Rasa

Sabtu, Januari 19, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


Rasa

__Winda

Sudah hampir sepuluh bulan sejak aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku denganmu. Aku tidak pernah bertemu dengan kamu, aku tidak pernah menelponmu, dan apapun yang berhubungan dengan kamu sejak saat itu sudah aku stop. Tapi aku masih sayang kamu, Sat. Aku masih hapal kebiasaan-kebiasaanmu, bahkan semua tentang kamu masih tercetak jelas di memoriku. Aku masih ingat kamu suka jus alpukat, aku masih ingat kamu suka warna biru langit, dan apa saja aku masih ingat. Kalau sedang sendirian, aku biasa memperhatikan telepon genggamku, membaca lagi beberapa pesan darimu yang tidak satupun ada yang kuhapus-atau berharap namamu muncul kembali di layar, menggetarkan teleponku dengan lagu cinta favorit kita berdua. Jika aku punya daya untuk memutar waktu, aku ingin kembali menarik kata-kataku bahwa akku tak ingin bersamamu lagi. Aku ingin, aku dan kamu memulai lagi kisah yang baru. Aku ingin kita kembali dekat, tetapi semuanya sudah terlambat. Haruskah aku tetap berharap?

__Dino

Seumur hidupku, aku tak pernah jatuh cinta. Tetapi ketika pertama kali melihatnya, rasanya ada sesuatu di dalam dirinya yang membuat ritme jantungku berantakan, kacau. Namanya Winda. Setiap kali bertemu dengannya dan dia menyapaku, ada perasaan super asing yang menyergap dadaku yang entah bagaimana caranya seolah olah membekukan aliran darahku. Aku selalu rela membuang waktuku hanya untuk menunggunya pulang lalu aku memperhatikan semua yang ia kenakan, tasnya, sepatunya, bajunya. Ah, aku selalu suka apapun yang ia pakai. Meskipun sebenarnya aku tahu dia tak pernah mengerti bahwa aku memperhatikannya, menyukainya, dan hingga akhirnya aku mencintainya (diam diam). Aku hanya ingin dekat.  Aku tak peduli dia akan mencintaiku juga atau tidak. Yang jelas aku hanya ingin dekat. Itu lebih dari cukup.

__Natasha

Aku merawatnya sebisaku saat kala itu kamu pernah demam tinggi. Aku menerabas hujan hanya untuk membelikanmu obat. Aku khawatir bukan main, baru sekali ini aku melihatmu begitu lemah. Aku mendoakan kesembuhanmu. Asal kamu tahu, kala itu aku mendoakanmu, di atas doa doaku sendiri. Lalu saat kamu sembuh, kamu mati matian berterimakasih kepadaku, lalu kamu mengajakku jalan jalan menikmati kota dan pada akhirnya kamu membelikan es krim cokelat kesukaanku. Sejak dekat denganmu sebagai sahabat, aku justru menemukan perasaanku yang lain untukmu, Dino. Kamu lucu, perhatian, sabar. Seketika aku sadar, aku menemukan semua kriteria pria ideal yang aku cari selama ini di dalam dirimu. Aku suka caramu diam. Kadang kadang, saat aku memperhatikanmu saat sedang diam, diam-diam aku bicara dalam hati-seolah olah mengatakan semuanya kepadamu: Aku cinta kamu, Dino. Aku selalu mengatakannya dengan segenap perasaanku, semoga saja suatu hari kamu benar benar bisa mendengarnya dengan perasaanmu sendiri. Kini, dekat denganmu adalah kebahagiaan sunyi yang terus membuatku berani bermimpi.

__Satya

Harus dengan cara apa lagi aku membohongi diriku sendiri? Harus dengan cara apa lagi aku menolak rasa cintaku kepada Dianita? Semakin lama aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri bahwa pelan pelan aku jatuh cinta kepadaa Dianita. Ketika pertama kali mengenalnya, sejujurnya aku tidak menyukainya. Penampilannya sembarangan dan bahkan aku merasa kalau dia itu autis, asyik dengan kehidupannya sendiri. Tetapi semakin dekat aku mengenalnya, semakin aku menemukan kecantikannya, terlebih kecantikan hatinya. Sejak saat itu aku mulai mengaguminya, perasaan yang belum pernah kumiliki pada perempuan mana pun. Dimulai dari rasa kagum, lalu aku pun mulai mencintainya, Barangkali, Dianita bukanlah perempuan yang paling sempurna, tetapi bagiku dia adalah perempuan yang paling tepat untukku. Aku meyakininya, seperti perasaan yang selalu membuatku ingin dekat dengannya. Sayangnya, dia sudah punya pacar.

__Dianita

Satya menyatakan perasaannya padaku. Sejujurnya selama ini aku juga menyukainya. Tetapi aku sudah terlanjur menerima Firman. Tuhan, semoga Engkau mendekatkan semua manusia pada jodohnya-semua rahasia perasaan pada jawabannya. Engkau yang mengatur segalanya dan Engkaulah yang mempertemukan dan mempersatukan semua manusia dengan pasangannya. Di atas semua keinginan dan kehendakku, aku mempercayakan semuanya pada pilihan-Mu: Dan semoga semua perasaan baik baik saja.

Di atas semua cerita, jodoh bukan melulu soal perasaan. Semoga Tuhan menyembuhkan semua hati yang terluka.

0 komentar:

Mari Mengkhayal

Sabtu, Januari 19, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


Khayalan atau Impian Yaa?

Kalo emang bener satu hari itu terdiri dari 24 jam dan misalnya aja setiap harinya gue menghabiskan 20 jam untuk hal hal yang nggak penting, itu artinya gue masih punya waktu 4 jam untuk hal hal yang bisa jadi penting atau justru lebih nggak penting yang bakalan semakin memperparah kualitas hidup gue, berkhayal mungkin.

 Berkhayal untuk beberapa orang emang masuk ke dalam kategori hal nggak penting. Tapi buat gue, berkhayal adalah salah satu hal yang teramat penting. Ini satu satunya kegiatan gratis yang bisa sedikit menghibur hati pengangguran yang merangkap menjadi pengisi bangku kosong universitas kurang terkenal sekaligus tuna asmara paling istiqomah sejagad raya. Dalam kehidupan nyata, gue adalah seorang mahasiswa dengan IQ astagfirulloh. Setiap kali ujian, nilai paling istimewa gue adalah C, itupun hasil sedekah dosen dosen gue. Meskipun gitu, gue tetep manusia cantik biasa yang bisa juga ngerasain sedih dan depresi tiap kali menghadapi kenyataan kalo nilai gue gak pernah bisa setara sama temen temen gue yang lain. Untuk menetralkan kembali perasaan gue yang semua berantakan, satu satunya cara adalah dengan berkhayal. Di dalam khayalan gue, gue adalah mahasiswa super cerdas yang selalu dapet nilai AAA tanpa ujian. Intinya, gue hebat di dalam khayalan gue sendiri. Dan seketika, gue langsung baik baik aja dengan kenyataan yang nggak pernah bisa dianggap baik baik aja.

Berkhayal itu bisa kapan aja dan dimana aja. Kalo gue sih sering-seringnya berkhayal setiap kali gue lagi nonton TV. Tau sendiri kan, TV selalu menghadirkan hal hal yang berhubungan dengan kesempurnaan dunia. Cewek cantik, cowok ganteng, rumah mewah, mobil keren, motor gede, duit banyak, yah pokoknya serba serbi duniawi gitu yang siap bikin orang normal bergumam ‘seandainya gue bisa kayak gitu’. Gue bisa jamin seratus persen, khayalan orang yang sering nonton TV itu ganas ganas. Saking ganasnya sampe sampe nggak ada yang rasional alias masuk akal.

Kerjaan pengangguran itu kan tau sendiri ya, nonton TV dari pagi sampe pagi lagi. Mulai dari kuliah subuh bareng ustadz ustadz sok artis sampe siaran bola Liga Champion. Nah gue juga gitu. Dan malem ini gue baru aja selese nonton semacam ajang pencarian bakat untuk jadi penyanyi di salah satu TV swasta yang punya tukang bubur yang barusan aja naik haji. Karena baru mulai audisi, gue nemuin suara suara yang bervariasi mulai dari yang parah sampe yang subhanalloh banget. Dengerin suara suara parah mirip kaleng rombeng itu jelas bikin gue bersyukur. Ya seenggak-nggaknya gue masih punya banyak temen. Tapi begitu dengerin suara suara yang dahsyat abis, seketika gue iri. Seketika gue pengen protes ke Tuhan ‘kenapa suara itu nggak buat gue aja?’. Sayangnya, mau protes sampe berhasil ngerobohin Monas  juga nggak bakalan ngerubah takdir yang udah ditentuin Tuhan. Tetep aja suara gue setara sama suara knalpot motor vespa.

Tapi gue bersyukur Tuhan memberi kemampuan umatnya untuk berkhayal. Dengan berkhayal kita semua bisa jadi apapun yang kita mau. Tema khayalan gue kali ini adalah ‘andai gue punya suara bagus’. Yap, gara gara tayangan TV yang itu, gue mendadak kepengen punya suara emas. Kalo suara emas nggak bisa ya minimal suara perak deh. Andai aja suara gue bagus, gue rela ditakdirin jadi orang bego. Nggak masalah nilai gue nggak pernah bener, gue masih punya suatu hal yang bisa dibanggain dari diri gue yaitu suara. Yihaaaa. Dengan suara bagus yang gue punya, gue pastinya bakalan jadi penyanyi yang terkenal di seluruh jagad raya. Kalo udah begini jadinya, nggak bakalan ada lagi orang yang ngeremehin gue.

Yang ada di pikiran gue, suara bagus adalah modal, modal untuk menarik perhatian orang banyak. Suara bagus biasanya selalu dibarengi dengan kemampuan nyanyi yang juga bagus, bahkan nggak jarang dapet bonus punya kemampuan buat main alat musik ini itu. Gue pikir, orang orang terutama orang Indonesia gampang banget terkagum kagum sama orang dengan kemampuan nyanyi yang keren. Liat aja Andhika Kangen Band *lhah kenapa dia sih*, andaikan muka dia dengan rambut gordennya nggak muncul di TV alias dia cuman sebatas artis radio, gue yakin fans-nya bakal lebih banyak daripada Ariel *yakin?. Andai aja gue yang punya suara keren, kayaknya sih bakal banyak banget cowok sinting di luar sana yang nyatain cinta ke gue dengan bilang ‘gue jatuh cinta sama suara lo meskipun gue nggak jatuh cinta sama muka lo. Mau nggak jadi pacar gue?’. Jujur banget ya, daleem. Selain itu gue bakalan direbutin sama cewek cewek yang bakal bikin girlband atau minimal gue bakal direbutin buat jadi seorang vokalis band bekas. Aih, syahdu banget ya hidup gue kalo begini ceritanya.

Sayangnya, itu semua cuman bisa bisanya khayalan gue aja. Nyatanya begitu gue sadar, semuanya masih begini begini aja. Suara gue masih fals, se-fals kehidupan gue. Sedihnya lagi, kalo dibandingin sama suara tukang sayur yang sering lewat didepan rumah gue, suara gue nggak ada apa apanya. Begitu gue sadar, nyatanya nggak  ada yang ngerebutin gue buat jadi girlband, yang ada gue direbutin buat jadi tukang bersih bersih kos kosan.

Oke, stop dreaming! Daripada mengkhayal nggak karu-karuan gini mending mikir gimana caranya biar hidup kita bisa lebih keliatan bermanfaat deh. Buang segala khayalan nggak masuk akal yang pada akhirnya justru akan membuat kita kurang bersyukur sama nikmat yang udah Tuhan kasih buat kita. Keseringan mengkhayal pengen cantik atau ganteng biasanya cuman berujung dengan menjadikan Tuhan sebagai objek kekesalan kita. Bener nggak nih gue? Mulai detik ini, ganti semua khayalan sama mimpi mimpi yang sekiranya lebih realistis. Khayalan sama impian itu beda tipis lho. Jangan sampe salah mengklasifikasikan. Kita juga harus belajar lagi buat ngebedain mana yang sebatas khayalan dan mana yang impian.

Yap, sekian untuk nasehat super kali ini. Saya Maria Teguh Sastrowardoyo. SALAM SUPER !

0 komentar:

Dimulai dari Telinga

Sabtu, Januari 19, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


Dari Telinga Naik ke Ingatan

Cerita gue selalu seputar kuliah gue yang berantakan atau seputar status jomblo gue yang sebentar lagi pajaknya abis dan sepertinya masih butuh perpanjangan sampe beberapa tahun ke depan *seketika sekarat*. Bosen yaa? Lo pikir cuman lo yang bosen, gue juga bro. Kadang kadang gue pengen nyeritain yang lain, gue mendadak dilamar sama anak pejabat misalnya, tapi peristiwa itu nggak dateng dateng juga. Ya udah terpaksanya gue ceritain yang itu itu aja. Makanya doain gue biar cepet dilamar sama orang biar gue bisa bikin cerita dengan tema yang baru. Ya ya ya, doain gue ya !!!!!!!!!!!!!

Tapi untuk kesekian kalinya, gue bakal cerita tentang kuliah gue yang nggak pernah bener. Mahasiswa bejat dengan syaraf otak yang sebagian besar udah nggak nyambung ini bakal sedikit berbagi kisah, baca nih baca! Tulisan gue sekarang udah naik tahta menjadi sama pentingnya sama fatwa MUI.

Pernah merhatiin dosen nggak? Gue yakin seenggak berguna bergunanya lo jadi mahasiswa, lo pasti pernah merhatiin dosen lo. Karena gue, sebagai mahasiswa pemegang jabatan tertinggi mahasiswa paling nggak berguna di seluruh kampus, juga ngelakuin hal yang demikian. Gue sering merhatiin dosen dosen gue, dari hal hal yang paling umum sampe hal hal yang paling khusus sekalipun. Tapi seringnya, yang gue perhatiin adalah sifat dari dosen yang bersangkutan.

Dari berbagai macam pengamatan yang gue lakuin, gue selalu nemuin hal yang sama dari dosen dosen tersebut. Beberapa hal yang sama salah satunya adalah selalu suka sama mahasiswa yang pinter entah itu pinter akademis ataupun pinter ngomong, selain itu nggak jarang juga suka sama mahasiswa yang berparas rupawan dan mempunyai kemampuan memikat hati. Kalo kebetulan kita jadi pihak yang disukain sama dosen yang bersangkutan si nggak masalah, sejauh ini disukain sama dosen itu selalu menguntungkan dari berbagai sisi. Masalahnya adalah ketika kita nggak jadi pihak yang selalu terlihat menonjol di mata dosen tersebut. Seolah olah pas kita ada di dalam kelas, kita itu nggak pernah kelihatan di kacamata dosen itu. Yang ada di kubangan lensa dosen itu ya cuman mahasiswa mahasiwa yang dari awal sudah memikat hatinya dan baik nama maupun wajahnya selalu tergambar jelas di kanvas kosong otaknya. Itu menyedihkan sekali ketika berada dalam keadaan di tengah tengah macem itu, antara disukai dan tidak disukai sama sekali.

Gue adalah orang yang yakin bahwa semua orang yang diciptakan Tuhan itu punya potensi hebat di dalam dirinya. Kadang kadang, gue nemuin beberapa dosen yang selalu menganggap remeh kemampuan mahasiswanya yang kesehariannya pasif. Artinya, mahasiswa itu sekadar berangkat kuliah semata mata karena demi absen atau karena udah bayar kuliah mahal. Raga mereka di kelas tapi pikiran mereka mungkin sedang berkelana memikirkan jodoh mereka yang tak kunjung menampakkan diri. Sementara mahasiswa yang pasif itu memikirkan jodohnya, mahasiswa aktif selalu mengangkat tangannya untuk menanyakan suatu permasalahan yang sedikit rumit. Beda jauh. Nah, perbedaan ini semakin ngebikin mahasiswa pasif ini nggak punya kesempatan buat diinget sama dosen tersebut padahal mungkin mahasiswa pasif ini juga punya kemampuan hebat lain yang nggak diketahui sama dosen itu.

Sementara ada dosen yang selalu tertarik sama mahasiswanya yang pinter ngomong buat ngeyakinin sesuatu ataupun pinter akademik, ada juga dosen yang selalu tertarik sama mahasiswa dengan paras yang aduhai. Berbahagialah yang punya wajah di atas SNI. Banyak temen temen gue yang cantik cantik dihapal sama dosen. Ya selain cantik mereka juga punya kemampuan akademik dan kemampuan berkomunikasi yang mantap juga sih sebenernya. Tapi minimal, cantik aja pun udah lebih dari cukup buat dijadiin kandidat makhluk makhluk pujaan dosen.

Dari semua hal yang akan menentukan posisi kita di mata dosen, apakah kita termasuk dalam kumpulan yang terbuang atau yang akan masuk ke dalam pelukan dosen, yang terpenting adalah kemampuan berkomunikasi terutamanya kemampuan menaklukan rasa takut untuk berbicara. Ini adalah hal yang paling penting. Dosen itu suka sama orang yang ‘cerewet’, yang aktif, bukan yang pasif. Ketika di sebuah kelas kita aktif menyampaikan aspirasi kita, entah itu benar atau salah, yang penting aktif. Yang aktif adalah yang akan diingat sepanjang masa. Yang nggak aktif, idih siapa elo? Itu prinsipnya.

Sayangnya, nggak semua orang mempunyai kemampuan berkomunikasi lisan yang baik. Mungkin bukan nggak punya kemampuan berkomunikasi lisan yang baik tapi yang dimaksudkan di sini lebih ke arah kurang bisa menyampaikan pendapatnya meskipun sebenarnya memiliki pendapat yang hebat di benaknya. Beberapa orang akan menjadi seseorang yang hebat ketika dia menuliskan aspirasinya ke dalam sebuah tulisan, bukan lisan. Yang sedikit menyebalkan adalah ketika orang yang mempunyai kemampuan lisan yang baik biasanya selalu didukung dengan kemampuan non-lisan(tertulis) yang baik pula sedangkan yang mempunyai kemampuan non lisan yang baik tidak selalu didukung dengan kemampuan lisan yang baik. Menyedihkan ya. Ditambah lagi orang Indonesia selalu menyukai orang yang pandai ‘ngoceh’ ini itu. Wah, ya sudah.

Gue juga pernah ngalamin hal yang demikian. Gue termasuk orang yang nggak pinter ‘ngoceh’. Oleh karena itu gue nggak pernah aktif di kelas. Dan pada saat gue nggak aktif di kelas, gue udah melewatkan satu hal yang bernama ‘cari perhatian’ dosen. Itu nggak masalah toh gue bukan orang yang suka cari perhatian. Sialnya, di salah satu mata kuliah, nilai gue parah abis. Si dosen yang nggak kenal gue sama sekali pun sempet kebingungan mikirin gimana caranya biar nilai gue bisa tetep jelek, tapi nggak keterlaluan. Kebetulan dosen gue yang satu ini sangatlah memperhatikan keaktifan mahasiswanya di kelas. Di cek lah keaktifan gue di kelas. Kan gue udah bilang kalo gue bukan mahasiswa yang aktif, jelaslah kalo dsen itu nggak bakalan dapetin nama gue di catetannya. Padahal, ketika gue aktif, nilai gue mungkin bisa sedikit tertolong. Mampus nih gue, mampus.

Gue akuin kalo gue emang gak punya kemampuan berkomunikasi dengan baik dan selain itu gue juga terlalu pengecut karena gue nggak sanggup ngelawan rasa takut gue buat ngomong ini itu. Mungkin karena itu pula gue nggak cocok jadi anggota DPR. Tapi, buat yang ngalamin nasib sama kayak gue, nggak usah sedih, nggak usah minder. Meskipun banyak nggak enaknya, tapi percaya deh kalo sebenernya kita juga punya kemampuan yang sama hebatnya dengan orang orang yang punya kemampuan berbicara yang hebat. Sayangnya, kita nggak dikasih waktu lebih banyak buat nunjukin kemampuan diri kita yang sebenarnya.

Dan untuk mahasiswa angkatan muda, mumpung belom terlambat, silahkan caper secaper-capernya ke dosen. Keuntungannya banyak loh. Jangan sampe kayak gue yang cuman berani ngoceh lewat tulisan, ngomel ngomel lewat tulisan. Tulisan itu nggak bisa dijadiin alat buat caper. Kalo ngomong langsung itu kedengeran di telinga, dari telinga bisa turun ke hati ataupun nyantol di otak. Kalo tulisan mentok mentoknya cuman di baca satu kalimat pertama. Manusia berwujud dosen itu lebih suka mendengar, apalagi mendengar sesuatu yang cetar membahana. Jadi kalo lagi ngomong sama dosen, bikin omongannya itu tetep terngiang ngiang di telinga dan nggak bisa dilupain. Kalo mau menyangkal teori, pake teori yang dahsyat yang sekiranya dosen itu belom pernah denger. Apapun itu intinya caper dengan kata kata yang menggetarkan hati *tsaaah..

BYE BYE. Semangat ngoceh demi caper, demi nilai yang lebih baik.. 

0 komentar:

Libur Tlah Tiba, Hore !

Sabtu, Januari 19, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


Holiday…HOREE !!

Setelah sekian lama terjebak di dalam kegelapan  akhirnya gue nemuin cahaya juga. Suramnya kampus, killernya dosen, kejamnya tugas dan segala antek anteknya yang selama ini hampir ngebunuh gue semuanya hilang. Ini semua berkat libur panjang yang bakal gue jalanin selama satu bulan lebih. Ya, libur panjang bro, li-bu-r pan-jang !!

Well, selama gue kuliah, saat saat yang gue tunggu itu cuman satu. Bukan saat ketemu pacar orang apalagi suami orang, bukan saat nerima duit kiriman dari emak gue, bukan juga saat gue bela belain beli es krim ke McD cuman buat ngecengin mas mas McD yang gantengnya subhanalloh abis. Tapi yang gue tunggu itu ya hari libur, terutama libur semesteran. Gue cinta banget nih sama yang namanya libur semesteran. Kenapa kenapa? Karena gue bisa bikin nangis anak SD semau gue dengan bilang ke mereka kalo liburan gue lebih lama 3x lipat dibandingin liburan mereka. Nyenengin banget, asli.

Kecintaan yang teramat besar terhadap liburan inilah yang ngebikin perilaku gue rada aneh kalo dilihat dari kacamata mahasiswa normal kebanyakan. Gue bisa pulang kampung berkali kali selama satu bulan sementara temen temen gue yang lain baru ngerencanain pulang kampung kalo mereka udah hampir wisuda. Dan omongan gue setiap hari itu gak jauh jauh dari ‘kapan hari Sabtu?’,’kapan liburan semester?’ dan seputar libur. Selain itu gue juga punya kebiasaan ngeliatin kalender cuman buat mastiin berapa hari lagi gue bisa libur.

Mungkin ini yang ngebikin kuliah gue berantakan dari semester pertama sampe semester tiga yang baru aja selese gue lewatin ini. Semester pertama sama kedua masih mendingan lah. Tapi semester tiga ini menurut gue udah astagfirulloh banget. Saking seringnya gue mikirin libur, gue gak pernah konsentrasi pas ngikutin perkuliahan. Papan tulis gue liat sebagai kalender, muka dosen gue liat sebagai tanggal merah, slide presentasi mendadak berubah jadi pengumuman libur. Buseet dah. Gue semangat ngikutin perkuliahan kalo udah sampe di pertemuan terakhir yang mana dosennya cuman ngasih pengumuman seputar uas. Selain itu, gue mungkin satu satunya orang yang paling semangat buat ikutan UAS. Kalo perlu, nggak usah pake acara 16 kali pertemuan di kelas, langsung aja UAS, yang penting dikasih fotocopy-an materi aja. Itu udah lebih dari cukup. Toh 16 kali pertemuan nggak bikin otak mahasiswa macem gue ini nyerap semua materi yang disampein dosen.

Sayangnya, semangat gue buat ikutan UAS nggak dibarengi sama semangat buat belajar materi materi hasil fotocopy sana sini hasil pinjem catetan temen temen gue. Mungkin ini yang selama ini bikin kuliah gue kacau balau porak poranda. Gue udah tiga kali ngikutin UAS di kampus, tapi males belajar gue tetep aja gak ilang ilang, malah semakin menjadi jadi padahal materi perkuliahannya semakin lama semakin ngebikin gue susah napas. Keadaan ini justru bertolak belakang sama temen temen gue yang rata rata belajar semalam suntuk cuman buat menghafal materi ujian yang tebelnya hampir sama kayak kitab Sutasoma. Keren banget ya temen temen gue. Jadi semakin merana nih hidup gue kalo bandingannya macem begitu.

Pada prakteknya, sebelum gue ngerjain soal ujian, gue selalu bilang sama diri gue sendiri ‘setelah lo berhasil ngerjain ujian ini, liburan bakal semakin dekat!’. Lagi lagi libur. Mau gimana lagi, cuman liburan panjang yang bikin gue semangat buat ngarang jawaban soal ujian yang selalu bikin gue hampir gila itu. Cuma liburan yang bikin gue gak ngumpulin lembar jawab kosong ke pengawas. Sering seringnya, gue dengan bodohnya setengah mati nginget inget materi yang sekiranya pernah gue baca meskipun yang gue baca belum tentu juga jadi jawabannya, semata mata biar lembar jawab gue ada coretannya. Padahal, di depan mata gue, ada temen gue yang dengan asyiknya googling, gue perjelas lagi yaa GOOGLING. Lalu kemudian gue keinget sama hp gue. Pedihnya, hp gue cuman sebatas hp luar negeri yang harganya gak nyampe seratus ribu. Udah gitu pulsanya gak nyampe seribu. Nggak cuman googling, yang bawa catetan kecil juga ada. Seketika gue ngerasa berdosa kenapa gue nggak kepikiran buat nyontek semaksimal mungkin. Paling nggak meskipun gue dosa, nilai A dalam genggaman. Sayangnya, yang ada dipikiran gue cuman libur,libur,libur dan libur. Bukan nilai A dengan cara apapun.

Beberapa waktu lalu, nilai nilai gue keluar. Dan hampir semuanya C.  Kalo A artinya Istimewa, B artinya baik, mungkin C itu artinya cantik. Dan itu gue banget. Karena itu gue banget, gue sih seneng seneng aja. Daripada istimewa atau baik, kan mendingan cantik. Kalo cantik kan ada kemungkinan dilamar jadi bintang iklan sosis so nice. Kalaupun gue sedih ataupun nyesek, justru gue salah. Kenapa salah? Balik lagi ke tujuan utama gue ujian yaitu gue ujian biar libur semesteran. Sebodo amat deh sama IP, mentok mentoknya paling dapet 2,75. IP 2,75 itu masih bisa buat ngajuin beasiswa BBM lho. Dengan IP batas minimal macem ini, siapa tau pihak yang mau ngasih beasiswa itu jadi semakin kasian *lah nggak nyambung* *yo ben sak senengku*.

Semua kehidupan yang berhubungan sama kampus entah itu nilai yang gak pernah beranjak dari angka C ataupun IP yang betah di dasar klasemen, semuanya udah jadi shock terapi yang harus gue alamin hampir setiap semester. Kadang kadang iri sih sama temen temen gue yang selalu berhasil ngebanggain orang tua mereka dengan nunjukkin KHS dengan IP cumlaude yang tertera di atasnya. Tapi iri gue gak sebanding sama usaha gue buat mencapai itu semua, selain itu juga nggak sebanding sama kemampuan otak gue yang mana bisa jadi katalis buat mencapai itu semua tanpa harus terlalu terseok seok sampai sebegitunya.

Liburan memang hal manis yang ngebuat hidup gue di kampus sedikit bersemangat. Liburan selalu menjanjikan banyak hal meskipun salah satu hal yang selalu dijanjikan dari liburan yang bakal gue dapetin adalah hal hal pahit yang berhubungan sama kuliah gue. Never mind, buat gue segala sesuatu yang menyenangkan yang didapat dengan cara yang begitu mudahnya memang harus dibayar dengan sesuatu yang sebegitu pahit , sepahit IP yang nggak pernah merangkak naik ke sebuah kata yang sering disebut cumlaude misalnya.

Lupain nasib buruk yang selalu menimpa IP gue, yang jelas liburan di depan mata sekarang. Dua bulan itu lebih dari cukup buat ngelupain semua yang berhubungan sama kuliah sialan itu. Selamat tinggal dosen dosen menyebalkan, selamat tinggal jam kuliah pagi, selamat datang liburaaaaaan….

Oiya, buat semester depan, mendingan gue rajin belajar atau gue beli hp android ya biar bisa googling pas ujian? Dua duanya bisa bikin KHS gue bertaburan nilai A nih. Mendingan mana? Hmmm…

0 komentar:

Berkorban?

Rabu, Januari 09, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


Berkorban?
Pernahkah? Pernahkan anda berkorban untuk sebuah cinta? Cinta apa saja. Cinta kepada Tuhan. Cinta kepada makhluk Tuhan. Apa saja. Pernah? Atau anda masih bingung dengan apa yang saya maksudkan? Baik.
Seorang manusia pasti pernah mencintai. Misalnya saja, mencintai sesamanya. Lelaki mencintai wanita  begitu juga sebaliknya wanita mencintai lelaki. Ketika anda mulai mencintai seseorang, kisah cinta anda tidak akan semulus kisah cinta di negeri dongeng yang mana anda sudah bisa dipastikan akan mendapatkan akhir cerita yang bahagia. Sempurna. Kisah yang demikian memang bisa juga ditemukan di dunia nyata ini, tetapi cobalah lihat sudut gelap di ujung sana. Lihat lebih jelas lagi. Tidakkah anda menemukan banyak orang yang merasakan getirnya cinta? Kebanyakan mereka menganggap mereka sudah berkorban terlalu banyak demi sebuah cinta tapi pada akhirnya mereka hanya mendapatkan kekecewaan. Mereka menganggap mereka sudah melakukan apapun demi orang yang mereka cintai. Katanya mereka sudah membuat orang yang mereka cintai senantiasa bahagia. Katanya mereka sudah membuat orang yang mereka cintai selalu nyaman dengan kehadirannya. Lalu, apa yang mereka lakukan ketika mereka tahu jika mereka bukanlah orang yang benar benar dicintai oleh orang yang mereka cintai? Mereka kecewa. Mereka sangat kecewa. Itu manusiawi. Tapi selain kecewa mereka juga marah. Pada akhirnya mereka meninggalkan cintanya itu, mengacuhkan cintanya bahkan tidak hanya cintanya mereka juga mengacuhkan orang yang dicintainya.
‘Aku tulus mencintai kamu. Aku sudah berkorban teramat banyak demi kamu bahkan aku sudah mengorbankan semua kebahagiaanku, itu semua demi kamu !! Tetapi kenapa kamu tidak menerimaku?’
Ini yang dinamakan sebuah ketulusan? Apakah ini yang dinamakan sebuah pengorbanan jika pada akhirnya ada sebuah pengharapan? Ah, tapi bukankah sebuah cinta selalu memiliki sebuah pengharapan?
Beberapa cinta memang berakhir tak berbalas. Beberapa cinta memang tidak berakhir indah. Beberapa cinta memang selalu bertepuk sebelah tangan. Dan beberapa cinta yang hebat memang harus bertahan sampai sekarat. Tapi renungkan lagi, ketika anda sudah merasa berkorban demi sebuah cinta, pada saat sama anda harus meragukan ketulusan cinta yang anda miliki. Cinta yang sebenar benar cinta tidak pernah mengenal kata pengorbanan. Cinta tidak butuh pengorbanan. Yang membutuhkan sebuah pengorbanan adalah hal lain yang sudah pasti bukan cinta. 

0 komentar:

20122012

Rabu, Januari 02, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


20-12-2012
Bulan Desember selalu jadi bulan yang istimewa buat gue. Karena apa? Karena satu dari tiga puluh satu hari yang ada di bulan ini jadi salah satu tanggal kelahiran gue, yang selanjutnya bakalan sering disebut sebagai hari ulang tahun gue.

Hari ini adalah tanggal 20 Desember 2012. Dan tepat 19 tahun lalu, gue lahir ke dunia, menambah satu lagi populasi makhluk hidup bernama manusia yang ada di Indonesia. Ya, sekarang gue 19 tahun, udah terlalu tua untuk disebut remaja apalagi anak-anak tapi masih terlalu muda untuk disebut dewasa. Dan sekarang gue 19 tahun, udah terlalu tua juga buat ngarep ada orang yang ngucapin ‘Selamat Ulang Tahun’ di jam 00.00 tepat. Udah terlalu tua ya? Hmmm…

Mata gue masih melek dan rasa ngantuk sama sekali gak mampir ke pelupuk mata gue. Sesekali gue ngelirik HP gue tapi masih juga belom ada sms yang masuk. Dua kali, tiga kali, empat kali, berulang kali. HP gue masih sama diemnya. Sial. Kalo udah gini kejadiannya, gue nyerah. Ah, siapa suruh nunggu.

Jam 01.30 ada sms masuk, dari Rosiana Faradisa. Yes, akhirnya ada yang inget ulang tahun gue. Dan beberapa tahun terakhir, Rosi adalah sohib gue yang paling rajin ngucapin selamat ulang tahun di jam jam pertama hari kelahiran gue. Jomblo jomblo gini, gue masih punya sesuatu yang bisa dibanggain yaitu sahabat gue *pelukcium*. Seperti ucapan ulang tahun pada umumnya, Rosi ngedoain gue biar gue bisa hidup 1000 tahun lagi, biar gue sehat kayak Agung Hercules, biar gue bisa jadi istri keduanya Vino G Bastian, trus juga biar gue bisa wisuda pas hari Valentine 2013 besok trus gue bisa kerja ke Korea jadi assistennya Jonas Brother *salahfokus. Tapi dari sekian doa doa yang dikirimin Rosi ke gue, ada satu doa yang PALING indah di antara yang indah indah. Dan itu adalaaah ah rahasia deh. Gue bakal kasih tau kalo Tuhan ngejawab doa Rosi yang indah itu dengan jawaban IYA. J

Gue tidur dengan perasaan bahagia. Mungkin kalo kamar kos gue ada CCTV-nya, bakal keliatan kalo gue tidur sambil ketawa ketawa, munngkin. Dan setelah ini, gue nggak peduli mau ada yang ngucapin lagi atau nggak.
©

Gue nggak nyantumin ulang tahun gue di Facebook. Karena buat gue, mengingat tanggal ulang seseorang tahun tanpa bantuan Facebook itu lebih ngena di hati. Rasanya lebih terharu aja ketika ada orang yang ngucapin ulang tahun ke kita yang berulang tahun karena bener bener inget ulang tahun kita, bukan hasil diingetin Facebook. Rasanya udah pasti beda. Dan itu adalah yang dilakuin sama temen temen gue. Rosiana Faradisa, Luthviana Firdaus, Lintang Gumilang, thanks a lot. Meskipun sedikit banget yang ngucapin ulang tahu ke gue, tapi gue seneng karena paling nggak masih ada yang inget tanpa harus diingetin.

Di kampus, gue dapet juga ucapan ucapan ulang tahun dari temen temen gue. Itu pun gara gara Luthvi heboh pas gue masuk ke kelas. Sontak, seperti kebiasaan orang orang Indonesia pada umumnya kalo lagi ada yang ulang tahun, beberapa orang nyelamatin gue. Waah, thanks abis lho ini.

Semuanya selesai. Ulang tahun udah lewat. Ucapan ulang tahun udah didapet, tangan tangan nyalamin tangan gue juga udah didapet, semuanya udah. Saatnya kembali ke dunia gue yang biasa.

©

Hujan turun ngebasahin genteng kost gue. Untungnya kost gue nggak bocor, so gue yang barusan aja pulang dari kampus dengan bergerimis gerimisan ria bisa tidur dengan nyenyak sambil meluk bantal yang dengan terpaksa gue jadiin guling. Mendadak kepala gue pusing dan badan agak agak meriang. Itu adalah alasan terbesar buat gue tidur cepet dan nggak bangun bangun lagi sampe besok siang. Sampe akhirnya, gue keinget kalo Rosi sama Luthvi mau dateng ke kosan gue, mau nyamperin gue yang mau ikutan mereka jalan jalan. Gue kebangun, kebangun gara gara ada sms dari Mba Santi-temen kos gue-yang ngucapin selamat ulang tahun. Katanya dia kelupaan, saking sibuknya nyari suami sampe sampe ulang tahun gue aja dilupain. Tega lo ya mba, tegaaa !

Beberapa saat kemudian, ada yang ngetok ngetok pintu kamar kos gue. Biasanya sih Mba santi. Sopan amat itu orang pake ketok pintu dulu, biasanya aja langsung nyelonong masuk. Tapi betapa kagetnya gue ternyata yang masuk adalah tiga orang manusia dengan salah satu orang membawa kue ulang tahun dengan nyala api yang berkobar kobar di atasnya. Siapa lagi kalo bukan Rosi,Luthvi, sama Mba Santi. Astagaaa. Kaget banget gue.

Rasanya terharu maksimal. Gimana enggak, jarang banget gue diperlakuin model begini. Biasanya sih cuman mentok di ucapan ulang tahun sama kado. Nggak pake begini beginian. Semoga aja kue ini nggak bikin kalian puasa tanpa sahur dan buka buat beberapa hari ke depan ya. Tanggal 1 masih lama lho.


Kue-nya berlapis Belgian Chocolate. Lilinnya jelmaan Obor Olimpiade.


Masih gak ngerti gimana caranya potong roti


Sohib sohib gue. I Love You All :3




Gue dibikin bahagia setengah mampus hari ini. Semoga efek bahagia ini bisa bertahan sampe selese UAS besok ya. Soalnya kalo gue lagi bahagia, IP gue bisa mencapai 4,00 bahkan lebih tanpa perlu belajar. Serius. Ngeri kan ngeri kan. Oiya, selain kejutan ini, gue juga dapet kado nih. Subhanalloh banget ya temen temen gue ini.  Semoga Alloh SWT memudahkan jodoh kalian dan jodoh gue juga, AMIIN. Dan kadonya adalaaaaaaaah seperangkat alat make-up, eh bukan ,tapi tas berwarna coklat yang unyunya maksimal. Semoga aja pas gue make tas ini, ada orang ganteng yang kesengsem sama gue tasnya terus berlanjut dengan ngelamar gue buat jadi pembantunya istrinya. Tapi makasssiiiih banget loh ini, makasih banget. Gue sayang kalian semua pokoknya deh.
Dan kebahagiaan belom berakhir. Masih ada serentetan kebahagiaan lain yang akan hadir, setelah jeda komersial yang berikut ini *lho. Yaap, kita bakal karokean nih, syukur syukur ntar ada yang ngajak rekaman.





Well, sebenernya abis ini masih ada makan makannya yang pada akhirnya kisah yang manis ini ditutup oleh sekotak martabak manis yang dilahab oleh orang orang yang cukup manis juga. Ya pokoknya, terimakasih buat hari ini. Terimakasih buat sahabat sahabat gue, tanpa kalian gue nggak bisa seterkenal ini *lhoh. TERIMA KASIH. Gue sayang kaliaaaaaaaaan..
        
Banyak banget harapan yang ada di otak gue tapi gue nggak bisa nulisin semuanya. Yang jelas, gue selalu berharap yang terbaik buat diri gue, yang terbaik dari Tuhan buat gue.
Sekali lagi, thank you buat semuanya. Thank you buat yang ngeluangin sedikit waktunya buat nginget ulang tahun gue. THANK YOU. It’s the greatest birthday moment that I’ve ever had. Dan ini juga tanggal ulang tahun gue yang paling cantik 20-12-2012. Rangkaian hari dan bulan yang sama persis dengan rangkaian tahunnya. 20122012.

0 komentar: