peduli dengan kamu, itu tidak masalah. Kami mengerti apa yang selalu kamu pikirkan tentang kami. Tapi tolong mengertilah kalau kamu tidak mutlak sendirian, masih ada Tuhan di dalam hati kamu. Kami memang tidak pernah bisa mengerti kamu seutuhnya, tapi kami yakin kalau Tuhan sangat bisa. Jangan pernah hilangkan Dia sedetikpun karena Dia pasti akan sangat kecewa ketika kamu berkata ‘aku selalu sendiri’. Kamu boleh menghapus kami tapi jangan hapus Tuhan dari hati kamu.

Untuk kali ini dengarkan kami sebentar saja, setelah itu kamu boleh mempersilahkan kami pergi.

Kamu teman kami, kamu sahabat kami, tidak masalah jika hanya sepihak yang menganggap demikian. Kami menyayangi kamu. Kamu bagian dari kami. Kamu melengkapi celah kosong hati kami. Percaya ataupun tidak itu hak kamu. Kami tak sanggup memaksa hati kamu untuk mempercayai omongan kami. Tapi itu semua benar, kami bukan pembual. Percayalah karena kami sangat membutuhkan kepercayaan itu dan kami membutuhkan kamu. Sebenarnya kami tahu, kamu sangat sulit mempercayai kami karena sikap kami terhadap kamu yang kadang kadang bisa memunculkan ragu di hati kamu. Asal kamu tahu, kami tidak ada maksud untuk melakukan demikian. Yakinlah kalau itu hanya prasangka kamu, itu salah. Kami tidak akan menuntutmu untuk melakukan apa yang kami inginkan, kami tidak berhak sama sekali, terlalu otoriter. Itu terserah kamu.

Kami tidak akan berkata terlalu banyak, takutnya kamu semakin tidak percaya kepada kami. Yang perlu kamu tau saat ini adalah kami menyayangi kamu. Kamu harus lebih memahami bagaimana cara kami menyayangi kamu. Lihatlah lebih dalam :)

You Might Also Like

0 komentar: