Dunia Sophie

Minggu, Desember 23, 2012 Atika Nugraheni 2 Comments


©Dunia Sophie dan Segala Efeknya©

Saya Atika Nugraheni. Seorang mahasiswa yang oleh takdir dipertemukan dengan sebuah mata kuliah bernama ‘Sejarah Pemikiran Modern’ dengan dosen pengampu mata kuliah yang sangat super bernama Bu Ellen Kristi Nugroho. Entah ini takdir yang indah atau justru takdir yang akan sedikit menodai kebahagiaan semester 3 saya. Sebut saja ini takdir abu abu pada awalnya, takdir hitam pada tengahnya, dan berakhir pada sebuah takdir yang sedemikian pink pada akhirnya.

Semuanya berawal dari sebuah buku berjudul Dunia Sophie. Buku ini sudah tidak asing lagi bagi saya karena saya pernah membacanya hampir separuh lebih ketika saya masih duduk di bangku kelas 1 SMA, ketika saya belum mengerti benar apa itu filsafat. Saya tidak pernah benar benar mengerti apa isi buku ini. Yang saya tahu adalah saya tidak pernah bisa mengerti cerita yang disajikan tentang buku ini, hilang begitu saja kecuali nama tokohnya. Hingga pada akhirnya, saya kembali dipertemukan dengan ‘Dunia Sophie’-nya Jostein Gaarder di usia saya yang sudah 18 tahun di sebuah kelas filsafat di sebuah universitas. Sebuah kebetulan yang tidak pantas untuk disyukuri. Dunia Sophie hadir kembali di kehidupan saya dan dimulai dari detika pertama ketika saya membaca halaman satu, sebuah petualangan menyelami samudra bernama filsafat DIMULAI.

Dosen saya,Bu Ellen, selalu meminta kami untuk membaca beberapa bab sebelum perkuliahan. Sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam tahapan mencapai predikat rajin, saya membacanya dengan seksama meskipun tidak pernah selesai. Mentok mentoknya, dari 3 bab yang seharusnya dibaca, saya hanya mampu membaca satu setengah bab saja. Itupun sudah dengan teramat terseok-seok dan tetap saja tidak bisa paham. Mungkin saja ini pengaruh usia atau mungkin saya mewarisi gen DDR ( Daya Dong Rendah) dari nenek moyang saya. Sudahlah, yang jelas, setiap saya mengikuti perkuliahan dan setiap Bu Ellen melemparkan pertanyaan random yang kebetulan jatuh kepada saya, saya hanya bisa menjawab seadanya bahkan terkesan asal-asalan dan tidak sesuai dengan topik. Berkebalikan dengan teman teman saya yang selalu menjawab dengan sempurna. Ah.. bodoh sekali ya.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu mempunyai minat yang besar dengan dunia filsafat. Selain itu, saya juga tidak mempunyai kemampuan untuk memahami sebuah permasalahan baru ( terlebih lagi permasalahan yang rumit ) dengan cepat. Ketika minat yang kurang digabungkan dengan kemampuan pemahaman yang kurang, dan tetap ‘ngotot’ menginginkan sebuah pemahaman, yang muncul hanyalah sebuah keinginan belajar yang pasang surut. Saya mengalami hal yang demikian. Otak saya sangat susah diajak kerjasama untuk memahami filsafat dan sejarah pemikiran modern tetapi ada sesuatu di dalam hati saya yang memaksa saya untuk tetap mencoba paham. Yang harus saya lakukan adalah berperang melawan rasa malas dan ketidakminatan saya, untuk menghasilkan paling tidak secuil pemahaman mengenai filsafat dan antek anteknya.

Selama ini, saya tidak mengetahui dan tidak pernah berusaha mengetahui tentang bagaimana sejarah dari sebuah pemikiran modern. Apa menariknya? Saya harus jujur paling tidak kepada diri saya sendiri kalau saya tidak terlalu tertarik dengan hal-hal demikian. Sayangnya, semakin dibaca, semakin jelaslah kalau buku Dunia Sophie ini tidak akan membawa saya ke dalam dunia petualangan sihir nan menakjubkan layaknya Harry Potter tetapi justru akan membawa saya kembali ke masa lalu di mana pemikiran pemikiran unik mulai digagas. Meskipun tidak begitu memahami, yang jelas melalui buku ini saya mulai mengerti siapa Thales, Anaximandros, Anaximenes dengan pemikirannya tentang alam raya-nya, Democritus dengan teori atomnya, Parmenides dan Heraclitus dengan pertentangan hebatnya, Empedocles, Sang Filosof Bijak Socrates, Plato, Aristoteles, Descartes, Spinoza, John Locke, David Hume, George Berkeley, Bjerkely, Immanuel Kant, Hegel, Kierkegaard, Marx, Charles Darwin, Sartre dan entahlah siapa lagi, terlalu banyak nama nama asing yang sulit diucapkan dengan benar oleh lidah saya dan terlalu banyak nama yang tidak bisa saya ingat dengan jelas. Mereka mereka ini adalah tersangka di balik kasus ‘Mengapa Dunia Sophie sulit untuk dipahami?’. Dan saya adalah salah satu korban pemikiran maha-dahsyat mereka. Korban dari kejeniusan seorang filosof masa lalu. Pemikiran para pemilik IQ Berlian memang selalu membuat terseok seok para pemilik IQ Melati yang dengan nekatnya mencoba untuk memahami, saya contohnya. Alhasil, bukan pemahaman yang saya dapatkan ketika saya berusaha untuk semakin memahami, tapi sakit kepala.

Siapa yang menyangka beratus-ratus tahun yang lalu sudah ada orang yang memikirkan hal-hal yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Pemikiran pemikiran tentang alam raya adalah pemikiran yang muncul pertama kali, hingga pada akhirnya mulai berkembang dan semakin berkembang. Lalu mulailah muncul rasionalisme, logisme, materialisme, empirisisme, agnotisme, psikoanalisis, ekstensialisme dan sebagainya. Sejauh ini, saya mulai mengerti bagaimana perkembangan sebuah pemikiran modern. Ternyata ini melalui sebuah proses yang teramat panjang. Sebuah teori hadir untuk kemudian disangkal dengan teori baru lalu kedua teori tersebut diambil bagian-bagian yang paling masuk akal yang pada akhirnya disempurnakan untuk sebuah kehadiran dari teori baru, disangkal lagi disangkal lagi, begitu terus entah sampai kapan. Ini semata-mata dilakukan supaya ilmu pengetahuan tidak bersifat statis dan tentu saja supaya bisa mencapai sebuah kesempurnaan pengetahuan meskipun pada dasarnya kesempurnaan dari pengetahuan itu sendiri tidak akan pernah bisa digenggam.
Dari sekian banyak filosof dan pemikiran pemikirannya yang dihidangkan dengan manis oleh Jostein Gaarder, saya mengagumi Jean Paul Sartre meskipun tidak bisa dipungkiri kalau saya mengagumi semuanya dengan segala pemikirannya yang tidak pernah saya mengerti.

John Paul Sartre adalah seorang ateis. Lalu kenapa? Itu tidak menjadi masalah bagi saya. Toh saya hanya pengagum yang mengagumi pemikiran uniknya, meski tidak bisa dipungkiri kalau saya tidak seluruhnya sepaham dengan pemikiran-pemikirannya. Sartre adalah seorang penganut paham ekstensialisme. Ekstensialisme sendiri adalah sebuah paham fisafat yang membicarakan tentang hakikat manusia. Masalah yang dibahas adalah bagaimana cara menjadi seorang manusia yang utuh? Menarik bukan? Sartre adalah satu satunya filosof yang secara lantang berseru bahwa manusia pada dasarnya adalah bebas. Bahkan lebih radikal lagi dia berkata ‘man is free and rather man is freedom’ (manusia itu bebas dan lebih tepatnya manusia adalah kebebasan. Sebuah pemikiran yang sangat berani, dengan pemikirannya yang seperti itu, itu berarti dia sudah siap mengalami berbagai kecaman dari berbagai pihak karena pada dasarnya pemikirannya sangat ekstrem dan berbeda dari kebanyakan. Tapi di situ lah uniknya.

Menurut saya, kebebasan yang dimaksudkan oleh Sartre bukanlah kebebasan yang biasa kita artikan. Kebebasan di sini mempunyai filosofi tersendiri dan tidak semua orang bisa mengartikan kebebasan-nya dengan tepat.  Manusia adalah makhluk yang berbeda dengan yang lain. Manusia adalah unik dan tidak dapat diterangkan dari sudut metafisika ataupun sistem sistem hukum. Manusia senantiasa ‘mengada’ dengan adanya dan tidak seperti yang lain yang sudah pasti ‘ada’ dengan adanya. Sehingga, yang lain itu dapat diterangkan secara metafisika dan sistem-sistem hukum. Berbeda dengan manusia, ia berada dalam ketidakpastian dan dilingkupi dengan kemungkinan kemungkinan. Dan dari kemungkinan kemungkinan yang terbentang di hadapannya, manusia hidup untuk mengutuhkan dirinya, menentukan dirinya untuk menjadi apa. Dan dari sinilah terjadi, bahwa antara manusia satu dengan manusia yang lain itu berbeda menentukan dirinya. Bahwa manusia itu unik. Dan dari keunikan itulah, ia tidak dapat diterangkan atau didefinisikan secara pasti. Proses inilah, Sartre kemudian berkata bahwa eksistensi mendahului esensi. Maksudnya, manusia itu pertama kali mengada mendapatkan dirinya terlempar di dunia, kemudian ia mempertahankan diri. Oleh karena itu ia tidak dapat didefinisikan, karena ia bermula dari ketiadaan sampai bagaimana ia membuat dirinya.

Kemudian, yang dimaksud manusia yang utuh dalam pandangan Sartre, adalah manusia yang sadar akan dirinya sendiri. Sadar bahwa sebenarnya ia berbeda dengan yang lain. Perbedaan itu, kata Sartre,  terletak pada, bahwa manusia itu “Being-for-itself” (Le’etre-pour-soi), yakni pengada yang sadar akan dirinya sendiri, dan yang selainnya adalah ” Being-in-self” (Le’etre-en-soi), pengada yang tidak sadar akan dirinya sendiri. Dari menyadari dirinya sendiri itu, manusia akan menjarak dengan dirinya sendiri dan melihat dirinya bahwa “aku” bukanlah “aku” yang sekarang. Sebab “aku” dapat berubah dari “aku” menjadi “aku” yang lain, dan terus akan begitu. Sebab “aku” pada mulanya berasal dari ketiadaan. Ketiadaan? Ya, kata Sartre. Manusia itu tiada. Ketika ia lahir di bumi, ia tiba-tiba ada begitu saja. Keberadaan manusia yang ada begitu saja itu, dalam ilmu fenomenologi disebut faktisitas. Karena tidak ada kepastian bagi manusia untuk bertindak menjadi apa dan hidup bagaimana, maka dari sinilah, kata Sartre, manusia itu bebas. Ia bebas untuk menentukan dirinya sendiri. Sebaliknya, apabila manusia merasa tidak bebas berbuat apa-apa, maka ia bukan manusia yang bereksistensi, tak akan menjadi utuh sebagai manusia. Sebab, ketika manusia tidak bebas, berarti ia menggantungkan sesuatu pada yang lain, dengan menggantungkan dirinya pada sesuatu itulah, menurut Sartre, manusia keluar dari jati dirinya yang bebas dari apapun. Termasuk di sini, Sartre menunjuk pada orang-orang yang bertuhan. Sebab ketika seseorang telah bertuhan, maka manusia telah mengonsepkan dirinya sebagai manusia sesuai dengan ajaran agama itu. Ia tidak bebas lagi sebagai manusia. Maka, Sartre, termasuk dari golongan filosof yang atheis. Dan dengan bebasnya manusia dari Tuhan, manusia akan menjadi bebas. Mutlak.

Namun, meskipun Sartre menobatkan bahwa manusia itu bebas mutlak. Ia menyadari ada kenyataan-kenyataan yang dihadapi manusia yang kurangnya penghayatan kebebasan. Sartre tidak mengatakan bahwa kenyataan-kenyataan itu adalah batasan dari kebebasan manusia. Sebab, katanya, kenyataan-kenyataan itu, meskipun tidak dapat dihindari, namun manusia dapat melupakan, memanipulasi, dan mengolahnya. Kenyataan-kenyataan itu kemudian oleh Sartre disebut dengan faktisitas. Adapun itu ada 5 macam:

1. place (tempat)
2. past(masa lampau)
3. environtment (lingkungan)
4. fellowmen (hubungan manusia)
5.death (maut).

Dari kelima macam faktisitas di atas, yang paling menarik adalah ketika Sartre menerangkan eksistensi manusia dalam hubungannya dengan orang lain atau fellowmen. Menurut Sartre, orang lain adalah neraka. Ini ungkapan metaforis. Maksudnya, keberadaan orang lain dapat menggoyahkan eksistensi “aku”. Sehingga itu amat berbahaya. Bagaimana tidak, ketika orang lain berhubungan dengan kita, maka, untuk memahami antara satu sama lain, maka orang lain itu akan mengonsepkan diri kita, akan mendefinisikan diri kita. Dari sinilah kemudian, kita akan menjadi obyek, sementara orang lain menjadi subyek. Ketika kita menjadi obyek, maka kita tidak bebas lagi. Kita terperangkap dalam konsep yang mereka tetapkan itu. Dan dari konsep itu, kita berarti dikuasai oleh mereka. Tapi Sartre memberikan solusi, bahwa untuk keluar dari situasi itu, untuk keluar dari faktisitas macam itu, manusia harus menyadari dirinya untuk tidak menjadi obyek, tapi memproyeksikan dirinya menjadi subyek. Dan dari situlah, kita bertarung untuk mengatakan “TIDAK!” pada pandangan orang lain kepada diri kita. Jadilah subyek, itulah pesannya.
Kata kata Sartre yang bagi saya sangat berkesan adalah saat dia mengatakan ‘Tidak bisa tidak, kehidupan manusia pasti punya arti. Kita sendirilah yang harus menciptakan artinya. Omong kosong dengan Nihilisme!!’.
Saya benar benar harus mengatakan WOW untuk kalimat yang satu ini. Dan kalimat ini menguatkan saya. Saya termasuk orang orang yang kurang bisa melakukan kegiatan kegiatan yang bagi sebagian besar orang selalu dianggap ‘berarti’ untuk orang lain. Saya malas, saya tidak aktif dalam organisasi, bla bla bla bla. Hal hal yang demikian ini yang kadang kala membuat orang menilai kehidupan saya sangat tidak mempunyai arti. Hidup saya adalah NIHIL. Hidup saya adalah tidak berguna. Ketika saya membaca bab tentang Sartre, ada pemahaman baru yang muncul di benak saya. Seketika saya berpikir, tahu apa mereka tentang hidup saya? Tahu apa mereka tentang arti kehidupan? Apakah mereka pikir hidup mereka sudah berarti dan benar benar berarti hanya dengan parameter yang demikian, sering melakukan kegiatan sosial atau organisasi misalnya? Bagaimana jika hanya dengan cara hidup saya yang demikian, hidup saya mempunyai arti? Bagaimana jika saya sudah menemukan sendiri apa arti dari kehidupan yang saya punya? Bagaimana jika hidup saya lebih berarti daripada hidup kalian? Bagaimana? Dari sini saya mulai menyadari bahwa tidak ada hidup manusia yang omong kosong, tidak ada hidup yang nihil. Hidup dari orang mana pun dan orang seperti apapun, tetap saja mempunyai arti. Entah disadari ataupun tidak.
Lalu tentang kebebasan. Manusia dikutuk untuk bebas, “kutukan kebebasan” mengharuskan manusia menciptakan dunianya sendiri & bertanggung jawab terhadapnya. Yang saya tangkap di sini adalah sebuah kebebasan yang bertanggung jawab. Kita semua, termasuk saya, bebas melakukan apapun. Kita bebas melakukan apapun asalkan kita mau menerima semua konsekuensi atas kebebasan tersebut. Ini memperkaya cara pandang saya terhadap kehidupan saya tentu saja. Kadang, banyak di antara kita yang hanya ingin hidup bebas tetapi tidak mau menanggung resiko dari kebebasan tersebut. Bukankah semua ada pertanggungjawabannya meskipun itu adalah sebuah kebebasan? Bukankah begitu?

Saya banyak mengalami kendala dalam memahami buku Dunia Sophie ini. Padahal Jostein Gaarder sudah membuat buku filsafat ini semenarik mungkin dengan membuat ada cerita di dalamnya. Gaarder juga menghadirkan tokoh tokoh utama seperti Sophie,Hilde,Alberto dan beberapa tokoh rekaan lainnya. Gaarder mengadopsi cara cara Socrates dalam mengajarkan sebuah filsafat yaitu dengan cara bercerita. Sayangnya, meskipun sudah menggunakan metode demikian, saya masih saja sulit memahami. Saya akan menyalahkan siapa ketika saya mengalami hal yang demikian? Jostein Gaarder? Mana bisa? Tidak bisa dipungkiri lagi kalau dia adalah pencerita yang baik (untuk orang orang dengan kemampuan pemahaman yang baik pula). Berarti kesimpulannya adalah saya yang … ah sudahlah jangan dibahas lagi. Pedih.

Kendala yang paling besar adalah rasa malas dan ngantuk yang luar biasa ketika halaman demi halaman Dunia Sophie mulai membahas tokoh tokoh filsafat. Ampun deh. Mungkin, tokoh tokoh filsafat ini pertama tama harus digambarkan sebagai tokoh yang rupawan dan super romantis yang siap membawakan sekotak martabak manis setiap saat kepada orang orang (khususnya anak kos) yang dengan susah payah membaca kisah hidupnya dan mencoba memahami pemikiran antiknya. Harusnya begitu. Mungkin dengan demikian, daya serap otak saya bisa meningkat berpuluhh puluh kali lipat, PASTI.

Selain itu, daya ingat yang kurang juga membuat saya kesusahan dalam memahami Dunia Sophie ini. Saya sangat pelupa, pelupa untuk urusan yang berkaitan dengan materi kuliah dan hal hal lain yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Kalau di dalam dunia kedokteran, ini disebut dengan ________________ entahlah. Bagaimana tidak, setiap kali saya berhasil memahami sebuah tokoh dengan pemikirannya dan beranjak ke tokoh lain, saya begitu saja lupa dengan pemikiran tokoh yang sudah berhasil saya pahami. Sialan. Siapa yang tidak emosi ketika dirinya mengalami hal hal yang seperti ini? padahal teman teman saya tidak mengalami apa yang saya alami. Mereka toh tetap masih bisa menjelaskan tentang tokoh tokoh filsafat dari yang paling uzur hingga yang sekarang dengan fasih dan tanpa ehm, eh lupa aku, mmm itu filosof yang mana ya?, eh yang ini bukan sih?, ah nggak tau deh. Menyebalkan sekali bukan? Itulah alasan mengapa saya tidak bisa memahami Dunia Sophie seutuhnya. Kalau ada orang yang bertanya ‘Sudah pernahkah membaca Dunia Sophie?’ saya akan menjawab ‘SUDAH’ dengan lantang. Tetapi berbeda cerita ketika saya diminta untuk menceritakan pemikiran pemikiran filosof yang ada di dalam buku Dunia Sophie. Saya pasti akan menjawab ‘Maaf saya lupa, mending anda baca bukunya sendiri ya. Kalau tidak punya bisa pinjam ke saya. SEKIAN’. 

Tapi lepas dari itu semua, ini adalah buku yang menarik yang menyimpan pemahaman mengenai sejarah dari sebuah pemikiran yang modern. Semenarik menariknya buku ini, ini tidak akan pernah bisa menarik ketika kita tidak bisa mengetahui maksud yang terkandung di dalamnya. Dan yang bisa menafsirkan maksud dari buku yang super duper menarik tetapi tingkat kerumitannya benar benar dahsyat adalah seorang yang cerdas, seorang yang mempunyai passion di bidang filsafat dan sejenisnya. Seorang yang saya maksud ini tentu saja adalah BU ELLEN KRISTI NUGROHO. Seorang dosen yang benar benar hebat dalam menjelaskan semua pemikiran rumit filosof filosof uzur, tanpa harus mengeluh sakit kepala terlebih dahulu tentu saja. Di tangan bu Ellen, sebuah pemikiran yang ruwet berubah menjadi seperti cerita cerita anak anak sejenis Doraemon, asyik sekali. HEBAT.

Terimakasih Dunia Sophie. Terimakasih untuk sakit kepala yang selalu saya alami ketika saya memaksakan diri untuk memahami apa yang ada di balik cover bertuliskan ‘DUNIA SOPHIE : Sebuah Novel Filsafat’. Terimakasih untuk perkenalannya dengan tokoh tokoh filsafat dunia. Terimakasih untuk pengetahuan barunya meskipun ini tidak akan bertahan lebih lama lagi di otak saya, tapi paling tidak saya pernah mengetahui tentang hal hal yang demikian.

Terimaksih Bu Ellen. Tanpa Bu Ellen, Dunia Sophie bagi saya adalah hanya sebuah novel membosankan yang tidak pernah bisa dipahami meskipun saya membaca seratus kali. Terimakasih untuk kata kata ringan dan sederhananya dalam menjelaskan pemikiran filosof filosof yang ada di dalam buku Dunia Sophie ini. Saya tahu ibu adalah seorang dosen yang hebat tetapi ibu tidak pernah menggunakan bahasa bahasa yang rumit untuk menonjolkan kehebatan ibu, terimakasih. Ibu adalah dosen filsafat paling hebat sepanjang masa.
We love you Bu Ellen..  J


                                                 With Love
Atika Nugraheni


2 komentar:

LDR (Lonely,Desperate,and Rusty)

Minggu, Desember 09, 2012 Atika Nugraheni 3 Comments


LDR? Yakin?

Seorang cewek yang masih dalam proses menuju cantik waras sudah membuang sampah snacknya yang kelima. Cewek cantik malang itu terduduk sendirian di sebuah kamar kost dengan novel berserakan di mana-mana. Lalu diraihnya laptop usang yang sebentar lagi overheat gara gara dipaksa muter film hingga malam minggu berakhir. Hingga akhirnya, jemari lentiknya mulai bergerak di atas keyboard, menuliskan sesuatu.

Halo halo..

Sebelum gue mulai, marilah kita ucapkan Alhamdulillah terlebih dahulu karena kita masih bisa bertemu lagi di sini dalam keadaan jomblo sehat walafiat.

Kalo nggak salah ini hari Sabtu ya? Ngomong ngomong, udah berapa Malam Minggu yang terlewat dengan duduk sendirian di bawah jemuran basah? Udah berapa Malam Minggu yang  terlewat begitu aja dengan duduk di depan laptop, nyeret nyeret timeline, nungguin sms masuk dan bikin akun baru di twitter buat di-mentionin? Mau sampe kapan pake kata Sabtu Malam buat nyebut Malem Minggu? *yang jomblo sabar ya, Tuhan bersama jomblo yang menghabiskan malam minggunya buat tadarus di masjid*

Bosen banget deh ngomongin jomblo yang kebahagiaannya terenggut setiap Sabtu malem. Bosen karena itu berarti gue ngomongin diri gue sendiri. Pedih. Nah gara gara itu, gue akhirnya kepikiran buat ngebully para pelaku LDR #jomblosoksokan.



LDR itu apaan kakak?

LDR itu semacam punya pacar tapi pacarnya nggak keliatan, mungkin ngumpet di belakang hape karena itu cuman suaranya aja yang kedengaran.

LDR itu Long and Desperate Relationship tapi bisa juga Lonely, Desperate and Rusty.

LDR itu beda tipis sama jomblo meskipun ujung-ujungnya jomblo selalu lebih ngenes dibandingkan yang LDR-an. Eh tapi siapa bilang?

Banyak temen temen gue yang LDR-an. Awalnya mereka selalu bilang (gak bilang ke gue si) katanya mereka bakalan baik baik aja karena jarak bisa dibunuh dengan cinta. Nyatanya beberapa bulan kemudian mereka putus, kalah sama jarak. Cihh. Ini biasanya terjadi sama orang orang yang pacaran dari SMA, adek kelas sama kakak kelas. Terus pada akhirnya saat kelulusan tiba, salah satu pihak harus ngelanjutin kuliah di luar kota yang jaraknya beratus ratus kilometer. Daaan, disitulah masalah muncul, lalu putus deh.

Sebenernya, LDR itu punya dua efek, EFEK Positif dan EFEK Negatif.

Efek Negatif dari pratek LDR adalah
  1.          Boros pulsa apalagi kalo beda operator. Bayangin broh, dengan sepuluh ribu rupiah, operator XL cuman mampu ngomong beberapa menit dengan operator IM3. Beberapa menit itu gak mungkin bisa ngobatin rindu yang udah tumpah kemana mana. Apalagi kalo dalam waktu beberapa menit itu, kedua pihak nggak menfaatin waktu dengan baik. Bukannya ngobrol banyak malah cuman dengerin desah nafas satu sama lain.
  2.      Kebanyakan LDR tingkat galaunya meningkat 200% lebih banyak dibandingkan jomblo. Kali ini jomblo menang, yeah. Mereka galau gara gara kangen. Karena gue yakin, kangen gak bakalan bisa diatasi dengan sms-an berjam-jam. Kangen itu butuh penyelesaian tingkat akhir, apalagi kalo bukan ketemu. Lha kalo LDR, mana bisa ketemu setiap kali kangen? Mentok mentoknya juga ngeliat muka satu sama lain pake Skype, itupun kadang gak direstui sama koneksi internet.
  3.     Pelaku LDR, tingkat keseimbangannya sangat kurang. Karena apa? karena separuh jiwanya tertinggal di kota lain. Jadinya, mereka jalannya miring, kan kurang imbang.

Efek Positif LDR

GAK ADAA !!

Buat pelaku LDR, gue tanya sekali lagi? Apakah sebuah hubungan yang imbang bisa dicapai hanya dengan diwakili teks dan suara aja? *mikir*

“ Sayang, aku laper.’
“Makan dong sayang, ntar kamu sakit lho”
“Aku mau makan kalo aku disuapin sama kamu”
“tapi kan kita jauuuuuuuuh”
“………not responding……..”

==========

“Sayang, aku kangen kamu nih”
“ aku jugaa. Pengen peluk kamu deh jadinya”
“tapi kan kita jauuuuuuh”
*peluk peluk hape*

==========

So buat yang LDR, masih mau LDR-an? Udahlah nyerah aja gih. Mendingan jomblo kali gak nahan nahan kangen sampe sebegitunya dan gak ada yang perlu dikangenin. Jadi jomblo juga gak ada yang perlu dipikirin. Udah gitu, jomblo juga irit pulsa, kan gak ada orang yang perlu ditelpon. Ngapain mertahanin LDR-an kalo ujung ujungnya ada salah satu pihak yang gak kuat sama jarak. Ngapain mertahanin LDR-an kalo pada akhirnya putus juga. Udah, mendingan juga jomblo kali. #CuciOtak #JombloNyariTemen

Gini gini, LDR pada kenyataannya adalah sebuah pemborosan. Pemborosan uang buat beli pulsa yang mana pulsa itu digunain buat nelpon pacar yang ada di kota lain *mungkin sama cowok lain juga. Daripada buat beli pulsa, mending kasihin deh ke orang orang gak mampu di luar sana yang jadwal makannya random banget, bisa per 2 hari, bisa per 3 hari. Atau dimasukkin ke kotak amal masjid. Biasanya sih kalo buat beli pulsa buat telpon telponan sama pacarnya gak mikir mikir, tapi kalo buat dikasih ke orang yang gak mampu atau amal di masjid mikirnya beribu ribu kali, itupun yang dikeluarin paling mentoknya cuman seribu. Seribu pun kadang kadang masih nggak rela.

So, masih mau LDRan? Mending jomblo dan menjaga hatinya untuk orang yang namanya tertulis di Lauful Mahfudz kita, untuk orang yang dikirimkan Tuhan untuk mendampingi masa dewasa kita, masa tua kita,hingga akhirnya kita tiada. Bukankah itu lebih terkesan istimewa pada akhirnya?

#ImanpelakuLDRgoyah
#AdakemungkinanPutus #SiapSiapNikung *eh



*mengadaptasi tulisan @shitlicious berjudul 'Antara Sekolah dan LDR*

3 komentar:

Engineer ( again )

Kamis, Desember 06, 2012 Atika Nugraheni 1 Comments


It’s just for fun


Jurusan teknik ( teknik apapun itu ) bisa jadi adalah sebuah gerbang. Gerbang menuju sebuah penderitaan tiada akhir yang mungkin akan berakhir pada sebuah kesuksesan besar atau justru sebuah awal dari penderitaan baru. Anak teknik bisa jadi adalah sebuah korban dari kejamnya ilmu pengetahuan yang semakin lama semakin rumit, korban dari kejamnya dosen yang jargonnya ‘Dulu kuliah gue dibikin susah sama dosen gue, sekarang saatnya pembalasan dendam’. Mungkin ada yang bangga dari awal masuk sampe keluar, ada yang bangga pada awalnya sebelum merasa tersesat pada akhirnya, ada yang biasa biasa saja dari awal sampai akhir karena tidak ada pressure yang berarti (mother of GOD). Entahlah, ini hanya pendapat murahan dari seorang mahasiswa yang nggak tahu apa-apa tapi mencoba bicara panjang lebar tentang jurusan teknik. Bisa jadi ini omong kosong, bisa jadi ini fakta, bisa jadi separuh omong kosong, separuh fakta dan separuh aku. Sedikit lancang dan mengobrak-abrik podasi fakta. Tapi udahlah biarin aja.

Sebelum kuliah, kita selalu ngebayangin penampilan kita bisa semodis dan segahol tante-tante atau om-om yang dipaksa jadi anak kuliahan di FTV. Kenyataannya gak semanis itu, apalagi buat seseorang yang tersesat ambil jurusan teknik. Setahu gue yang gak tahu apa apa ini, beberapa bulan pertama jadi mahasiswa teknik itu gak boleh pake baju bebas. Mereka cuman boleh pake celana kain warna item, baju putih berkerah. Rambut plontos, semacam tahanan polisi yang ditangkep setelah maling ayam satu lusin. Yeah, selamat datang di hutan belantara bernama Fakultas Teknik. Penderitaan belum dimulai sayang, senior menanti.

Jadi seorang yang baru di lingkungan yang baru emang ngeselin, apalagi mahasiswa baru di kampus yang baru, dengan orang orang yang baru pula. Tapi beda ceritanya sih kalo jadi orang yang baru di hati yang baru. Mahasiswa baru khususnya jurusan teknik adalah santapan lezat bagi senior-senior mereka. Di mata para senior, yang udah menantikan masa-masa pembalasan dendam, mahasiswa baru jurusan teknik terlihat seperti steak paling lezat di dunia. Pada akhirnya ketika waktu ospek tiba, senior senior yang sok akrab pada awal mulanya, mendadak jadi bringas, ganas dan sok galak. Cari-cari kesalahan dari maba maba yang masih polos, masih suci dan masih mengerti apa arti tujuan kuliah yang sesungguhnya yaitu untuk mencari ilmu, bukan mencari gebetan. Belom lagi tugas yang aneh aneh dan gak manusiawi yang bisa gak tidur seharian. Arrrgh. Udah jadi tradisi kalo ospek anak teknik itu kejam, alasannya sih karena dunia teknik itu keras, teknik itu bukan buat orang orang yang cengeng, bukan buat banci yang dikit dikit ngeluh. Teknik itu buat orang kuat mental,kuat fisik. Masuk akal juga sih sebenernya. Tapi efeknya, sedikitnya satu milliliter dendam liquid menetes di sesuatu yang paling sensitif di bagian tubuh manusia, hati. Santai, cuman satu tetes kok, cepet kering asal di-lap-nya pake satu porsi cilok bandung. Gak boleh pake baju bebas selama beberapa bulan, ospek yang bikin capek, itu sebenernya resiko jadi anak teknik yang malang. Tapi dibalik semua kepedihan itu, Tuhan menciptakan apa yang disebut mata air di tengah padang pasir yaitu ketika ada cewek cantik yang tersesat masuk jurusan Teknik. Siapa tau jodoh.

Well, maafin gue ya yang udah mengaduk-aduk memori ospek yang menyedihkan. Sebagai permintaan maafnya, gue kasih kalian pacar satu satu ya. Kan lumayan buat nemenin ngerjain laporan.

Banyak hal-hal menarik dibalik kekerenan seorang anak teknik. Gak cuman menarik, kadang kadang malah unik dan gak sesuai banget sama image anak teknik yang udah terbentuk di mata sang garuda *ebuseeet. Yang pernah punya anggapan kalau anak teknik itu manusia luar biasa keren yang tetep bisa bertahan di tengah gempuran rumus rumus aneh sekaligus gak masuk akal dan tugas yang semakin gak tau diri , gue yakin kalo mereka itu sebenernya sama seperti manusia pada umumnya. Yang ngebedain cuman tempatnya, mereka ada di tempat yang jauh dari zona nyaman, apalagi zona empuk.

Gue gak pernah ikutan kuliahnya anak teknik. Tapi gue bisa ngebayangin kalo seandainya gue duduk di salah satu bangku di salah satu jurusan teknik. Misalnya aja di mata kuliah Kalkulus.



Karena gue anak sastra, gue jelas aja gak ngerti Kalkulus itu makhluk mengerikan macam apa? Lebih mengerikan mana antara Kalkulus sama Decepticon, gue juga gak tau. Tapi yang jelas, gue menganggap kalau anak Teknik itu semuanya paham Kalkulus. Padahal pada kenyataannya mereka juga ngerasain bingung kayak gue, meskipun gak semuanya. Ternyata setelah ditelusuri lebih lanjut, banyak anak Teknik yang menjadi korban kekejaman makhluk besar bernama Kalkulus. Cukup manusiawi bukan ketika anak Teknik bisa merasakan apa yang sering disebut ‘gak ngerti sama materi kuliah’?Selama ini memang kita termasuk gue selalu menganggap kalau anak Teknik itu pinter-nya membahana. Ya emang. Tapi itu cuman berlaku saat mereka ada di hadapan anak anak dari jurusan yang sama sekali berbeda, Sastra misalnya. Oke kalo mereka bisa ngejelasin gimana caranya ngerjain integral parsial dalam waktu kurang dari 2 detik atau mereka bisa ngejelasin teori dasar kalkulus yang menyatakan bahwa turunan dan integral adalah dua operasi yang berlawanan bla bla bla. Mereka bisa terlihat hebat di depan orang yang gak tau apa apa soal materi yang dijelaskannya, tapi belum tentu juga mereka sama hebatnya ketika ada diantara ratusan bahkan ribuan anak teknik yang lain. Manusiawi bukan?

Kalo urusannya soal belajar dan memahami mata kuliah yang semakin hari semakin menggila, gue pikir anak teknik itu sama kayak gue. Pasti sedih ya disama-samain sama gue? Bodo amat. Kalo gue itu orangnya susah banget dalam urusan memahami mata kuliah, susah inget hal hal yang penting, anak teknik pasti ada juga yang kayak gitu. Gue gak pukul rata semua anak teknik itu gitu yaa karena gue yakin banyak jenius jenius yang selalu langganan dapet IPK Cumlaude di antara yang merana dengan IPK standar anak teknik yaitu kurang dari sama dengan 2,75. Memahami materi mata kuliah emang susah, apalagi kalo yang mata kuliahnya susah, tingkat kesulitannya akan otomatis membelah diri. Gue baca buku, tapi apa yang gue baca gak mampir sama sekali di otak kita dan langsung pergi gitu aja. Salaaah apa otak ini? Apa otak gue terlalu penuh sama memori seorang manusia yang biasa biasa aja tapi kharismanya luar biasa ? *ngawur. Kalo seandainya teori ‘anak teknik juga sama seperti manusia pada umumnya’ itu benar, gue yakin ada dari beberapa anak teknik yang ngerasain apa yang gue rasain barusan.



Dosen teknik pada umumnya adalah orang-orang dari kalangan yang super jenius, pecinta hitungan rumit dengan seabrek rumus yang gak bakal dimengerti sama manusia normal apalagi manusia serigala. Di mata dosen teknik, semua hitungan yang dianggap seperti kumpulan benang ruwet sama mahasiswa teknik, hanya dipandang sebagai sesuatu yang mudah, sama mudahnya kayak hitungan satu ditambah satu sama dengan jendela. Sungguh sialan bukan kepalang. Kampret bin kampret kuadrat. This is a shit moment ketika seorang mahasiswa mati matian muter otak dan ngabisin waktu seharia buat ngerjain satu nomer soal yang dikasih dosen, ee ternyata dosen itu cuman ngerjain soal itu dalam waktu yang gak lebih dari satu menit dengan cara hitung yang lebih ringkas dan caranya gak kepikiran sama sekali di benak anak teknik. Kalo seandainya gue adalah anak teknik dan dosen teknik itu begitu semua, rasanya gue pengen tabokin tuh dosen satu satu. Dan apa yang dirasain sama anak teknik paling juga gak jauh beda, mungkin ada yang pengen ngebongkar otak dosennya itu dan ngeputus sambungan otaknya biar dosen itu gak jenius jenius amat. Dengan itu para anak teknik merana itu berharap akan ada penurunan level kesulitan tugas. Tapi kalo pada umumnya dosen teknik itu jenius level maichih, pasti ada dong yang gak umum a.k.a you know what I mean deh.



Pada kenyataannya, ketika seorang anak teknik ada di dalam ruangan kelas,pikiran mereka nggak selalu terfokus pada apa yang lagi dibahas sama dosennya. Bisa aja pas di kelas pikirannya malah melayang ke kampung halaman mikirin pacar yang entah lagi sama siapa sekarang. Mendadak galau dan ujung ujungnya apa yang disampein dosen yang saking ruwetnya itu sepertinya  mental begitu aja . Materi yang harusnya masuk kuping kanan nyantol di pikiran, nyatanya cuman lewat di atas kepala tanpa masuk kuping terlebih dulu.



Yang paling khas dari seorang anak Teknik adalah tugasnya yang gak pernah musnah. Tiap hari ada aja yang dikerjain, mulai dari laporan praktikum, tugas kuliah , ini lah, itu lah, pokoknya banyak. Tugas yang banyak itu ibaratkan bumbu penyedap di kehidupan anak teknik. Akan jadi sesuatu yang lucu ketika seorang anak teknik kegiatan sehari harinya itu cuman kuliah-pulang-ngapelin mba mba warteg yang unyu-tidur-bangun siang-kuliah lagi dst. Hish, kurang ‘teknik’ kalo gitu sih namanya.

Siapa yang gak stress kalo ada tugas terus-menerus? Gue yang tugasnya gak ada apa apanya dibandingkan anak teknik juga sering ngeluh kalo dikasih tugas sama dosen. Itu gue, nah anak teknik gimana? Pasti di dalam hati mereka, mereka juga ngerasain apa yang gue rasain. Mereka ngerasain muak begadang sampe pagi demi tugas yang deadlinenya pendek, mereka ngerasain muak harus ketemu sama laporan terus, mereka ngerasain jengkel dengan tugas tugas yang gak kelar kelar, mereka juga ngerasain frustrasi tiap ada tugas yang susahnya minta digampar. Tapi, mereka kembali kepada prinsip pertama sebagai anak teknik yaitu kalo ngeluh berkepanjangan siap siap aja dibilang banci.

Di alam pikiran juniornya atau orang yang bukan dari jurusan teknik, seorang anak teknik dengan tugas numpuknya melebihi sampah sampah yang numpuk di Bantar Gebang itu adalah seorang yang dengan rajin ngerjain tugasnya siang dan malem. Beda lagi anggapan antar sesama anak teknik. Mereka sama sama beranggapan kalo setiap anak teknik yang punya tugas itu selalu berusaha ngerjain tugas itu sampe bener bener mentok. Dan setiap anak teknik berpikiran kalo tugas tugas itu harusnya dikerjakan bukan didiemin begitu aja. Kenyataannya, ketika frustrasi menyerang sebelum ada usaha yang keluar, ketika syndrome malas mendadak menggerogoti semangat yang belum sempat membara, apa yang bisa dilakukuin? Copy paste. Kan udah gue bilang anak teknik juga manusia biasa yang bisa aja tergoda sama jalan pintas yang pastinya bisa menambah jam tidur. Gak selalu kayak gitu si, tapi sesekali pasti pernah lah.



Gak ada yang lebih menyayat hati ketika musim ujian tiba. Itu adalah saat saat di mana anak teknik yang biasa biasa aja artinya ya yang biasa aja biasa aja gitu lah, mulai mengalami kegelisahan mendadak. Saat saat seperti ini adalah saat saat yang paling tepat untuk menerapkan apa yang disebut SKS, sistem kebut ‘satu menit. Gak perlu seharian buat belajar rumus rumus gak penting, cukup satu menit toh sama sama nggak paham. Kadang, sering ditemui beberapa dosen yang sukanya ngerjain mahasiswanya. Gimana enggak, pas ngejelasin aja gampang seolah olah materi itu adalah materi paling menyenangkan dan paling gampang, tapi ketika ujian tiba, soal yang dikeluarin itu masyaalloh banget, sialan, rumitnya minta ampun. Ini ngeselin. Lebih ngeselin dari apapun yang masuk dalam kategori hal hal paling ngeselin.



Itulah alasan kenapa pas ujian datang, kalo gak niat belajar ya gak usah sekalian, jangan setengah setengah, daripada ngenes pas nggak ada yang keluar. Mending tidur karena belajar itu gak penting dan cuman buang buang waktu. Tapi kalo niat belajar, ya udah lahap semuanya meskipun itu bikin gak tidur sampe pagi.


Banyak pepatah yang diselewengkan secara semena mena sama anak teknik. Misalnya aja pepatahnya Einstein yang bilang ‘’Why should I memorize something? I can so easily get from a book’’ terus diselewengin jadi ‘’Why I should memorize something? I can so easily write it on atiny paper and take to the exam with me”. Cerdas banget ya. Ini ngebuktiin kalo logika anak teknik itu bener bener jalan. Super.

Ada kenyataan yang pahit di setiap ujian di fakultas teknik. Kenyataannya yaitu belajar gak belajar sama aja gagal kecuali kalo emang bener bener dewa. Pedih banget kan kalo gitu. Belom lagi kenyataan kenyataan kenyataan lain yang lebih pahit. Misalnya, sebuah pilihan yang berat banget ketika seorang anak teknik menginginkan nilai yang superdahsyat tapi masih pengen tidur, itu artinya gak ada kehidupan sosial. It means, gak ada yang namanya hang-out, gak ada yang namanya main bareng temen, yang jelas anak teknik yang semacam ini akan semakin dekat dengan kejombloan abadi. Terus kalo yang pengen kehidupan sosialnya tetep jalan sekaligus masih tetep pengen tidur, berarti harus siap nilainya jelek terus dan kalo gini jadinya siap siap aja gak dapet uang bulanan. Eh tapi ini masih bisa diatasi sih dengan bilang ke orang tua ‘Anak teknik itu wajar yang IP-nya jelek. Banyak temennya’. Yang terakhir, pengen semuanya sempurna. Pengen dapet nilai yang fantastis sekaligus kehidupan sosialnya tetep jalan (nggak autis). Siap siap aja, itu berarti nggak akan tidur selamanya. Siangnya ngegahol, malemnya ngerjain laporan, paginya kuliah. Tanpa tidur. Semacem vampire yang terjebak di kubangan lupur panas bernama ‘Jurusan Teknik’. Pilih mana?

Kalo gue boleh berpendapat sedikit, ujian itu gak perlu dibikin susah karena ujian itu bukan untuk nge-test apa yang kita ketahui tapi ini adalah tentang bagaimana cara kita buat belajar semalam sebelum test berlangsung. Bukannya rumusnya gini :



So? Masih mau belajar buat ujian? #pertanyaansesat #pemalesyangnyaritemen #setan

Gue tau kok apa yang sebenernya dipengenin sama anak teknik. Iyalah gue tau, kan gue cewek perhatian *ngakunyaaa. Gue tau kalo anak teknik itu pengen banget ngerasain kehidupan normal, kehidupan tanpa harus ada unsur laporan di dalamnya, kehidupan yang damai dengan setiap hari=liburan. Gue tau, tau banget malah. Gue tau kalo hampir 90% dari anak teknik itu pengen hibernasi, tidur panjang selama beberapa hari dan baru bangun ketika ada seorang putri yang ngebawain toga buat wisuda dan ijazah dengan predikat lulusan terbaik, ya minimal putri itu ngebawain laporannya yang udah beres lah. Gue tau kalo anak teknik itu pengen liburan, dan selalu liburan.



Gue juga tau betapa senengnya anak teknik ketika hari Sabtu tiba. Yang punya pacar bisa pacaran, ujung ujungnya pacarnya cuman dijadiin alat buat nulisin laporan. Yang LDR bisa memperpanjang kontrak setelah sebelumnya dihantui ‘aku nggak bisa LDR-an,aku butuh kamu yang selalu ada buat aku’ *tampar*. Ya paling nggak, para LDR-er sejati ini sampe minggu depan belom menyandang predikat ‘jomblo gara gara nggak kuat LDR-an’. Meskipun ujung ujungnya para jomblo lagi yang kena dampak kejamnya Sabtu malam. Ya tapi nggak apa apa, meskipun yang punya pacar pacaran , yang LDR-an telpon telponan--salah satu pihak minta putus sementara pihak yang lainnya berusaha mempertahankan--, jomblo tetep harus merasa bersyukur karena paling nggak pas besok pagi melek, hari masih bernama hari Minggu, bukan Senen. Itu artinya, masih punya waktu buat nunda ngerjain laporan, masih punya waktu buat main PES, masih punya waktu buat tidur meskipun beberapa jam. Aih, surge dunia anak teknik kayaknya cuman dateng setiap weekend. Eh semuanya gitu sih. Trus, semuanya berubah ketika negara api mengibarkan bendera SENIN. Tampang tampang sumringah mulai kembali kusut, memori tentang tugas yang belom kelar kembali muncul, pacar yang ada entah dimana kembali terabaikan, ya semacam itu. Selamat datang kembali ke dunia nyata wahai anak teknik..



Banyak banget yang bisa dibahas saat kita ngomongin jurusan teknik. Beberapa udah gue singgung, entah bener apa salah total, gue nggak tau dan nggak mau tau. Intinya gue nulis apa yang muncul di benak gue ketika pikiran gue tiba tiba mengarah ke anak jurusan teknik. Dan bahasan yang paling pengen gue tulis panjang kali lebar kali tinggi = volume balok adalah apalagi kalo bukan cintanya anak anak teknik. Bahannya udah ada, hasil penelitian terselubung gue juga udah ada meskipun dikit, tapi besok lagi ya. Gue nulis ini juga udah sampe meriang nih. Kalo gue meriang, siapa yang mau peduliin gue coba. Anak teknik macem kalian? Hissh, mana ada yang mau kalo gak ada modus terterntu. Haha, gue becanda kok.

Udahan ya, gue mau siap siap pulang kampung nih. Anak teknik pulang kampunya besok pas wisuda aja deh. Byee *cup cup muach muach*. 

1 komentar:

Berbeda Beda, karena Memang Beda (?)

Senin, Desember 03, 2012 Atika Nugraheni 0 Comments


Berbeda Beda, Karena Memang Beda (?)

Bhineka Tunggal Ika kini telah mengalami penyusutan makna, bahkan nyaris kehilangan maknanya. Aktualisasi ‘berbeda-beda tetapi tetap satu jua’ menjadi amat langka dewasa ini. Masyarakat semakin hari semakin menyalahartikan sebuah perbedaan yang pada akhirnya perbedaan justru digunakan sebagai senjata penghakiman bahwa suatu kelompok lebih baik dari kelompok lainnya. Sebuah perbedaan yang seharusnya menjadi motivasi peningkatan motivasi peningkatan integritas bangsa beralih fungsi seiring dengan maraknya modernitas pemikiran yang dipengaruhi oleh rasa ingin bersaing. Apakah ini berarti bahwa semakin modern pemikiran sebuah bangsa, perbedaan akan terlihat semakin tajam? Atau ini hanya terjadi pada sebuah bangsa yang pemikiran modern masyarakatnya didapat secara instan? Pemahaman yang kurang akan arti dari perbedaan mungkin mengambil peran penting di setiap centimeter penyusutan makna Bhineka Tunggal Ika. 

Persaingan antarkelompok mulai merampas sebuah kebersatuan. Fenomena ini bisa dilihat di institusi pendidikan tinggi.Munculnya kelompok kelompok mahasiswa yang mulai memisahkan diri dari mayoritas merupakan bukti paling sederhana dari adanya parit pemisah antar mahasiswa. Hanya parit memang, tapi kemungkinan untuk menjadi semakin dalam masih ada hingga akhirnya bukan lagi parit tapi jurang pemisah. Akan lebih susah untuk dilompati.

Mereka mungkin tidak sengaja memisahkan diri dari mayoritas. Tetapi, dengan alih-alih bahwa ideologi premature mereka tidak sejalan dengan kebanyakan, mereka akhirnya mulai membuat jarak. Jarak sempit untuk permulaan untuk kemudian menjadi semakin lebar dan semakin susah dirangkul untuk kembali disatukan. Beberapa menganggap ini sepele, hanya sekadar soal memilih teman nongkrong, teman curhat dan tidak menutup kemungkinan teman tidur ( siapa tahu? ). Coba lihat dari atas, bukankan akan semakin terlihat parit pemisah antara satu kelompok mahasiswa dengan kelompok mahasiswa lain? Ini adalah bentuk awal dari sebuah perpecahan dalam sebuah institusi pendidikan.

Anggap saja hal ini adalah hal yang tidak terhindarkan, sudah sejak awal ada scenario sebuah perguruan tinggi. Anggap saja begitu supaya tidak semakin rumit. Mungkin banyak yang lupa bahwa selalu ada hal penting di balik sesuatu yang dianggap sepele. Ada banyak hal luar biasa yang dimiliki oleh para mahasiswa yang dianggap remeh oleh mahasiswa lainnya yang merasa lebih superior. Sayangnya hal luar biasa itu tidak pernah dianggap nyata, toh nyatanya masih ada yang (merasa) lebih segala galanya. Ditambah lagi keengganan mencari tahu yang sudah mengakar sampai kea lam bawah sadar. Kalau begini siapa yang salah dan siapa yang benar? Mari kita telaah soal pengklasifikasian illegal mahasiswa ini dengan pembagian sebagai berikut : Akademisi Tulen, Organisator, Anak Gaul, dan yang tidak ketiganya.

Kelompok Akademisi adalah dimaksud adalah mereka yang selalu berorientasi pada nilai. Kuliah itu ya untuk belajar dan mendapatkan hasil yang memuaskan pada setiap ujian. Kuliah itu ya untuk mendapatkan nilai A. Mahasiswa semacam ini biasanya disebut mahasiswa kupu-kupu ( kuliah-pulang-kuliah-pulang ). Interaksi sosial yang payah tetapi dengan integritas yang bisa dibilang lumayan. Kombinasi yang buruk, tapi paling tidak ada yang bisa dibanggakan. Integritas, IP Cumlaude sempurna, dan berada di pelukan setiap dosen karena prestasi akademiknya. Yah, semacam itulah.



Kelompok kedua adalah Organisator. Organisator adalah orang orang hiperkatif. Mereka bergelut dalam kelembagaan kampus. Bahkan jika manusia tidak mengenal kata lelah dan ngantuk atau satu hari tidak hanya terdiri dari 24 jam, mungkin mereka akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengikuti seluruh organisasi yang ada. Sebut saja mereka mahasiswa kura-kura ( kuliah-rapat-kuliah-rapat). Beberapa organisator memang dilahirkan untuk berorganisasi tapi beberapa lainnya yang kesetanan mengikuti hampir semua organisasi, organisasi hanya dijadikan ajang eksistensi bahkan ada yang hanya untuk ajang pencarian jodoh. Supaya telinganya selalu mendengar ‘cieee yang sibuk rapat’ di detik yang dilaluinya.



Organisator adalah orang yang paling gencar menyuarakan ‘berorganisasi itu penting, berorganisasi itu menyenangkan, berorganisasi itu bla bla bla’. Tidak jarang ditemui, orang orang yang aktif dalam organisasi mengesampingkan orang yang tidak mengikuti organisasi. Selalu bertanya dengan tatapan sinis ‘kamu ikut organisasi apa?’ kepada orang yang jelas jelas tidak berorganisasi. Lalu mereka tersenyum menang ketika ada jawaban ‘aku nggak ikut organisasi apa apa nih’. Wow, semakin terlihat jelas bukan kalau berbeda beda karena memang beda?

Bersosialisasi dengan banyak orang mungkin adalah suatu pencapaian aktualisasi diri, tapi bukan berarti mengesampingkan tugas utama sebagai seorang mahasiswa, belajar. Menjadi organisator seharusnya bukan alasan menunda kelulusan hingga satu atau dua tahun lebih lama. Saking sukanya rapat, tidak sedikit dari mereka yang sukanya merapatkan tubuhnya ke lawan jenis. Sangat rapat. Kan memang sukanya ‘rapat’.

Kelompok ketiga adalah Anak Gaul. Mereka tidak beorientasi pada nilai, mereka juga tidak gila organisasi, tapi berita buruknya mereka gila fashion. Mereka datang ke kampus dengan pakaian model terbaru. Terlihat paling mencolok di antara manusia manusia normal. Kalau mahasiswi, biasanya ditandai dengan dandanan ala ala SPG, sepatu highheels, tas bermerek, rambut lurus selurus lurusnya rambut lurus atau justru sengaja dibuat ikal di bagian bawah rambutnya, fashion model paling anyar, gadget canggih. Tapi kalau mahasiswa, biasanya mereka tampil sok cool, sepatu cats atau sneaker, kaos oblong bermerek, jeans belel, pokoknya gaul. Dua kelompok di awal menganggap mereka hedonis atau entahlah apa namanya.



Ketiga kelompok ini bisa dipastikan saling menganggap remeh satu sama lain. Menganggap kelompoknya lebih unggul dibandingkan kelompok lainnya. Akademisi menganggap organisator terlalu banyak membuang waktu untuk kumpul kumpul tidak penting. Organisator menganggap Anak Gaul tidak punya keunggulan apapun selain bersolek. Anak Gaul mulai merendahkan Akademisi dengan berkata bahwa hidup tidak hanya untuk membaca buku tapi hidup juga butuh interaksi dengan sesamanya. Manusia kan makhluk sosial, bukan antisosial. Lalu ketika lingkaran saling menyalahkan semakin tak bisa diputus, akhirnya mereka mulai mencari cari kelompok yang derajatnya lebih rendah dibandingkan mereka. Siapa lagi kalau bukan kelompok yang tidak masuk ketiga-tiganya.

Kelompok ini adalah kumpulan orang orang yang tidak termasuk di kategori manapun. IP pas pasan, tidak pernah berorganisasi, tampilan cupu. Biasanya mereka bergerombol kesana kemari, menciptakan dunia sendiri, berusaha menutup telinga rapat rapat supaya tidak mendengar komentar macam macam dari kelompok kelompok diatas. Saat si kupu kupu berkata ‘mau sampai kapan IP di bawah standar?’, lalu kemudian kura kura berseru ‘ikutan organisasi dong biar hidup nggak datar, biar kenal orang orang baru. Hissh’ dan pada akhirnya Anak Gaul pun berkomentar ‘Cupu banget sih gaya lo, kayak gue dong!’. Bukankah cara yang paling baik adalah menghindar. ‘Peduli apa soal jurang pemisah? Terlanjur sakit hati’.

Pengelompokkan ini bukanlah hal yang baik untuk dipertahankan. Para mahasiswa seharusnya cukup dewasa untuk berpikir bahwa integritas adalah pilar yang seharusnya tidak bercabang. Bukankah tidak semua yang bercabang itu baik? Kelamin ganda misalnya.

Mengapa sulit sekali belajar menghargai sebuah perbedaan untuk mencapai rasa kebersatuan yang utuh? Dengan begitu, semua bisa beradaptasi dengan lebih baik lagi. Ayolah, kembalikan lagi makna ‘Bhineka Tunggal Ika’ ‘Berbeda beda tetapi tetap satu’ bukan ‘berbeda beda karena memang beda’.


©adaptasi dari karya Andi Gunawan ‘Separatisme Kekinian’©

0 komentar: