Ketika Jomblo Angkat Bicara

Senin, Februari 24, 2014 Atika Nugraheni 0 Comments

Ketika Jomblo Angkat Bicara

Usia dua puluhan tapi kemana-mana masih sendirian. Usia dua puluhan tapi masih belum ada gandengan. Kata orang orang, sebutannya jomblo. Lalu orang-orang perlahan-lahan menjadikan jomblo sebagai sesuatu yang hanya layak untuk ditertawakan. Pada kelompok tertentu, jomblo dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengumpulkan pundi pundi rupiah. Di layar kaca, kejombloan seseorang dikemas sedemikian rupa dengan kata-kata yang dilucu-lucukan. Penonton bertepuk tangan seolah mengiyakan, penonton tertawa sampai terpingkal-pingkal, comedian pun merasa sukses besar padahal dirinya sendiri juga adalah seorang jomblo.

Di usia dua puluhan pula, banyak wanita yang sudah khawatir akan kejombloannya. Takut tidak kebagian pria mengingat jumlah pria yang semakin hari semakin punah saja seperti Harimau Sumatra. Takut tidak ada yang menanyai ‘will you marry me?’ suatu hari nanti padahal orang-orang seumurannya rata-rata anaknya sudah SMP. Terus kalau ditanya ‘kok belum nikah-nikah mbak?’, mau berbohong apalagi? Masa iya akan terus menerus bilang ‘masih kuliah, mau fokus kuliah dulu’ , basi. Nyatanya memang tidak ada yang bilang cinta, mau apalagi. Tidak laku? Terlalu mahal barangkali. Pria-pria di luaran sana lebih memilih wanita yang gampang luluh dengan rayuan gombal, sebatang coklat harga goceng, dan setangkai bunga plastic.

Sedikit banyak, jomblo di luaran sana adalah orang yang terluka. Mereka dilukai oleh masyarakat yang hanya menganggap sempurna orang-orang yang telah memiliki pasangan dan menganggap tak laku wanita yang masih saja lajang di usai yang mulai matang. Sakit bukan. Beberapa wanita ada yang bahkan sudah merencanakan hal-hal apa saja yang dilakukannya manakala dirinya tak kunjung menemukan pasangannya, saking frustrasinya dengan ocehan ocehan ibu-ibu rumpi yang tiap semenit sekali menanyakan ‘kok belum nikan juga? Nggak capek sendirian? Atau nggak laku?’.

Kekhawatiran-kekhawatiran yang ditimbulkan dari fenomena jomblo ini pada dasarnya bisa hilang sama sekali. Asal saja lajang di usia yang sudah cukup matang adalah hal yang biasa. Tidak ada yang perlu ditertawakan, digunjingkan ataupun diperlakukan berbeda.

Apa salahnya berjalan sendirian di antara sekian banyak yang mencoba bergandengan –meskipun akhirnya banyak yang kebablasan-? Toh jika menunggu sedikit lebih lama, pasti akan ada yang mengajak berlari bersama. Tuhan tidak akan mengingkari firman-Nya sendiri bukan bahwa setiap makhluknya diciptakan berpasang-pasangan? Apa salahnya menghabiskan jatah jomblo-meskipun Tuhan terlalu baik hati dalam memberikan jatah ini-? Menunggu sampai halal, di sabar-sabarin meskipun perih juga lihat di pojok sana-sini hampir semuanya berpasangan. Sedih juga saat satu per satu teman-teman meninggalkan kita sendirian saat dirinya telah mendapatkan pasangan. Tuhan menyiapkan rencana yang indah untuk orang-orang yang sampai detik ini menjaga dirinya kok. Jika ada pertanyaan ‘kenapa masih jomblo?’ jawabannya ‘barangkali saya belum butuh pasangan, Tuhan kan ngasihnya apa yang saya butuhkan, bukan yang saya inginkan’. See, jomblo mempunyai kemampuan ngeles yang luar biasa.

Jika sampai detik ini masih belum ada yang menyatakan cinta atau kemudian mengajak hidup bersama, santai aja lagi. Seberapapun inginnya menikah sebelum terlanjur disebut perawan tua, seberapapun inginnya dicintai oleh seorang pria keren sampai sebegitunya dalam memperjuangkan kita, kalau Tuhan belum berkendak, bisa apa?

Sambil menunggu masa-masa itu datang, berkaryalah, ber-travellinglah. Galau is a BIG NO. Khawatir sama masa depan kita nanti juga tidak perlu berlebihan. Secukupnya saja kalau tidak mau gila.


Sekian. #Salam Jomblo Guys

0 komentar:

Semenjak Beranjak

Selasa, Februari 04, 2014 Atika Nugraheni 0 Comments



Make-upnya sudah selesai sedari tadi. Namun bedaknya selalu luntur karena menangis.

Tapi, nanti dia akan tetap datang. Sebagai seorang tamu di pesta perkawinan sekaligus sebagai seorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan.Yang terpenting, dia harus mengeringkan air mata-nya, biar tidak menangis lagi mendapati kenyataan bahwa cintanya diambil orang.

Dipungutnya gaun itu, gaun sutra bersulam, berkerah lebar dan ramping di pinggang. Gaun teristimewa yang diamiliki sepanjang hidupnya.  Lalu dia melangkah menuju cermin, sudah lama dia tidak melihat dirinya sendiri. Sedikit lebih cantik dengan gaun yang dikenakannya. Barangkali akan lebih cantik lagi jika dia tidak kehilangan senyumnya yang baru saja menguap bersama sendu. 

Sekarang, dirinya sudah sempurna, tanpa air mata. Bedaknya tidak lagi luntur.Wajahnya berbedak tipis dengan perona merah delima.Dia memasukkan kakinya ke sepasang sepatu dengan hak paling tinggi yang pernah dia punya. Hari ini, dia menjelma menjadi perempuan paling cantik. Hari ini, semua orang harus akan mengingatnya. Di hari yang paling dia benci ini, dia harus lebih cantik dari sang pengantin.

Di depan orang yang paling dicintainya dan orang yang dicintai oleh orang yang paling dicintainya, dia mengucapkan selamat lalu berlalu begitu saja, menguatkan hatinya. Jejaknya hanya menyisakan wangi parfum yang lembut.

Mata yang teramat dikenalnya memandangnya dari kejauhan.

‘Mengapa memandang kudemikian?’
‘Tidak apa-apa’

Mampuslah kau yang merindu, tapi seperti anak mencari-cari alasan. 

0 komentar:

Pengamen

Sabtu, Februari 01, 2014 Atika Nugraheni 0 Comments

Pengamen yang Ngefans SLANK

Kata orang-orang, pengamen itu mengganggu. Katanya, kebanyakan pengamen itu suaranya sumbang, fals sana sini, tapi masih nekat nyanyi. Belum lagi penampilan yang sembarangan ditambah dengan poni lempar. Ah, semakin mengganggu pemandangan.
Yanto sudah satu tahun jadi pengamen. Dia ngamen di daerah kampus, seringnya sih di tempat-tempat makan. Dia sudah biasa dicaci maki. Biar saja dibilang suaranya sumbang, biar saja dibilang nyanyinya fals, kenyataannya memang demikian. Yang penting kan bisa makan pagi, siang, malam dari recehan yang dia kumpulkan. Yang lebih penting lagi, itu uang halal. Kata ibu dan bapaknya yang sudah meninggal satu tahun yang lalu, mendingan tidak makan daripada makan dari uang haram. Jadi orang susah cukup di dunia saja, di akhirat jangan sampai.
‘I miss you but I hate you, my girl… ♪♪♪
Yanto anak Slankers. Dia hapal semua lagu Slank. Bagi Yanto, Slank itu keren. Lagu lagunya tidak ada yang alay seperti band-band murahan jaman sekarang yang kebanyakan hanya tenar sebentar. Setiap ngamen, dia selalu membawakan lagu Slank. Mulai dari I Miss You but I Hate You sampai Ku Tak Bisa. Sayangnya, mbak mbak sama mas mas mahasiswa lebih suka lagu Korea dan lagu Mancanegara, lebih milih Super Junior daripada Slank, lebih suka Paramore sama AKB48 daripada Slank. Sedih ya jadi Slankers. Tapi ini belum apa-apa dibandingkan dengan Sahabat Kangen. Baru menyebutkan nama vokalisnya saja sudah diketawai habis-habisan. Sakit. Lebih sakit lagi karena recehan yang terkumpul di bekas bungkus permennya hanya beberapa.
Sekarang, Yanto punya lagu What’s Make You Beautiful-nya One Direction di hape China-nya. Kemarin minta sama mbak-mbak warteg yang kebetulan ngefans berat sama One Direction. Mbak-mbak warteg itu suka banget sama Zayn Malik. ‘Gantenge ora patut’ katanya. Duh, Yanto kalah sama mbak-mbak warteg. Yang dia tahu hanya Kaka, penyanyi dalam negeri yang dia kagumi sampai nanti.
Menghafalkan satu bait reff berbahasa Inggris itu ternyata susahnya luar biasa. Susah juga ya ngefans sama boyband luar negeri. Mending ngefans sama Slank, sekali dengar suaranya Kaka, Yanto bisa langsung hafal liriknya. Sudah seminggu penuh Yanto hafalan lagu manca. Tapi dasar lidah Jawa, mengucapkan kata-kata dengan Bahasa Inggris bikin lidahnya kesleo.
Kali ini, dengan gitarnya, Yanto tidak lagi menyanyikan lagu Slank dalam ngamennya. Sekarang Yanto akan menyanyikan lagunya One Direction-What’s Make You Beautiful. Sungguh mati, Yanto tidak mengerti apa arti lirik lagu ini.
‘You don’t know you beautiful oh oh that what’s make you beautiful..♪♪
Prok prok prok…baru kali ini Yanto dapat tepuk tangan. Tepuk tangan ini bukan untuk suaranya, dia sadar diri kalau suaranya sumbang. Ternyata, beberapa yang ada di tempat makan tempat Yanto ngamen itu adalah fans-fansnya One Direction. Tanpa perhitungan ini itu, mereka langsung memasukkan uang ke dalam plastik bungkus permen miliknya. Kali ini bukan hanya receh yang Yanto dapatkan, ada lembaran uang lima ribuan juga. Otaknya sudah melayang ke nasi padang. Sudah lama sekali Yanto tidak makan nasi padang dengan rendang. Terimakasih One Direction.
Besok besok, Yanto mau belajar menghafalkan lagunya Super Junior. Kata mbak-mbak warteg yang ngefans sama One Direction, banyak mbak-mbak mahasiswa yang ngefans sama boyband Korea ini. Ah, kenapa tidak ngefans sama SM*SH saja sih? Yanto kan jadi tidak perlu susah-susah menghafalkan bahas Korea.
‘Kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu…”
Playlist lagu ngamennya sudah jauh dari lagu Slank. Tapi bukan berarti Yanto tidak cinta lagi sama Slank. Bagi Yanto, Slank masih nomer satu di hatinya.
Pengamen (part 2)
Ini masih tentang Yanto. Sekarang Yanto punya saingan. Bukan para pengamen. Kalau pengamen, semuanya sih teman Yanto. Saingan Yanto lebih keren seratus kali lipat dibandingkan Yanto. Penampilannya lebih bersih, pakaiannya lebih bagus, suaranya lebih oke. Dan yang bikin Yanto semakin kalah telak, saingan Yanto ini datangnya rombongan, tidak seperti Yanto yang selalu ngamen sendirian. Playlist lagunya bukan hanya What’s Make You Beautiful-nya One Direction ataupun Mr.Simple-nya Super Junior. Mereka hafal lagu-lagunya Maroon 5, Rihanna, Secondhand Serenade, Paramore, SHINee, Boa dan masih banyak lagi. Mbak-mbak warteg tempat Yanto minta lagu baru bahkan tidak kenal penyanyi-penyanyi itu.
Belakangan, Yanto baru tahu kalau mereka itu adalah mahasiswa yang sedang ‘danus’. Apa itu danus? Entahlah, yang jelas mereka sekarang jadi saingan Yanto. Aih, mahasiswa kan orang pintar-pintar, kok mau-maunya ikut-ikutan cari uang dari ngamen.
Yanto kalah sama mahasiswa. Tidak ada lagi nasi padang rendang, setidaknya sampai tidak ada danus-danusan. Yanto pindah lapak, dari yang biasanya di tempat makan menjadi di sepanjang Jalan Pahlawan. Di sini, persaingan lebih keras. Setiap hari harus kasih jatah ke abang-abang bertampang preman. Nasib-nasib. Kalau begini, kapan bisa makan nasi padang lagi?

‘Terlalu manis untuk dilupakan, kenangan yang indah bersamamu tinggalah mimpi ♪♪

0 komentar:

Penjual Pulsa

Sabtu, Februari 01, 2014 Atika Nugraheni 0 Comments

Penjual Pulsa

Panggil saja Mas Cahyadi. Dia penjual pulsa di kios mini di daerah kampus milik seorang pensiunan pegawai negeri. Meskipun hanya jualan pulsa, dia harus tetap wangi dan rapi (syukur-syukur dianggap seksi) biar pelanggannya tidak pindah ke lain hati. Di depan kiosnya, ada pangkalan angkot. Tidak ada warna lain selain kuning, karenanya disebut angkot kuning, angkot penyelamat bagi mahasiswa yang tidak dimodali kendaraan roda dua untuk mengarungi kampus yang luasnya edan-edanan. Sopir-sopirnya dekil, hitam, tidak seperti Mas Cahyadi yang memperhatikan penampilan dari rambut sampai kaki. Tapi mereka baik hati sama Mas Cahyadi, sering kasih sebungkus sarapan pagi.

Pagi ini, Mas Cahyadi tidak sewangi hari yang lalu. Selain sedang patah hati karena cintanya ditolak janda beranak dua, Mas Cahyadi terancam tidak lagi bisa berjualan pulsa. Bos-nya akan menjual kios mini yang sudah sangat disayanginya kepada pengusaha, entah pengusaha apa. Beberapa bulan belakangan, kiosnya memang sepi. Mahasiswa-mahasiswa yang dulunya berlangganan membeli pulsa padanya beralih membeli pulsa kepada temannya sesama mahasiswa yang ikut-ikutan jualan pulsa. Bisa ngutang dulu katanya. Alhasil, kios yang sepi membuat bos-nya semakin frustrasi dan memutuskan untuk menjual si kios mini tanpa peduli betapa kacaunya hati Mas Cahyadi.

Kini, giliran Mas Cahyadi yang frustrasi bercampur ingin mati. Kehilangan pekerjaan, kehilangan cinta. Ini semua gara-gara mahasiswa-mahasiswa yang ikut-ikutan jualan pulsa.


Hari-hari berikutnya, sudah tidak ada Mas Cahyadi yang rapi dan wangi. 

0 komentar: