Semangat saya
mudah hilang. Terkadang, saya bisa menjadi orang dengan semangat yang tiada
tara. Dan dalam beberapa saat, saya bisa menjadi orang paling pesimis yang
pernah ada. Ketidakstabilan itulah yang membuat saya tidak pernah bisa
menyelesaikan semua hal dengan baik. Itu yang saya takutkan, terutama yang
berkaitan dengan skripsi saya.
Saat ini, saya
memang sedang senang-senangnya dengan topik penelitian yang saya ambil. Sesusah
apapun referensinya, toh saya tidak peduli. Saya justru bersemangat karena
jikalau saya bisa menyelesaikan hal ini dengan baik, tentu saja ada sedikit
kebanggaan yang akan muncul. Saya bisa menganggap diri saya keren untuk pertama
kalinya. Tapi, di sisi lain, dengan topic yang lumayan sulit untuk ukuran saya,
tentu saja saya akan melewati berbagai macam tingkatan depresi karena apa yang
saya kerjakan tak kunjung usai. Lalu, saya bisa saja berhenti di tengah jalan
sebelum sempat menyelesaikan hal yang nantinya akan membuat saya sedikit keren
itu. Saya bosan, saya depresi, saya hampir gila, dan beberapa alasan lain yang
dengan mudah menurunkan semangat saya.
Saya
mengumpulkan niat. Saya bilang kepada diri saya sendiri, apapun yang terjadi
saya akan mengerjakan dua bab yang teramat sulit itu dalam satu minggu saja.
Betapapun sulitnya mencari referensi, betapapun susahnya saya merangkai
kalimat. Satu minggu. Hanya satu minggu. Tidak lebih. Dalam satu minggu itu,
saya harus memaksimalkan kerja otak saya. Sepertinya ini sudah waktunya bagi
otak saya untuk bekerja sedikit lebih keras.
Demi target yang
akan saya kejar dalam waktu satu minggu ini, saya akan mengorbankan segala
kesenangan saya selama ini. Tidak boleh ada kata malas. Saya sudah cukup bodoh,
kalau saya juga malas, mau jadi apa saya ini? Tidak boleh ada nonton film
sampai larut malam dan hal-hal yang menyangkut kesenangan saya. Selama ini,
saya sudah terlalu memanjakan diri saya sendiri dengan terlalu banyak
memberikan kompensasi. Mengerjakan tugas 5 menit tapi istirahatnya berjam-jam. Kali
ini tidak ada lagi.
Saya harus
berusaha mati-matian. Setidaknya untuk seminggu ini. Saya akan mengerjakan
tugas saya dengan semaksimal mungkin. Bismillah. Seminggu ini saja.
Saya butuh
keajaiban. Keajaiban yang saya inginkan adalah mendadak ada setumpuk referensi
di hadapan saya tanpa harus susah susah mencari, ada keinginan yang begitu
besar untuk menyelesaikan semuanya, otak saya tiba-tiba bekerja dengan sangat
baik, dosen-dosen memuji kekerenan proposal saya, lalu proposal skripsi saya
diterima tanpa revisi sama sekali.. Sayangnya, mana ada hal-hal seperti ini
terjadi begitu aja. Yang ada, saya masih harus mencari referensi sendiri,
keinginan mengerjakan tidak juga muncul, otak saya tidak bekerja untuk hal-hal
seperti ini, proposal saya entah bagaimana kabarnya. Pft.
Keajaiban tidak
akan diturunkan kepada orang-orang seperti saya. Saya tahu itu.
Bagaimana
caranya supaya saya bisa menuliskan bab demi bab dengan lancar? Merangkaikan
kata-kata untuk sesuatu yang ilmiah entah kenapa membuat otak saya berpikir
dengan sangat keras. Tidak seperti tulisan-tulisan lain yang biasa saya buat.
Ya meskipun tulisan-tulisan saya tidak terlalu bagus, setidaknya saya bisa menuliskan
apa yang saya mau dengan sangat lancar tanpa harus membuat otak saya over heat.
Oh my God.
Bagaimana bisa saya menyelesaikan semua ini tanpa luka di sana-sini?
‘Semangat
ya ngerjain proposal skripsinya’
‘Jangan
keasyikan ngerjain proposal skripsi lho ya. Makan dulu. Kesehatanmu lebih
penting’
‘Ayok
ah jangan males-malesan. Katanya mau lulus bulan April’
Saya berbicara
pada diri saya sendiri. Setidaknya itu lebih baik daripada tidak ada yang
menyemangati sama sekali.
Saya mempunyai
rasa malas yang lebih banyak dari orang-orang kebanyakan dan saya membiarkan
rasa malas itu berkembang biak di dalam diri saya. Saya tidak mempunyai target
lulus yang jelas. Saya kurang bersemangat. Dan yang lebih parah lagi, saat saya
dikejar deadline, saya sering lupa makan dan tentu saja tidak ada yang dengan
sukarela mengantarkan makanan ke kost saya dan mengatakan ‘makan dulu biar nggak sakit’. Saat saya sedang dalam kondisi
waras, saya berusaha memotivasi diri saya sendri. Saya mengingat cita-cita
saya. Berbicara di depan kaca dengan kalimat-kalimat motivasi ala
motivator-motivator ternama. Saya kembali meyakinkan diri saya bahwa saya
sebenarnya tidak bodoh-bodoh amat.
Untungnya, ada
beberapa teman yang meskipun intensitasnya tidak sering, namun mereka selalu
menyemangati saya. Saya sangat berterimakasih. Setidaknya, masih ada yang mau
menyempatkan waktunya untuk peduli dengan keadaan saya. Terkadang, berada di
antara orang-orang yang mau peduli, mampu membuat saya menjadi semakin
bersemangat.
Deadline BAB 2
dan 3 masih dua minggu lagi. Berhubung BAB 1 saya masih tergolong salah besar,
saya menanggung beban 3 Bab sekaligus dalam 2 minggu. Harus bersandar pada bahu
siapa kalau ditengah pengerjaan bab demi bab yang mematikan itu tiba-tiba saya
merasa begitu lelah? Orang-orang beriman selalu mengatakan, saat tidak ada bahu
untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud. Jelas saya tahu itu. Namun
sebagai orang dengan iman yang masih gonjang-ganjing, saya akan berkata ‘saat
tidak ada bahu untuk bersandar, masih ada bahu jalan kok’.
Sial. Oh Bapak
dosen yang terhormat, bolehkan saya memutuskan untuk walk out ?
Saya mengagumi
dosen saya. Apa yang membuatnya mempesona pun sebenarnya saya tidak terlalu
paham. Toh beliau tidak ganteng, tidak putih, tidak modis, tapi saya selalu
merasa seperti tersihir setiap kali melihat beliau mengajar. Jelas sebuah kemustahilan
kalau beliau memakai susuk pemancar aura atau semacamnya. Ah, pikiran saya
terlalu klenik.
Pada hari
pengumpulan BAB 1, dosen saya yang entah kenapa saya kagumi itu masuk kelas
dengan rambut basah yang disisir rapi ke belakang. Pyar. Dalam hati saya
mengatakan ‘Pria seperti ini lho yang
selama ini saya cari. Andai saja ada pria semacam dosen saya ini, saya pasti
tidak akan repot-repot jatuh cinta kesana kemari’.
Dengan
wawasannya yang jelas lebih luas dibandingkan dengan saya, beliau menjelaskan
perihal BAB 1 ini. Bahwasanya, dalam penulisan latar belakang itu harus
dituliskan alasan-alasan yang mendasari pemilihan topik penelitian dan hal-hal
lain yang tidak terlalu saya dengarkan lagi karena saya telah menyadari bahwa BAB
1 yang saya buat sudah pasti salah total.
Baiklah. Rupanya
usaha copy-paste saya sia-sia. Saya
harus mengulang segalanya dari nol, dengan kalimat-kalimat yang saya rangkai
sendiri. Ya Tuhan. Lelah otak adek bang!
Mendapat telpon
dari Ibu benar-benar mampu meningkatkan semangat. Saya mengeluh kepada Ibu saya
tentang otak saya yang hampir meledak memikirkan si calon skripsi ini. Lalu Ibu
saya menyemangati saya dan menyuruh saya untuk tetap berusaha. Kata Ibu saya,
jangan sampai kalah dengan teman-teman yang lain.
‘Teman-temanmu aja bisa, kamu juga harus bisa dong.
Jangan sampai kalah’,
kata Ibu saya dengan nada yang sudah sangat saya hafal di telinga.
Ibu saya
menggantungkan harapan yang teramat besar pada anak satu-satunya ini. Saya
tentu saja merasa sangat bersalah kalau-kalau saya mengecewakan Ibu saya
nantinya. Dengan ini, yang saya perlukan hanyalah keinginan untuk bisa melesat
jauh meninggalkan orang-orang yang selama ini sudah terlalu jauh membuat jarak
dengan saya. Saya ingin melampaui teman-teman saya. Entah bisa atau tidak. Ini
demi Ibu saya.
BAB 1 sudah
selesai. Tidak ada kata-kata yang saya buat sendiri. Memalukan sekali bukan?
Mahasiswa semester 7 tapi belum bisa merangkai kata-kata untuk sekadar membuat
latar belakang penelitian dan sejenisnya. Tidak ada pembelaan untuk hal ini.
Saya akui, saya memang tidak bisa menuliskan apapun untuk hal-hal yang
berhubungan dengan penelitian atau apapun itu. Pengetahuan saya terlalu sempit.
Minat saya terhadap dunia riset hampir mendekati angka nol. Apa daya, melakukan
sebuah penelitian dan menjadikannya sebuah skripsi adalah salah satu syarat
untuk lulus. Saya ingin lulus. Tentu saya saya harus melewati semua ini. Pedih,
tapi akan lebih pedih lagi kalau saya terjebak selamanya di dalam dunia
mahasiswa dengan umur yang semakin hari semakin menua.
Judul penelitian
teman-teman saya keren-keren. Ada yang mau meneliti tentang ah entahlah. Saking
kerennya, saya malah lupa. Rata-rata sudah mendapatkan pujian yang luar biasa
dari dosen yang mengampu mata kuliah ini. Sedangkan saya? Membaca judul sendiri
saja rasanya sudah seperti mau muntah.
Biasa. Standar. Basi. Tapi mau bagaimana lagi. Bisa gila saya kalau mengambil
judul yang susah-susah.
Saya juga ingin
penelitian saya nantinya dipuji-puji dosen. Ah menyenangkannyaaa yaa saat
dibilang ‘penelitianmu keren lho mbak’. Tapi sudahlah, expect nothing and you will never be disappointed adalah prinsip
yang selalu berusaha saya pegang. Meskipun susah juga si. Mana bisa seorang
manusia tidak menaruh harapan.
Referensi
abal-abal sudah terkumpul lumayan banyak. Hasil download seharian itu saya
jadikan satu di dalam sebuah folder yang saya namai ‘Lelah Pikiran Adek Bang’.
Saya katakan referensi abal-abal karena ini hanyalah skripsi-skripsi terdahulu
dengan judul yang sama dengan yang akan saya ambil, hanya berbeda objek
penelitian saja. Mulai dari sini, niat busuk saya sudah mulai tercium kan? Iya,
saya akan membaca semua referensi itu, membandingkan satu sama lain, kalimatnya
dicampur-campur, lalu saya ketikkan lagi di dokumen saya sebelumnya yang hanya
bertuliskan ‘BAB 1’. Mental saya sudah rusak. Untuk kesekian kalinya, saya
merasa kasian dengan tanah air saya. Indonesia, buang saja saya ke luar
angkasa.