Librarian in Real?

Senin, Maret 18, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


Mengkritik? Yakin nih bisa lebih baik?



Sering ketemu sama petugas perpustakaan yang jutek? Ehm bukan jutek sih tapi lebih tepatnya nggak ngenakin hati atau apalah disebutnya, pernah? Nah, saat kita kebetulan ketemu sama petugas perpustakaan yang demikian adanya, rasanya pasti jengkel setengah mampus. Dan saat itu juga, biasanya langsung bersumpah nggak akan dateng ke perpustakaan lagi selama petugas perpustakaan yang galak itu belom diganti sama petugas petugas bank yang aduhai. Ya itu manusiawi lah. Di mana-mana manusia itu emang senengnya dimanis-manisin dan di mana-mana kata kata ‘selamat siang kakak, ada yang bisa dibantu?’ yang diucapkan oleh teller bank bermake-up tebal lebih menarik dibandingkan kata ‘gimana mbak?’ yang diucapkan ibu ibu/bapak bapak ‘malesin’ di layanan sirkulasi perpustakaan. Bukan begitu bukan?

Kita seringnya kan emang cuman bisa mengkritik orang ‘semau gue’ dijelek-jelekin lah sampe mampus. Padahal, kita sendiri belum tentu bisa always on senyum senyum basi di depan pengunjung perpustakaan, setiap hari, sambil bilang ‘selamat datang di perpustakaan kakak!’. Sumpah itu susah dan capek. Sehari atao dua hari sih masih sanggup, tapi kalo sampe bertahun tahun? Haduh, nggak janji. Taruhan deh, mbak mbak teller bank ato mbak mbak SPG, nggak mungkin bakalan seramah itu kalo nggak diancem potong gaji sama atasannya, dijamin.

Tapi coba kita posisiin diri kita sebagai misalnya petugas jaga di layanan sirkulasi. Kenapa layanan sirkulasi? Karena, layanan ini adalah garda depan sebuah perpustakaan, mungkin karena letaknya yang sering-seringnya di dekat pintu masuk. Baik buruknya anggapan masyarakat terhadap sebuah perpustakaan, biasanya dilirik dari gimana pelayanan petugas layanan sirkulasinya. Biasanya sih gitu.

Fine… anggep aja kita udah satu bulan jadi petugas di layanan sirkulasi, garda depan sebuah perpustakaan. Dari situ pastinya kita bakalan tau ‘betapa betapanya’ petugas layanan sirkulasi yang sering kita gambarkan sebagai petugas yang jutek. Kita bakalan tau gimana bosennya jadi petugas layanan sirkulasi. Bayangin aja, setiap hari duduk di balik meja dan sejauh mata memandang adanya cuman buku buku. Terus, ketemu berbagai macam orang dari jam 7 pagi sampe jam 4 sore yang semua-muanya minta dilayanin dengan super duper ramah. Gimana rasanya? BT kan? Belom lagi ngantuk yang melanda di tengah tengah jam kerja, dan dalam keadaan seperti itu, kita harus tetep ngelayanin pemustaka lagi lagi dengan seceria mungkin. Nah, ini kalo yang ngelayanin petugas yang masih muda urusannya masih standar standar aja lah, mentok mentoknya diputusin pacar atau terancam jadi jomblo abadi. Lha kalo yang udah emak emak atau bapak bapak? Urusannya biasanya lebih rempong dan lebih kompleks lagi. Mulai dari utang bank yang belom lunas, tanggal yang nggak kunjung beranjak ke angka 1 sementara uang udah mulai menipis, godaan buat beli ini itu dan macem macem lagi. Kalo pikiran udah bercabang-cabang gini, susah banget buat tetep istiqomah menjalani hari hari panjang nan membosankan di perpustakaan dengan tetap mengeluarkan semburat keceriaan kepada pengunjung perpustakaan. Bahkan, nggak jarang yang ngerasa bosen menjalani rutinitas yang gitu gitu aja dan ujung ujungnya jadi sekadar menyapa pengunjung dengan basa basi busuknya dan melayani pengunjung dengan (sok) ikhlas, yaa gitu deh.

Dan kembali lagi ke pertanyaan awal, kok petugas perpustakaannya jutek sih? Bisa jadi pada beberapa bulan pertama kerja, mereka masih mengikuti teori teori kuliah yang sering mengatakan ‘Kalo jadi pustakawan mbok iya yang suka senyum, yang ramah’. Tapi beberapa bulan kemudian, bisa jadi mereka udah mengalami kejenuhan atau kebosanan yang mendalam sehingga teori teori yang dulu pernah melekat di benaknya perlahan menyublim, menjadi satu dengan udara, bablas. Cuma beberapa orang yang tetep bisa istiqomah menjalani profesinya dengan sebaik baiknya, tanpa ada grafik menurunnya. Sayangnya, masih jarang.

Apa iya perpustakaan harus menerapkan prinsip dasar SPG pada setiap staf-nya yang mewajibkan menyapa pemustaka dengan tatanan kalimat yang selalu sama ‘Selamat pagi kakak, ada yang bisa kami bantu?’ supaya nggak ada lagi yang menuduh jutek, begitu?

Apa iya saat penerimaan pegawai baru harus ditanya ‘ Mba/Mas, bisa senyum nggak? Senyumnya setiap awal bulan aja atau gimana? ‘ biar semua pegawainya nggak ada yang bertampang jutek alias always ramah, begitu?

Meskipun perpustakaan mendadak menerapkan aturan main yang sedemikian samanya dengan SPG dalam hal pelayanan, itu masih belum menjamin perpustakaan akan lolos dari ‘omelan’. Bisa saja ada yang bilang ‘Ih, itu mbaknya bikin risih deh nyapa-nyapa nggak jelas gitu’. Nah loo? Gimana dong? Manusia emang serba repot.

Yang jelas, menjadi petugas di layanan sirkulasi adalah sebuah pekerjaan yang nggak bisa dibilang gampang begitu aja. Kerjaan yang terlihat dengan jelas dengan mata emang nggak terlalu banyak. Tapi, melawan kebosanan, melawan rasa ngantuk, melawan rasa jengkel kepada pengunjung yang sedikit ribet, melayani dengan ekspresi wajah yang seceria mungkin walaupun keadaan hati sedang berbanding terbalik adalah pekerjaan yang lebih berat dari pekerjaan yang seharusnya.

Bolehlah kita mengkritik, tapi sebelum mengkritik pastikan dulu kalau kita benar benar bisa melakukan hal yang sama dengan jauh lebih baik.




0 komentar:

It's just an opinion

Senin, Maret 18, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


Anak Teknik Di Kacamata Anak Non-Teknik

Haloo, masih inget gue nggak?

Belakangan ini gue (emang) nggak pernah update blog lagi. Ah entahlah. Padahal udah berkali-kali niatin dalam hati supaya rajin ngeblog, tapi tetep aja nggak kepegang. Rasa malas adalah penyebab semuanya.

Ada apa dengan rasa malas? Kenapa rasa malas itu nggak bisa dihilangin? Pernah gak sih, setiap kali ada niat untuk mengerjakan sesuatu, mendadak diri kita sibuk nyari nyari alasan sendiri? Dan sialnya, alasan untuk menunda-nunda pekerjaan itu selalu ada. Gue sendiri udah paham tentang betapa pentingnya disiplin, tapi ya tetep aja ujung ujungnya jadi gitu. Jangan ditiru ya! Mau jadi apa Indonesia kalo semua warganya begini..

------------

Apa yang berubah setelah liburan semester selama hampir 2 bulan kemaren? Gue masih kece seperti biasanya, gue masih suka RAN sama JONAS BROTHER, status gue juga masih sama : jomblo mahasiswa dan yang paling penting muka gue masih penuh dengan pipi. Yang berubah adalah gue mendadak jadi gagap menuliskan ide ide gaje gue. Ide gue stuck, males move on. Hingga pada suatu ketika, ada temen gue ( yang mungkin sebenarnya adalah fans berat gue ), minta gue menuliskan sesuatu.


Yap, akhirnya gue ada kerjaan. Gue seneng karena ada juga yang mau baca tulisan gue sekaligus mint ague nulis lagi, entah itu beneran atau enggak yang jelas mendadak gue ngerasa bener bener dihargai. Gue jingkrak-jingkrak, gue langsung bikin video harlem shake. Setelah itu, gue bingung gimana cara memulai nulisnya. Sebagai orang yang mempunyai cita-cita bakal jadi penulis seterkenal dan sekonyol @shitlicious, gue merasa gagal. Sejak saat itu, cita cita gue beralih jadi pemilik online shop. Alasannya simple, biar dipanggil SISTA. Panggilan yang cukup menjijikan, tapi cukuplah untuk menyandang jabatan gaul cetar.

Demi cita-cita, sebisa mungkin gue bakal mencoba untuk menuliskannya, segaje apapun ceritanya.. *ON FIRE*

Dari tema yang dikasih sama temen gue, seharusnya gue ngelakuin sebuah penelitian kualitatif yang mana harus menyiapkan beberapa variable dan atribut atribut yang akan diteliti lebih lanjut. Berhubung gue sibuk, kayaknya gue cuman perlu ambil beberapa responden di lapangan dari sekian banyak responden yang ada dansetelah itu gue bakal melakukan sebuah generalisasi alay alias berlebihan. Sebuah riset yang nggak pantes dicontoh, tapi mau gimana lagi dong, gue kan sibuk. Orang sibuk itu bebas.

Oke cukup, sekarang focus dan serius. Ngomongin anak teknik harus serius.

Anak teknik. Seandainya gue sekreatif dan sekaya Raditya Dika, gue pasti bakalan bikin mini film kayak Malam Minggu Miko tapi yang ceritanya tentang anak teknik. Kenapa? Karena banyak banget hal-hal sederhana sekaligus unik yang bisa dicermati. Atau seandainya gue Raam Punjabi, kisah kisah anak teknik langsung gue jadiin sinetron laga semacam Brama Kumbara ataupun Raden Kian Santang *salahfokus. Yap, pada intinya, ngomongin anak teknik itu nggak ada abisnya, terlebih soal penderitaannya dalam urusan IPK *daleeem. Gue pikir topic IPK adalah topic yang menyakitkan, nggak cuman anak teknik yang merasa tertohok, gue juga *sobeksobekKHS*.

Sebagai anak non teknik, gue bisa dengan mudah menyelami hati makhluk makhluk non teknik (terutama cewek) untuk sekadar tahu gimana pendapat mereka soal anak teknik.

Gue pernah baca status temen gue. Kebetulan dia adalah anak jurusan akuntansi di salah satu perguruan tinggi ternama di Yogyakarta. Statusnya secara nggak langsung meng-kode anak anak teknik jomblo yang ada di hamparan rimba bernama ‘Fakultas TEKNIK’.



Wow, ternyata anak teknik menempati posisi tertinggi di antara fakultas fakultas lain terutama untuk masalah ‘mengambil hati’. Eh gitu bukan sih? Ya anggep aja gitu deh ya, analogi gue parah. Anak anak fakultas non-teknik setahu gue selalu tertarik sama anak anak teknik. Kebanyakan dari mereka menganggap kalo anak teknik adalah jodoh terbaik untuk anak non-teknik. Asas ‘saling melengkapi’ bisa jadi adalah alasan kenapa seorang anak non-teknik mempunyai pemahaman demikian. Seandainya aja ada pasangan anak non-teknik jurusan kebidanan dan teknik elektro. Ada ‘saling melengkapi’ disini. Misalnya aja, si anak non-teknik punya HP Nokia Seri  3315 yang pengen dibuat jadi touchscreen, lalu dengan sedikit sentuhan anak teknik, HP rongsok tadi seketika menjadi touchscreen. Lalu ketika anak teknik akan melahirkan, si anak non-teknik yang kebetulan jurusan kebidanan membantu persalinannya secara gratis *gagalpaham. Bayangin aja kalo anak akuntansi pacarannya sama anak akuntansi, betapa rumitnya perhitungan keuangan mereka.

Meskipun gitu, buat anak anak teknik jangan pada kepedean dulu, kadang kadang factor ‘tampang’ juga dipertimbangkan. Dari cerita cerita temen temen gue yang eheeem jomblo, beberapa di antaranya memimpikan sosok anak teknik yang kece badai cetar membahana harum mewangi sepanjang hayat. Kenapa? Karena, punya cowok anak teknik bagi mereka adalah hal yang cukup membanggakan terlebih lagi kalo cowoknya setaraf sama Afgan. Beeeuh, digandeng kemana mana pastinya dan tiap hari bakalan pamer kesejuta umat. Yaa, tapi itu gak semua anak non-teknik sekejam itu.

*analogi gue ngaco, jangan dipikir serius yaa, itu bohong kok*

Itu semua fakta yang udah gue campur aduk dan sedikit dimanipulasi, biasa lah otak gue terlalu kreatif. Tapi kalo data yang ini, itu bukan hasil manipulasi. Ini asli banget banget banget.


Hahaha..botak ya? Selama dua tahun gue kuliah disini, gue bener bener belom pernah liat anak teknik yang botak. Jangan jangan yang gue tanyain ini udah pernah liat anak teknik yang botak kali ye. Wah, mengenaskan sekali. Tapi image anak teknik emang identic banget sama botak. Beberapa orang berpikir kalo orang yang setiap hari ketemu sama rumus dan melakukan perhitungan perhitungan ruwet, rambutnya akan rontok secara terus menerus hingga akhirnya botak. Is it true? Seandainya ini bener, gue bakalan alih profesi jadi pedagang obat penumbuh rambut. Kalo seandainya jumlah mahasiswa teknik ada 1000 orang dan semuanya mengalami gejala kebotakan dan gue jual 10ribu rupiah setiap botol, itung aja hasilnya. Gue bisa beli UNDIP nih kayaknya.. haha.

Tapi kalo anggapan bahwa anak teknik itu semuanya keren, gue setuju tapi gak terlalu setuju juga si. Sedikit gue jelasin boleh nggak nih. Jadi, kebanyakan orang menganggap anak teknik itu keren adalah salah satu akibat dari generalisasi berlebihan. Generalisasi berlebihan ini menimbulkan sebuah observasi *cieilah yang terkesan pilih-pilih. Karena ada sebuah mindset yang selalu bilang ‘anak teknik itu keren banget’ ke dalam alam bawah sadar, itu membuat pandangan kita hanya tertuju sama anak teknik yang keren. Saat menemukan fakta ada anak teknik yang ‘nggak’ keren (dalam hal ini keren adalah  relative ), kita cenderung mengabaikannya alias nggak ngenggep. So, terbentuklah sebuah kalimat ‘anak teknik itu keren’. Menurut gue, di setiap fakultas yang ada,  manusia yang ada di dalamnya cenderung bervariasi. Itu penjelasan yang ngawur banget yaa. Mungkin yang bener adalah semua orang punya kriteria keren masing masing, jadi setiap orang juga punya penilaian sendiri dong pastinya. Keren dan nggak keren itu relative. Dan buat gue, untuk setiap anak teknik yang pernah gue kenal maupun sekadar gue liat saat gue pulang dari kampus, gue akuin kalo anak teknik itu emang KEREN. Horeeee…

Anak teknik itu pinter hitung-hitungan. Berarti cocok banget jadi pengajar bimbel anak anak SD, SMP, atau SMA khususnya pelajaran yang ada angkanya. Pfft, gue nyerah, disini gue nggak bisa mempertahankan pendapat gue sendiri. Sebagai anak non-teknik, gue sendiri terbiasa sama segala sesuatu yang berhubungan dengan teori, bukan hitungan. Selama empat semester, gue belom pernah ketemu sama mata kuliah yang berbau angka. So, seenggaknya anak teknik bisa lebih keren untuk urusan hitung menghitung paling tidak karena anak teknik itu terbiasa, nggak kayak gue.

Gue yakin, di setiap fakultas pasti ada orang orang yang mempunyai keadaan special. Di fakultas gue contohnya. Ada cowok yang gantengnya setengah mampus. Seandainya gue adalah cewek dengan standar kece, pasti gue bakal pacarin itu orang. Sayangnya, semakin gue amati semakin gue mendapati kenyataan pahit.Ternyata dia ‘nggak utuh’. Kecewa. Dan gue rasa, fakultas yang nggak bakalan mengalami fenomena seperti ini adalah fakultas teknik. Gue pikir, anak teknik itu semuanya laki banget. Yakin deh.

Yap, semua orang punya cara pandang masing-masing. Dilihat dari orang orang teknik yang sempet gue kenal, gue pikir anak teknik itu mengagumkan, istimewa, giat bekerja, laki banget, keren, dan layak diidolakan *tsaaah. Semuanya rata rata adalah orang yang nggak bisa diem aja di kosan alias aktif banget. Banyak pencapaian pencapaian yang udah mereka raih, apapun itu. It’s a GREAT JOB. Anak teknik yang udah bisa mencapai tingkat seperti ini kadang kadang bisa menginspirasi gue supaya gue bisa mencapai tingkat yang sama meskipun dengan jalan yang berbeda karena sebenernya kita adalah special di jalan kita sendiri.

Gue rasa, ini baru gambaran kasar dari gimana gimananya cowok teknik dimata cewek non teknik. Secara gue baru ambil satu responden. Seenggak-enggaknya anak teknik (cowok) mempunyai tempat tersendiri di hati anak non teknik (cewek). Buktinya, anak non teknik selalu menganggap anak teknik itu keren (kecuali yang udah punya pengalaman buruk). So, seandainya ini adalah modus *ehh, gue bakal kasih tau kalo anak anak non teknik banyak juga yang kece lhoo. Kalian udah mengantongi modal sebagai ‘anak teknik’ lhoo seenggaknya.. haha :D

Okee, kayaknya gitu aja dulu deh yaa.
Selamat membacaa. Harap dimaklumi karena cerita ini sedikit ngawur dan semau gue banget. Terimakasiih. Peluk cium dari anak non teknik ke anak teknik yang (ngerasa) kece :3




0 komentar: