Surat Seorang Asing

Kamis, Oktober 17, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments

Surat Seorang Asing

Dear Tuan,

Sudah bahagiakah kamu dengan dia yang sekarang? Kupikir sudah. Kamu sering menghabiskan waktu bersamanya, berfoto bersama dengan pose macam-macam lalu disebarkan di media sosial dan tanpa sengaja membiarkan aku mengetahui kebahagianmu. Aku mencoba tidak peduli. Tapi apanya yang disebut tidak peduli? Sedetik setelah kamu menyebarkan fotomu, aku membuka album foto di Facebook-mu dan mencari tahu segala apa yang telah kamu lakukan di hari itu bersama pasanganmu. Setelah itu aku hanya mengucapkan ‘OH’ dan tidak ada perasaan cemburu sama sekali. Jelas ini bukan patah hati kan?

Kita sering bersama. Tapi kita hanya teman saja. Seringkali aku masih melihat hal yang berbeda dari matamu saat tidak sengaja melihat mataku. Bahkan terkadang, menyebut namaku pun lidahmu masih kaku. Ada yang salah denganku?

Dan lagi,

Seharusnya sudah tidak ada degup jantung yang sedikit melenceng dari ritme biasanya saat kamu berada di sisiku. Seharusnya, tidak ada tangan yang menggenggam tanganku saat aku hampir terjatuh. Seharusnya, tidak ada jaket yang kau pinjamkan saat aku sedang kedinginan. Seharusnya, tidak ada sosok yang perlahan mendekati dan menemaniku saat aku duduk seorang diri di bangku taman. Seharusnya begitu, jika kamu sudah tidak cinta aku.

Dulu, katanya kamu cinta aku. Tapi kamu bahkan enggan menungguku sampai mau menerimamu. Kamu malah pergi, mengatakan cinta kepada selain aku. Itu yang namanya cinta? Mana bisa aku percaya.

Jika kamu menungguku sedikit lebih lama, barangkali kamu tidak perlu memperhatikanku diam-diam. Kamu juga tidak perlu mengawasiku dari jauh hanya untuk memastikan aku sedang baik-baik saja. Kamu hanya perlu berada di sampingku sambil menggenggam tanganku. Tapi jika kamu menungguku sedikit lebih lama, kamu tidak akan bertemu wanita yang selalu mengkhawatirkanmu setiap waktu. Kupikir, kamu masih baik baik saja tanpa cintaku.

Bagaimanapun juga, aku memperhatikan kamu tanpa pernah kamu tahu. Sedikit demi sedikit, aku mulai rindu jika aku kehilangan gelagat anehmu tiap kali aku ada di dekatmu.

Ah, seandainya engkau menunggu lebih lama, mungkin engkau akan lebih bahagia atau bahkan lebih merana.

Itu masa-masa lima tahun yang lalu, Tuan. Sudah lama, sudah lapuk. Sekarang, bolehkan aku bertanya apa kabar padamu? Masih ingatkah aku, orang yang katanya sempat kau cintai, lima tahun yang lalu.

-dari seorang asing yang barangkali sudah terlupakan, JINGGA -


0 komentar:

m.e.n.g.a.n.t.i

Rabu, Oktober 16, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments

Great Moment with Great People
‘sebuah hari yang dinanti’



SENIN

Fajar sudah menyingsing sejak tadi. Kicuan burung pagi juga sudah berhenti pertanda sudah tidak lagi pagi. Senin ini sepertinya ada janji yang sudah menunggu untuk ditepati. Pergi ke Pantai Menganti jam sepuluh pagi, begitulah janji kami. Siang nanti kami akan pergi, menuju ke tempat paling tepi di balik bukit yang tinggi, Menganti. Sampai jumpa nanti. Sambut kami dengan semilir angin paling wangi dan debur ombak paling berani.

ATIKA
Menunggu memang tidak pernah mudah. Menunggu hanya menumpuk lelah. Sudah sejak tadi aku rapi. Aku mandi. Aku menggosok gigi. Aku mematut diri. Semuanya sudah kulakukan lebih pagi. Tapi nyatanya, hingga aku menononton televisi dua kali dan hampir kelupaan makan pagi, yang kutunggu belum juga pasti. Jam 10 lebih sedikit. Yang ditunggu masih belum menunjukkan tanda-tanda ingin beranjak dari kursi yang sedang didudukinya barangkali juga sambil ngopi. Enak sekali. Padahal di sini aku menunggu sampai lapar, sampai aku ingin mandi lagi. Ponselku berbunyi, salah satu di antara kami menanyakan keberadaanku. Aku sedang di surga di antara puluhan malaikat. Surga terlalu damai untuk ditinggalkan dengan cepat, di sini tidak ada omong kosong. Sedetik kemudian aku tersadar dari khayalan sekaligus tersadar bahwa aku sedang bingung membalas pesan. Kubalas aku masih di rumah. Ini bukan mauku.
Sepertinya akan mulur. Lebih baik aku tidur daripada menunggu hingga uzur. Aku hampir membatalkan janji. Tapi aku gengsi. Jadi, bagaimana ini?
Ponsel bordering lagi. Dari seseorang yang jauh-jauh datang kemari hanya untuk janji ini. Dia mengabarkan kalau dirinya baru akan tiba setelah adzan dzuhur. Bisakah dia mengabarkan sejak subuh? Kalau begini, aku bisa mengulur mimpiku lebih lama untuk menciptakan akhir yang tidak setragis tadi.
Lalu aku memutuskan untuk berangkat sendiri nanti tanpa harus menunggu lebih lama lagi. Aku sangat bisa pergi sendiri. Terlalu lama sendiri barangkali membuatku begini. Ah sudah lupakan. Masih banyak waktu untuk sejenak merebahkan diri sampai dzuhur nanti. Mari dinikmati.

ROSI
Aku ingin pergi lebih pagi. Saat siang energiku mendadak pergi. Dalam keadaan seperti itu, aku hanya ingin menghabiskan siangku di atas dipan sambil menyeruput segelas minuman dingin atau menyantap jajanan. Jam sepuluh lewat. Aku sudah rapi sedari tadi tapi tidak ada tanda-tanda akan segera pergi. Kupikir rencana ini akan batal. Padahal aku sudah lama ingin melihat pantai. Aku ingin merasakan sedikit damai sesaat setelah diterpa angin laut yang sepoi. Rasanya angin itu bisa membawa pergi segala penat yang menempel erat di pundak. Ayolah, aku ingin segera melihat hamparan biru air laut yang tiada habisnya, lalu kuhanyutkan segala bebanku di sana dan mengucapkan sayonara.
Dering ponsel kudengar dari sudut ruangan. Rupanya pesan dari seorang teman yang kurang sabar untuk menunggu sedikit lama dan satu lagi tentang seseorang teman yang datang dari jauh dan baru bisa sampai setelah adzan dzuhur.
Mendadak kerongkonganku menjadi kering, sepertinya minta disiram dengan segelas air dingin. Dan aku hampir lupa kalau aku sedang berpuasa.

WAWAN dan FARIS
Kita sudah berdiam cukup lama menanti pergi. Sebagai laki-laki, menunggu itu membosankan, rasanya sedikit seperti diberikan harapan palsu. Antara akan pergi atau tetap di sini. Tidak ada yang memberi kepastian. Yang membuat kami bertahan adalah ada yang mengatakan ‘pasti akan pergi’. Haruskah kami percaya kalau itu bukan hanya sekdar janji penuh basa basi? Tidak ada salahnya percaya bukan?
Sembari menunggu, tidak ada asap rokok yang mengepul dari bibir kami masing-masing.

LANJAR
Barangkali ada yang sudah tidak sabar menunggu kedatanganku. Ponselku sudah berisik sejak tadi. Kubiarkan saja, kubiarkan menunggu lama. Aku sekali-kali ingin menjadi orang yang kedatangannya ditunggu-tunggu. Tidak akan ada yang benar-benar marah nantinya. Dan pastinya aku tidak akan menjadi satu-satunya orang yang datang tidak tepat waktu.

EDHO
Jarak yang kupunya adalah yang paling banyak. Jadi, aku harus siap lebih pagi, berangkat lebih pagi. Aku enggan. Tapi menghabiskan waktu liburan yang tidak terlalu panjang hanya dengan menyeruput kopi dan menikmati udara kota yang sudah sangat kuhafal ini juga enggan. Kuputuskan untuk menempuh jarak yang cukup jauh.  Akan kulewati Aku ingin tahu bagaimana keadaan pantai disana. Cukup kuatkah deburan ombaknya untuk menghancurkan mimpi-mimpiku menjadi potongan asa tak berharga?
Aku membuat mereka menunggu cukup lama. Karena sebuah alasan, aku baru bisa sampai di sana sekitar dzuhur. Tidak ada niatan untuk menggagalkan rencana ini. Tidak ada niat pula untuk mengingkari apa yang telah kusanggupi. Yang jelas, tunggu saja aku sebentar lagi. Setelah itu mari kita pergi menjelajah Pantai Menganti.

PERJALANAN
Jumlah kami sudah lengkap. Enam orang, tidak lebih tidak kurang. Tamu yang datang jauh-jauh dari negeri seberang juga sudah datang. Ada baiknya kami membiarkannya istirahat sejenak sambil memulihkan tenaga yang hilang tercecer di jalanan. Saat berkumpul seperti ini, kegilaan kami seolah semakin kuat. Selalu ada obrolan-obrolan tidak waras. Tentang modus-modus cinta, tentang eksekusi inceran, tentang segarnya es kelapa atau gurih dan lezatnya ikan bakar. Sialan.
Teriknya matahari di jam-jam seperti ini memang sedang berada di titik paling kurang ajar. Panasnya tidak main-main. Kota ini barangkali bukanlah kota yang sama dengan puluhan tahun yang lalu. Tapi tetap saja, keinginan kami cukup besar untuk melihat pantai lagi ,setelah sekian lama hanya melihat gedung-gedung kota yang semakin edan beserta mall-mall yang tingginya semakin menjulang. Sekali-kali kami ingin melihat alam Indonesia yang masih sepi dari modernisasi. Tentunya ini lebih menyejukkan hati daripada mengunjungi tempat-tempat yang dibangun atas dasar keserakahan manusia.
Jam setengah dua kami menyalakan mesin motor kami masing-masing lalu melaju menuju tempat paling Selatan dari kota kami.
Jalan yang kami lewati cukup membuat ngeri bagi siapapun yang baru pertama kali melewatinya. Berliku, tanjakan-tanjakan curam, turunan. Tapi kami cukup tangguh melewati semuanya. Kami berhasil sampai dalam waktu satu jam lebih sedikit. Seketika, mata kami langsung disuguhi hamparan lautan biru dengan ombak yang cukup rapi. Di balik bukit yang terjal terdapat sebuah pantai yang cukup manis untuk dipandang.

PANTAI MENGANTI, Beautiful Place & Beautiful Moment
Air laut sedang pasang. Karang-karang pantai tidak nampak banyak. Perahu-perahu nelayan berjejer rapi. Beberapa nelayan terlihat baru pulang melaut, tubuhnya telah legam terbakar sinar tapi masih mampu melangkah dengan gagah ke tepian dengan hasil tangkapan yang memuaskan. Beberapa lainnya masih terombang-ambing di lautan, menunggu saat yang tepat untuk pulang.
Dari kejauhan, terlihat pasir pantai putih yang memanjang dan menyilaukan. Bukit bukit tinggi mengelilingi pantai, merahasiakan keindahannya dari siapapun. Bunyi debur ombak yang menabrakkan dirinya ke karang pantai terdengar keras, lalu menghilang lagi, lalu terdengar lagi. Angin laut yang lembut menerpa wajah kami sampai kusut. Sedetik kemudian, bau amis menyergap hidung kami masing-masing, bau khas dari ikan-ikan yang menyerahkan hidupnya kepada tangan-tangan kokoh nelayan yang ada.
Kami duduk sejenak di warung kecil dekat pantai. Memandangi lautan dan membiarkan wajah kami diterpa angin laut. Melihat sekeliling ramai orang, menyantap mendoan hangat yang lezat ditemani segelas es teh yang dingin. Belum lagi kelapa muda yang sedari tadi terus dibahas oleh Faris. Perut orang puasa mana yang tidak bergejolak? Di antara udara pantai yang panas, minuman dingin hanyalah satu-satunya yang bisa membuat tetap waras.
Ada tempat di mana kami dapat memandang seluruh sisi lautan yang maha luas ini. Yang kami butuhkan hanyalah melangkahkan kaki kami ke sebuah bukit di atas pantai selama beberapa menit. Di sana juga terdapat mercusuar yang sudah tidak terpakai. Setelah sampai di atas, keindahan yang disuguhkan lebih lengkap dan lebih luar biasa. Angin yang bertiup lebih dahsyat.
Kami membingkai kenangan ini dalam sebuah jepretan kamera. Kenangan ini harus tetap ada, minimal terpatri dalam bingkai hati masing-masing. Barangkali saat tiba waktunya kami pergi dengan kehidupan kami sendiri, masih ada yang tersisa dari masa-masa muda. Berenam, kami melebarkan tawa sampai bunyi ‘KLIK’ berakhir. Setelah itu kami membicarakan apa saja. Tentang bumi yang tidak akan ada apa apanya tanpa lulusan Teknik Geodesi, tentang kehidupan yang akan kacau tanpa Manajemen yang baik, tentang pemeritahan dan kekuasaan, bahkan tentang perpustakaan. Kami beradu argument, sampai akhirnya sampai kepada keputusan akhir yang mutlak bahwa semuanya tercipta dari sebuah kerjasama antar lini pengetahuan.

MENANTANG OMBAK
Ada bagian pantai yang cukup curam. Hanya terdiri dari karang yang tersusun sedemikian rupa membentuk susunan yang cantik. Di depannya, ombak ombak besar menyerbu, membenturkan diri kepada karang lalu menciptakan deburan ombak yang dahsyat dan mantap. Kami tertantang menuruni lereng yang sedikit curam menuju ke bebatuan karang. Setidaknya kami ingin mencicipi bagaimana rasanya berada sedekat ini dengan deburan ombak. Pada saat yang sama, rasa bahagia tercipta saat air laut tanpa sengaja jatuh di wajah kami dan sedikit membasahi baju kami. Ada kesegaran luar biasa sesaat setelah ombak menerpa. Sayangnya, Rosi tidak mau mengikuti kegilaan kami. Dia menunggu di atas bukit, memperhatikan kami yang menunggu ombak ombak besar datang menyergap.

Hari semakin sore, angin laut berada pada tingkat terjinaknya. Sungguh, waktu sore menjelang senja adalah saat saat terbaik yang dimiliki setiap pantai. Di sela hembusan angin yang aduhai, kami duduk bersama menghadap laut. Kesunyian seketika menjadi teman terbaik nomer wahid. Dari atas bukit kami menebarkan rindu untuk orang-orang tersayang yang jauh dari jangkauan walau kadang berdekatan. Tak lupa kami menghanyutkan mimpi-mimpi kami ke laut lepas, bukan untuk membuangnya tapi agar semua penghuni lautan tahu bahwa mimpi-mimpi kami tak sanggup dipatahkan oleh apapun selain oleh takdir.
Tibalah waktu untuk pulang. Kami ingin menunggu sampai sunset tiba. Tapi pulang malam bukanlah sebuah keputusan yang baik untuk kali ini. Lagipula, Edho masih harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk pulang. Selain itu, dua di antara kami adalah perempuan, tidak baik pulang malam-malam. Tapi kami memutuskan untuk berbuka puasa bersama sebelum akhirnya benar-benar pulang. Anggap saja makan mala mini adalah penutupan dari sebuah pertemuan.

MAKAN BERSAMA
Kumandang takbir menggema di seluruh kota. Besok adalah hari raya Idul Adha, banya orang menyebutnya Lebaran Haji. Diiringi suara takbir yang mengalun syahdu, kami makan dengan lahab, mengisi perut yang seharian telah kosong karena menjalankan sunnah.
Bukankah dalam setiap pertemuan selalu ditakdirkan sebuah perpisahan? Jika iya, maka kami memang ditakdirkan untuk berpisah, pulang ke rumah masing-masing, menjalani cerita-cerita lainnya dengan tokoh tokoh yang lain. Baiklah, izinkan masing-masing dari kami untuk pergi.
Kita masih bisa berkumpul lagi di lain waktu tapi kenangan yang terjadi hari ini tidak akan terulang persis sama. Karena itu, bingkailah cerita ini dalam bingkai abadi yang tidak pernah pecah dihantam cerita dan kenangan yang kelak akan kita ciptakan.
BYE BYE J

0 komentar:

Jemput Aku, Sendiri Saja

Kamis, September 26, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments

Jemput Aku, Sendiri Saja

Jingga milik senja telah menggulung biru milik langit. Warna bumi serentak menjadi orange, lalu perlahan tapi pasti semburat warna orange itu kemudian pecah menyebar digantikan oleh hitam dan pekatnya warna malam. Pemilik alam menyeret lampu besar milik jagad raya ke dalam ruangannya, menjadikan bumi mendadak diliputi gulita, lalu Dia menukarnya dengan cercahan cahaya yang tidak ada apa-apanya. Bulan namanya. Namun tiada yang bisa menyainginya meskipun seluruh cahaya dari alam lain berkumpul dan bersatu untuk menundukkannya. Sinarnya terlalu lembut dan hangat untuk digantikan siapapun. Bulan itu dingin. Dinginnya itu membangkitkan luka dan seakan menjadi mesin waktu instan yang bisa membawa kita ke pusaran kenangan menyakitkan. Sayangnya tatapan anggunnya mampu membuat seluruh alam menyerahkan sebagian hari mereka padanya, 12 jam penuh tidak lebih dan tidak kurang. Keteguhannya sanggup membuat mereka percaya bahwa mereka akan tetap nyaman dalam dingin sekalipun. Dari kejauhan, lampu besar itu tersenyum dari balik pintu ruangan Tuannya, sepertinya dia menemukan teman untuk menjaga alam agar tidak kehilangan cahaya.

Malam ini, aku tahu kalau bulan sedang benderang. Mungkin dia sedang senang namun tetap tenang, tetap anggun, tidak seperti manusia yang selalu berlebihan saat mereka sedang senang dan akan berlebihan juga saat mereka dirundung duka. Lihatlah aku, manusia yang begitu rapuh dan lusuh. Cermin besarku memantulkan bayanganku yang begitu buruk. Mataku sembab karena menangis semalaman dan rambut panjangku entah sudah berapa lama aku biarkan terurai tanpa tatanan. Seharusnya aku malu pada bulan. Tapi aku berteriak pada diriku sendiri, ‘aku bukan bulan yang bisa tetap tegar menghadang badai, AKU BUKAN BULAN!’. Aku mengelak mati matian, tapi pada kenyataannya aku tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa aku memang malu pada bulan yang sanggup tegar meniti malam malam yang mulai kurang ajar. Sekali lagi, aku memandang cermin, melihat aku yang mulai lain dan aku malu pada bulan.

Kemudian aku teringat akan sosok dengan senyum yang membuat separuh jiwaku melayang ke kahyangan. Dia berjalan dengan seorang wanita berkulit putih bersih dan mata yang hanya tampak seperti garis lurus itu. Mereka berjalan menjauhi bayanganku, tertawa bersama lalu bergandengan tangan menuju masa depan. Aku berdiri tegak, tertegun menatap punggung yang semakin lama semakin jauh meninggalkanku. Aku tersenyum mantap tapi bayanganku sudah terduduk lemas, terlalu jujur dan terlalu frontal menunjukkan kesedihan. Sosok itu, pemilik senyum itu adalah orang yang sedang kucintai sekaligus sedang membuat hatiku nyeri (tanpa pernah dia sadari). Senyum itu sama seperti yang kulihat pertama kali. Yang berbeda hanyalah perasaanku yang semakin rakus ingin memilikimu dan rasa sakit yang menyerang ulu hatiku tiap kali aku semakin ingin memilikimu. Yang berbeda hanyalah kamu sudah bersama seseorang yang mencintaimu sekarang. Tapi, yang tetap sama adalah aku, aku yang masih sendiri seperti saat pertama kali aku meletakkan hatimu di hatiku dan aku yang selalu berdebar tiap kali melihat senyum ajaib itu. Sesederhana itu keadaan kita sekarang. Bagimu ini mudah, tapi bagiku ini lebih dari musibah.

Tubuhku seperti dicabik-cabik waktu. Paru-paruku layu. Degupan jantungku memompa kehidupan yang ragu-ragu. Mataku sayu, terlalu lama melihat adegan mesra antara kamu dan kekasihmu. Tapi bahuku ternyata lebih kuat daripada karang laut. ‘Deburkan saja ombak yang keras ke tubuhku, silahkan!’ Pembuluh darahku perlahan lahan berfungsi lagi setelah mati suri lalu mengalirkan kekuatan ke setiap ons takdirku. Takdir untuk tetap hidup meskipun harus patah berkali-kali. Bukankah manusia itu tidak pernah jera dengan cinta meskipun lara?

Aku merebahkan badanku di kasur. Aku mulai berpikir kalau aku mulai gila karena cinta bodoh ini. Iya, mencintai orang yang sudah dicintai orang lain adalah hal bodoh menurutku. Tapi, bukankah sebenarnya kita juga tidak menginginkan hal menggelikan itu terjadi? Bukankah kita tidak berkuasa atas cinta? Yang Maha Memiliki Cinta lebih berkuasa membolak-balikkan hati, menabur cinta dan bahkan mencabut kasih. Aku menggeser posisi tidurku, membolak-balikkan badan di atas kasur yang mulai uzur dimakan umur. Kemudian aku berpikir lagi tentang cinta yang harus satu. Cinta tidak boleh dua, cinta maksimal empat dan seterusnya. Jika cinta itu matematis, pada angka berapakah ia pas dan pada angka berapakah ia bablas? Seandainya cinta tak harus satu mungkin kami bisa menyatu tanpa takut terjerembab ke lereng waktu.

Aku kembali kuat. Meskipun cinta sialan itu hampir membuatku sekarat dan berkarat. Aku masih mampu berharap bahwa suatu saat hatiku akan utuh lagi dengan kamu sebagai pelengkap. Bagiku, patah hati yang terlalu cepat adalah konsekuensi atas proses jatuh cintaku yang cukup singkat. Karena semuanya begitu cepat, aku harus bangkit lagi dengan sigap. Cinta menungguku di depan mata. Aku harus jatuh cinta lagi kepadamu sejak awal, meskipun aku harus terluka lagi dan terluka lagi selama kamu masih menggadaikan senyummu kepada pemilik mata sipit itu. Aku belum lelah melihat hatiku patah.

Entah aku bodoh atau keras kepala atau tidak bisa menerima kenyataan bahwa kamu telah berdua. Aku tidak tahu. Nyatanya aku masih belum jera menambatkan hati di dermaga milikmu tanpa sepengetahuanmu tentu saja. Dan aku tidak mau kamu sampai tahu. Anggap saja aku terlalu mencintai diri sendiri karena aku memilih untuk tidak mengungkapkannya kepadamu, terserah. Bagiku, cinta tidak harus diucapkan dan ditunjukkan secara berlebihan. Tanpa kita menunjukkan pun, alam telah memperlihatkan terlebih dahulu lewat angin yang berhembus menerabas helaian rambutmu. Aku masih menunggu tangan tangan alam bergerak mendekatkan sisi kanan pundakku dengan sisi kiri pundakmu, lalu kita menjadi sangat dekat dalam waktu yang singkat dan kita saling memeluk erat. Persetan dengan orang yang enggan menunggu, hanya karena takut dikatakan terlalu lemah dan bodoh. Persetan dengan penantian tanpa akhir. Bukankah selalu ada janji sebuah pertemuan di setiap penantian? Kita saja yang tidak mau menunggu semenit lebih lama dan menyimpulkan terlalu cepat tentang janji itu. Sekali lagi, sekilas senyummu mampu membuatku percaya bahwa janji itu nyata, bahwa kita akan bertemu di ujung penantian masa. Seketika aku teringat mata milik kekasihnya. Seketika itu pula aku ingin menyerah karena penantian itu sudah pasti akan membuat jengah dan gerah. Aih, dimana rasa percayaku yang tadi. Payah

CUKUP !

Sepertinya aku mabuk. Duniaku seperti terjungkir kemudian terbalik. Bicaraku mulai ngawur, campur campur dan tidak beralur. Mudah saja aku mengatakan A dan setengah detik kemudian aku berkata B, menyangkal segala yang telah kuucapkan sebelumnya. Aku memang mabuk. Ruang panjang tenggorokanku barangkali telah dialiri arak berpuluh puluh tenggak.

Pergilah. Pergilah menuju senja. Tenggelamkan punggungmu disana bersama siapapun yang menjadi pilihanmu kini. Lalu aku akan berjalan menuju pagi, menghangatkan raga yang kembali mendingin sejenak setelah punggungmu hilang dari pelupuk mataku, bercampur bersama bubuk orange dari surga. Aku akan berlari menuju pagi paling hangat yang pernah ada, siapa tahu langkah jenjangmu berhasil menjangkau pagi lebih cepat daripada yang aku kira, dan kita akan bertemu. Seperti pertemuan pertama kita, aku sendiri dan kamu sendiri. Kamu sedang terluka dan aku akan menutup luka dengan bahagia yang kupunya. Aku akan membungkus lara dan kenangan lama. Dan kita akan bersama, sampai renta, sampai senja tak lagi ada.

***

Aku bangun dan berjalan menuju cermin dan masih melihat orang yang sama. Orang dengan keadaan terburuk sepanjang masa. Kemudian aku menarik kedua ujung bibirku, memaksakan senyum untuk kemudian bisa benar-benar tersenyum. Aku mengambil sisir lalu merapihkan rambutku perlahan, seperti menata kembali harapan yang baru saja pencar. Aku memperhatikan cermin, kupikir ini lebih baik dan pasti akan tetap baik-baik saja. Diam diam, di balik singgasana langit, bulan melihatku dengan tersenyum. ‘Kamu tidak perlu lagi malu kepadaku’ katanya sambil lalu.

Sampai jumpa pemilik senyum kesayanganku. Berlarilah menuju senja sampai kamu bertemu pagi. Aku menunggumu di setiap pagi yang hadir menyapa. Datanglah sendiri dan tanpa ragu aku akan menjemputmu dengan berlari.

-END-



Note: Apa kau berpikir kalau aku benar benar ‘AKU’? Jika iya, itu adalah kesalahan besar.

0 komentar:

Patah (lagi)

Senin, September 23, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments


(kuharap) Kau tahu kalau aku mencintaimu dengan segala isyarat halus yang kuberitahukan kepada malam, dengan beribu-ribu pesan yang kutitipkan pada hujan. Karena itu aku (berusaha) mengikhaskanmu.

©©

Aku begitu hangat saat itu. Entah karena aku sedang demam atau hanya sedang cemburu. Mungkin juga patah hati. Aku juga masih belum tahu kenapa aku layak untuk patah hati, terlalu sering patah hati lebih tepatnya. Saking seringnya, rasaku mati berkali-kali. Namun aku terlalu gengsi untuk menyerah atau mungkin hati ini masih belum lelah dan belum benar benar patah. Karena itu, aku jatuh cinta lagi, lagi lagi jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada pemilik senyum yang tiada habisnya. Aku begitu hangat saat itu. Tapi kupikir, ini bukan cemburu atau pun patah hati, ini cinta.

Senyum itu selalu berhasil membuat jantung ini berdegup lebih hebat dari biasanya dan darah serasa mengalir tidak pada tempatnya. Sistem tubuhku dikacaukan seketika oleh pemilik senyum yang sejak dulu sudah kuketahui namanya namun belum pernah membuat degup jantungku tampak berantakan seperti akhir akhir ini. Hubungan kami hanya sebatas dua orang manusia yang pernah bertemu beberapa kali secara tidak sengaja tapi tidak pernah saling memperhatikan satu sama lain. Itu saja. Aku sibuk dengan duniaku dan dia sibuk dengan dunianya, sibuk mengejar cintanya barangkali. Sampai waktu itu datang, kami hanyalah dua orang yang tidak akan pernah merasa rindu walaupun kami tidak bertemu untuk waktu yang lama. Hingga saat itu tiba, kami hanyalah orang yang akan selalu berlari ke kutub yang berbeda.

Tetesan rasa di atas hati yang berulang kali patah ini membuatku lain. Seketika aku melupakan kisah-kisah percintaan pahit masa lalu. Sepotong hati yang baru sudah kugenggam dan kali ini aku tidak akan membiarkannya patah lagi untuk kesekian kalinya. Dengan segenap rasa percaya diriku, aku mengklaim bahwa pemilik senyum itu adalah seseorang yang nantinya akan hidup bersamaku hingga renta. Dalam hati aku ragu, tapi lagi-lagi senyum itu meyakinkanku bahwa semua itu akan menjadi nyata, lebih nyata dari apapun.

Maka, semenjak aku tahu bahwa aku sedang jatuh hati kepada pemilik senyum yang menggetarkan hati, aku mencari tahu tentang dia. Apapun tentang dia. Asal-usulnya, teman-temannya, orang yang sedang dicintainya. Bahkan aku mencari tahu nomor handphone-nya, tempat tempat yang biasa dikunjunginya saat malam minggu tiba, klub sepak bola favoritnya dan seterusnya. Orang yang sedang jatuh cinta itu mempunyai rasa penasaran yang bahkan bisa membunuh singa liar sekalipun, tidak terkendali. Selalu ada cara untuk menembus batas yang tercipta yang menutupi kebenaran yang ada. Dan setiap orang yang sedang jatuh cinta pada akhirnya akan selalu berhasil menembus batas itu dan mengetahui setiap kebenaran yang ada di balik batas itu, meskipun kebenaran itu nantinya akan menimbulkan lara.

Beberapa hari setelah pemilik senyum itu berhasil mengisi ruang sempit hatiku, aku semakin gencar menunjukkan diri di hadapannya. Tujuanku hanya satu, supaya dia menyadari ada seseorang yang berdebar dadanya setiap kali senyum itu terkembang dari bibirnya. Dalam setiap pertemuan, aku selalu berdoa supaya telinganya tiba tiba mendengar degup jantung yang tidak biasa sehingga aku tidak perlu berkata langsung bahwa aku mulai mencintainya.

Pada suatu waktu, kami setidaknya mulai lebih dekat dari biasanya. Kami sering berbicara, berbicara apa saja. Aku bercerita tentang hujan yang tidak pernah bisa menghubungkanku dengan hati seseorang. Lalu kamu mulai tertawa, mengatakanku aneh dan sebagainya. Dan aku melihat tawanya sekarang. Rasanya aku ingin melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil yang baru saja dibelikan es krim coklat. Dan di sebuah waktu, aku dikejutkan oleh ajakannya ke pasar tradisional, kupikir dia bercanda karena itu aku meng-iya-kan ajakannya. Tidak disangka, itu sungguhan. Kalau tahu begini aku akan menolaknya dengan alasan-alasan yang kubuat-buat. Antara bahagia luar biasa dan sangat bahagia, aku tidak mengerti, yang jelas aaah aku sudah tidak bisa mengendalikan degup jantungku. Debaran ini mungkin lebih keras dibandingkan dengan deburan ombak pantai manapun. Ini berlebihan tapi bukankah orang jatuh cinta itu selalu berlebihan?

Di saat yang sama, di saat seolah-olah kelopak kelopak bunga sakura satu per satu jatuh di atas kepalaku dengan alunan lagu lagu cinta atas respon positif yang diberikannya, aku tidak tahu kalau cerita ini akan berakhir menyakitkan. Aku tidak tahu, sungguh.

Dia menjemputku pagi pagi sekali. Ini lucu dan terkesan tidak indah untuk ukuran kencan pertama. Kencan? Iya, aku menganggapnya demikian dan lagi lagi ini berlebihan. Tidak masalah. Jangan mengacaukan fantasiku dengan kemungkinan kemungkinan buruk yang sulit kubayangkan, biarkan aku merasa senang, setidaknya untuk hari ini. Pasarnya tidak jauh, namun kurasa jarak yang dekat ini kami tempuh dengan waktu yang lama. Entah karena gas motor yang tidak dipacu dengan dahsyat atau karena bumi sedang mengerti perasaanku yang ingin berlama-lama dengan orang ini sehingga tanpa disadari bumi menjauhkan jaraknya. Entahlah. Biarkan aku menikmati saat saat ini, siapa tahu ini akan menjadi yang terakhir kali aku bisa duduk berdekatan seperti ini meskipun dia tidak menghadap ke arahku dan sibuk dengan motornya. Aku bahagia, bahkan aku sangat bahagia hingga hampir gila.

Sejak saat itu, aku tahu kalau dia suka memasak. Tidak canggih seperti koki tapi cukup untuk membuatku lebih jatuh cinta. Aku mulai suka memasak. Setiap hari pikiranku dihiasi oleh berbagai resep masakan. Bahkan pikiran sintingku mulai membayangkan tentang betapa menyenangkannya bisa setiap hari pergi ke pasar bersama untuk membeli bahan masakan lalu kemudian mengolahnya bersama-sama. Seandainya itu nyata, mungkin aku bisa lebih gila daripada ini.

©©

Kukatakan sekali lagi bahwa orang yang sedang jatuh cinta punya rasa penasaran yang bahkan bisa membunuh seekor singa liar. Aku mencari tahu tentangnya setiap saat semampuku. Aku diam diam memperhatikan situs jejaring sosialnya, setiap menit bahkan detik. Dengan tindakan seperti ini rasanya aku sudah layak menjadi seorang intel FBI. Di sebuah waktu yang tak terduga, ada sesuatu yang menikam tepat di jantungku, sesuatu yang sulit untuk dicabut lagi. Di akun twitternya, dia melakukan percakapan yang sangat intens dengan seorang wanita yang bahkan aku tidak tahu namanya. Aku men-scroll timeline twitter hingga ujung, hanya ada satu nama itu yang begitu banyak menghiasi timelinenya. Ada beberapa yang lain, tapi tidak menyita perhatianku. Pikiran pikiran positif masih kalah jumlahnya dengan yang negative. Hatiku mendadak layu, lagu lagu cinta yang riang berubah menjadi lagu medley yang mendayu-dayu, tidak ada lagi kelopak sakura yang gugur. Yang ada hanyalah sebuah pohon yang hanya tinggal ranting, kering.

Akankah hatiku patah lagi?

Beberapa waktu kemudian, aku tahu kalau dia sudah mempunyai kekasih. Orang yang sama yang sering muncul di timeline-nya beberapa saat yang lalu. Di saat saat seperti ini, hanya satu yang ingin aku pertanyakan, adakah yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan?

Ya, hatiku patah lagi.

©©

Aku masih riang seperti biasanya meskipun aku tahu pemilik senyum itu sudah menambatkan hatinya untuk seorang wanita berketurunan Cina. Aku juga masih sering membayangkan kalau sang pemilik senyum yang menawan itu pada nantinya akan tetap memilih pergi ke pasar dan memasak makanan makanan yang lezat bersamaku. Aku juga masih semangat untuk membuatkannya masakan. Hatiku tetap berkeyakinan bahwa secantik apapun wanita yang sedang didekatinya sekarang, akan tetap kalah cantik dengan seorang wanita yang pandai memasak. Dan akulah wanita yang pandai memasak itu yang suatu saat akan merebut hatinya.

Hari ini aku ke pasar dengan ditemani temanku, membeli bahan bahan untuk membuat makanan sederhana, untuknya. Aku akan membuat klepon, makanan berbahan dasar tepung ketan dengan gula aren di dalamnya dan dibaluri dengan ampas kelapa di luarnya. Aku membuatnya dengan sepenuh hati, berharap ada pujian yang keluar dari mulutnya memakan klepon buatanku. Sayangnya, saat aku datang ke rumah kontrakannya mengantarkan klepon itu, dia belum pulang. Terpaksa aku berbohong, mengatakan bahwa aku membuatkan klepon itu untuk orang orang yang ada dikontrakannya. Mereka senang, mereka mengatakan kalau itu enak. Aku senang, tapi akan lebih senang lagi saat dia yang mengatakan itu kepadaku. Ah sudahlah, aku pulang saja. Namun sebelum aku pulang, dia tiba tiba datang. Aku deg-degan dan tidak bisa berbuat apa apa meskipun sekadar menyapanya dengan riang. Dan dia memakan kleponku. Aku masih gugup, aku tidak ingat apakah dia mengatakan enak atau tidak. Yang aku tahu, aku harus segera pulang, aku tidak sanggup melihat senyumnya. Senyum yang sudah dimiliki orang lain, bukan aku. Cinta dan rasa sakit jaraknya terlalu dekat.

Kata kata yang kuingat sebelum aku pulang adalah dia meminta dibuatkan pudding coklat dan strawberry. Ah, aku semangat lagi. Dalam hati aku berkata ‘apapun akan aku masakkan, untukmu, selagi aku mampu’ .

Cinta dan rasa sakit itu jaraknya dekat, tapi selain dekat dengan rasa sakit, cinta juga dekat dengan rasa bahagia.

©©

Aku datang lagi ke rumah kontrakannya, membawa bahan pudding, bahan kolak dan sayur mayur. Ada banyak makanan yang harus dimasak hari ini. Aku pasar siang tadi, bergelut dengan teriknya sinar matahari dan polusi kota, belum lagi keadaan pasar yang semrawut. Rambut panjangku mulai lepek, tubuhku kebanjiran peluh. Ini semua demi pemilik senyum itu.

Aku belum jadi membuat pudding untuknya. Sebagai gantinya aku memasakkan sayur untuk makan siangnya dan teman-temannya. Katanya enak, ini cukup melambungkan hatiku dan melupakan rasa lelahku.

Sore menjelang. Matahari hampir kembali ke peraduannya, sinar jingga memancar syahdu dari ufuk barat. Dan hari ini malam minggu, sebuah malam yang tidak ada artinya bagiku namun akan sangat berarti bagi setiap orang yang memiliki kekasih. Itu berarti, malam ini akan sangat berarti baginya. Aku mencoba menghibur diri dengan pura pura tidak peduli bahwa dia akan pergi bersama kekasihnya malam ini. Aku memperhatikan tingkahnya yang sejak tadi. Rupanya dia sedang bingung akan memakai baju yang mana untuk kencan malam ini. Saking tidak adanya baju yang belum disetrika, dia mengambil baju di jemuran yang baru saja kering. Aku tertawa. Sebegitunyakah?

Untuk urusan kencannya, aku tidak peduli. Hatiku sudah biasa dengan hal-hal seperti ini. Bukankah rasanya sama seperti saat aku mengetahui kalau dia sudah mempunyai kekasih di saat aku sedang benar benar dilambungkan dengan sikapnya kepadaku? Itu lebih menyedihkan dibandingkan ini.

Aku bergegas pulang. Sebelum sampai di depan pintu, temanku berlari menghampiriku seperti habis melihat setan. Dia membisikkan sesuatu di telingaku ‘ada pacarnya di sini‘ . DEG. Aku biasa saja dan masih terlihat normal seolah olah tidak ada sesuatu yang membuat lututku lemas seperti ingin pingsan. Aku berjalan ke pintu keluar dan melihatnya dengan kekasihnya. Cantik, putih, dan Cina. Mereka berboncengan, dan motornya melaju saat adzan maghrib hampir berkumandang, entah kemana, aku tidak ingin tahu.

Ada rasa yang tidak kumengerti. Seolah tidak rela namun aku bisa apa? aku bukan siapa-siapa, hanya teman yang baru dikenal. Imajinasiku tentang aku dan dia di masa depan perlahan runtuh. Tidak akan ada kita, yang ada hanya kau dengan kekasihmu dan aku dengan bayanganku. Tidak jauh berbeda. Air hangat tiba tiba mengalir di kedua pipi membentuk semacam sungai kecil. Aku menangis, tanpa disadari aku menangis. Bukan karenanya, tapi karena aku yang dengan begitu bodohnya masih mengharapkannya disaat dia sudah bahagia dengan wanitanya. Angan angan yang terlalu tinggi membuatku sulit berpijak hingga aku menjadi seorang yang imajiner. Lalu aku bisa apa? aku masih mencintai senyumnya, dan belum ada yang bisa menggantikan senyumnya sejauh ini.

Ah, apa lagi yang harus aku perjuangkan untuknya? Dan untuk apa aku masih terus berjuang demi orang yang lebih memilih pergi dengan kekasihnya dibandingkan dengan menenggelamkan punggungnya di masjid dan berusaha lebih dekat dengan Tuhannya? Meninggalkan sholatnya saja mudah, apalagi hanya untuk meninggalkan seorang wanita?

Aku membuat segenap fakta yang bisa merobohkan dinding cinta yang sudah kokoh berdiri.

Aku begitu hangat saat itu. Mungkin sedang cemburu dan patah hati sekaligus. Mengapa aku layak untuk patah hati? Mengapa aku selalu dibiarkan jatuh hati kalau selalu berakhir dengan patah hati? Aku lelah mengumpulkan kepingan kepingan hati untuk kemudian menjadikannya baru lagi untuk kemudian dipatahkan lagi. Sesekali aku tidak ingin berjuang, tapi aku ingin diperjuangkan oleh seseorang yang kuharapkan.

Aku mencintaimu, karena itu aku mengikhlaskanmu.

-END-


0 komentar:

My Mom

Minggu, September 01, 2013 Atika Nugraheni 1 Comments

Sesekali, cobalah untuk tidur bersama ibumu. Tidak perlu sampai berhari-hari, cukup satu malam saja. Pada saat malam sudah mulai larut, saat hiruk pikuk kehidupan sudah tak terdengar, saat hanya tinggal kedua matamu yang masih terjaga, pada saat itu pula, perhatikan dengan seksama orang yang sedang berbaring di sampingmu, ibumu.

Aku melakukan ini beberapa minggu yang lalu sebelum aku pergi lagi meninggalkan ibuku sendirian. Pada malam itu, aku meminta untuk tidur bersama ibuku. Ibuku cepat terlelap, mungkin lelah karena seharian membereskan pekerjaan rumah yang kata ibuku tak pernah ada habisnya. Sekilas sepele, hanya memasak, mencuci pakaian, menyapu dan hal-hal kecil lainnya. Tapi pastinya tidak akan sesepele itu mengingat setiap malam, saat ibuku menonton TV bersamaku, tanpa disadari ibuku sudah memejamkan mata barang beberapa detik lalu kemudian terjaga lagi, kembali mengomentari acara TV yang semakin tidak karuan. Begitu terus hingga beberapa kali sampai akhirnya ibuku menyerah dan masuk ke kamarnya untuk mengistirahatkan badan.  Malam itu, aku memperhatikan ibuku dengan seksama, seolah olah aku akan pergi jauh dan baru akan pulang setelah sekian lama. Malam itu, aku menagis sesegukan, tanpa suara, dibarengi dengan desahan napas yang teratur milik seseorang yang namanya tak pernah ketinggalan kusebut dalam setiap doa. Air mata masih mengalir dan perlahan lahan menghanyutkanku sampai ke masa lalu dan segala kenangan tentang ibuku, membuat hati semakin pilu.
---
Ibuku sudah tua sekarang. Rambutnya sudah mulai beruban, kerutan di wajahnya sudah mulai tampak jelas. Sebulan sekali setiap aku pulang dari tanah orang, hal yang pertama ibuku minta adalah mencabuti uban di rambutnya. Ibuku tidak ‘neko-neko’, tidak mencoba coba untuk menyemir rambutnya agar tetap kelihatan hitam. Sudah wajar katanya, toh suatu saat nanti juga tetap akan mengalami hal itu, buat apa bertingkah yang macam-macam. Ibuku juga tidak terlalu suka dandan, sewajarnya saja. Sekalipun berdandan, hanya mengoleskan bedak murah biasa ke wajahnya dengan pemerah bibir seadanya. Setahuku hingga detik ini, ibuku tetap seperti itu.

Dulu ibuku pernah bercerita kalau ibuku bercita-cita menjadi seorang guru Matematika. Sayangnya, cita-citanya kandas di tengah jalan karena eyangku tidak punya biaya banyak untuk menyekolahkan ibuku. Tapi, sisa sisa kecintaannya terhadap Matematika masih terlihat saat aku sudah masuk SD. Setiap hari, aku diajari matematika oleh ibuku. Bahkan saat itu, aku menganggap guru matematika dan guru SD terbaikku adalah ibuku. Aku tidak TK. Saat aku masuk SD, aku sudah lancar membaca, menulis dan berhitung. Itu semua berkat ibuku yang mengajariku dengan telaten setiap hari sebelum akhirnya aku didaftarkan ke SD.
Tidak banyak yang tahu kalau aku selalu mendapatkan ranking 1 dari awal masuk SD sampai lulus SD bahkan hingga SMP kelas 1. Tidak bisa dibanggakan memang karena itu hanya di tahapan Sekolah Dasar. Ibuku juga demikian, tidak pernah membanggakan aku di depan orang orang kampung seperti ibu ibu lain yang selalu membanggakan anaknya, entah karena prestasinya di sekolah atau karena hal-hal yang lain. Ibuku bersikap seolah olah aku anak yang bodoh sekali karena itu apa yang mau dibicarakan ke orang-orang? Sikapnya kadang kadang dingin dan cuek, dengar nilai ulanganku 10 pun, ibuku hanya menanggapi seadanya. Ibuku hanya akan bereaksi saat nilai ulanganku jelek. Tanpa ini itu, ibuku langsung menceramahiku sepanjang hari, menyuruhku supaya belajar lebih giat dan sebagainya. Setidaknya, ibuku sangat perhatian pada sekolahku, sampai detik ini.
Ibuku disiplin. Saat aku masih sekolah dulu, Ibu tidak akan pernah membiarkanku pulang malam, nginep di tempat teman tanpa alasan yang benar benar bisa meyakinkan ibuku, bermain-main ke tempat yang jauh-jauh meskipun bersama teman-temanku dan apapun yang berhubungan dengan bermain. Kalaupun aku diizinkan pergi, aku harus memberikan alasan yang jelas, pergi bersama siapa, pergi kemana, pulang jam berapa, dan hape tidak boleh dimatikan. Aku sering ngambek dan bertanya tanya kenapa aku tidak mempunyai ibu seperti teman-temanku, yang memberikan sedikit kebebasan. Aku ngomel ngomel sepanjang hari, tapi aku menuruti semuanya. Kehidupan masa sekolahku monoton, hanya sekolah lalu pulang lagi ke rumah, keluar rumah untuk les dan sesekali bermain meskipun harus membohongi ibuku terlebih dahulu tapi pada akhirnya tetap mengaku. Dulu aku protes, tapi sekarang aku benar benar paham akan kehawatiran seorang ibu terhadap putrinya.

Jujur adalah hal yang selalu diajarkan oleh ibuku. Tidak boleh berbohong atas alasan apapun. Kata ibu, jujurlah yang akan menyelamatkan kita pada akhirnya. Dan dulu, ibuku hanya bermodalkan kejujuran untuk bisa mendapatkan posisi kerja yang lumayan di sebuah kantor, padahal ibuku pada mulanya hanyalah seorang baby sister dari anak pemilik kantor itu. Jujur memang susah, dulu aku juga sering berbohong meskipun pada akhirnya cerita juga karena tidak bisa nyenyak tidur. Sampai sekarang pun, kadang aku masih berbohong, tidak bisa dipungkiri aku langsung tidak bisa tidur semalaman.

Ibuku juga mengajarkan untuk selalu menghargai orang, sejelek apapun orangnya, semenyebalkan apapun orangnya. Menjaga sikap, menjaga lisan, dan jangan sampai menyakiti hati siapapun dengan lisan kita. Kata ibu,’ wong kadang kita sudah bersikap baik sama orang juga kita masih bisa dibenci orang, apalagi kalau kita nggak baik sama orang. Ini susah, sangat susah dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Setidaknya, aku selalu mengingat kata-kata ibuku yang ini.

Sama denganku, ibuku tidak pandai ngobrol. Lebih sering diamnya kalau sedang bersama orang banyak, jadi pendengar. Karena itu ibuku tidak suka bergossip, membicarakan orang kesana kemari saat pekerjaan rumah sudah selesai. Jarang sekali terlihat ibuku pergi ke rumah tetangga, hanya sekadar untuk kumpul kumpul. Ibuku memilih di rumah saja meskipun sendirian.

Ibuku menjengkelkan. Saat marah karena tingkahku yang keterlaluan, ibuku tidak segan segan memukulku dengan barang apa saja yang ada di dekatnya. Ibuku juga cerewet, selalu melarangku ini itu.  Ibuku tidak membelikan apa saja yang aku minta, ibuku justru memintaku untuk menabung sendiri kalau ingin membeli sesuatu.

Aah, ibuku saja tidak pernah membicarakan keburukanku, lalu mengapa aku masih bertingkah seperti barusan? Memalukan.

---

Aku menatap ibuku lagi yang tidurnya semakin pulas. Aku menangis lagi mengingat aku masih jadi seorang anak yang demikian tidak pantas dibanggakan. Aku masih menjadi anak yang pemalas. Sering membantah saat diperintah ibuku walau hanya untuk menyapu lantai. Di saat sudah kuliah pun aku masih belum bisa membanggakan ibuku, dengan IP yang masih pas-pasan, ilmu yang tidak diamalkan, dan  sering bilang kalau sudah malas kuliah padahal ibuku berharap banyak dariku.

Aku mendengar desah napasnya dengan teramat jelas. Desah napas yang mulai panjang-panjang, menandakan umur yang sudah tidak muda lagi. Lalu di dalam hatiku yang paling dalam tanpa sadar aku berjanji akan membahagiakan ibuku. Membayangkan semua yang sudah dilakukannya untukku, itu sudah tak terhitung banyaknya. Aku pikir, aku hanya bisa menggantinya dengan doa yang kupanjatkan setiap hari, itupun masih belum bisa membalas semua kebaikan ibuku terhadapku.

Aku kehabisan kata-kata.

Aku menyayangi ibuku lebih dari apapun meskipun tidak pernah diungkapkan secara langsung. Aku menyukai segala hal yang ada dalam diri ibuku. Aku tahu, alasan aku rindu rumah setiap kali ada di kota orang adalah ibuku. Alasan pulang ke rumah adalah ibuku, tidak ada yang lain. Aku merindukan omelan omelannya yang panjang dan melelahkan untuk didengar. Aku merindukan semuanya..

Ah, malam itu aku mengerti betapa aku menyayangi wanita yang sedang tidur dengan pulasnya itu dan betapa aku tidak bisa lama lama jauh dari sosoknya. Saat jauh, aku cepat rindu.


Lagi lagi aku kehabisan kata-kata, lalu aku menangis lagi, sampai akhirnya aku tidur tanpa kusadari.. 

1 komentar:

Just Story of Us

Jumat, Agustus 30, 2013 Atika Nugraheni 0 Comments

Pengantar Kenangan

Halo semuanya.. *kecup basah*

Ada yang kangen nggak ya sama tulisan tulisan gue yang minta ampun gejenya? Kalo misalnya ada, okeh, kali ini gue ngerelain waktu liburan gue yang teramat sangat berharga untuk nyeritain liburan liburan gue yang nggak kalah seru sama liburannya artis artis Hollywood. Daripada kepo twitter gue sampe twit dari setahun yang lalu, mendingan baca tulisan gue. Tenang aja, tulisan gue nggak ada efek sampingnya kok, bebas formalin.

Dan sebelumnya gue mau minta maaf dulu kalo misalnya tulisan gue mendadak jadi aneh. Kenapa? Soalnya udah 4 bulan tangan tangan gue nggak ngetik tulisan tulisan model begini, gue sibuk bikin skripsi biar saat waktunya tiba, gue udah nyantai. Selain itu, gue juga udah kelamaan libur dan gara gara itu otak gue nggak bisa berjalan dengan sebagaimana fungsinya karena kebanyakan makan kue lebaran dan sedikitnya penghasilan lebaran juga jadi salah satu faktor penyebab menurunnya fungsi otak gue. Dari yang biasanya selalu menghasilkan ide ide cerdas sekarang cuman mentok bisa jawab pertanyaan ‘status kamu apa?’ dengan jawaban yang subhanalloh sekali ‘jomblo, istiqomah jomblo karena Allah’. Jomblo senior emang bisa jadi bijak mendadak, dikit lagi pasti bisa jadi motivator khusus jomblo. Dan penyebab paling mungkin yang bisa menyebabkan tulisan gue jadi aneh dan nggak enak dibaca adalah gue nulis tulisan ini di sarang nyamuk, itu mengharuskan gue membagi hati dan pikiran gue buat nulis dan buat nepok nyamuk.

So, ijinin gue buat nulis cerita tentang gue dan sohib sohib gue, tentang pengalaman gue dan mungkin curahan hati gue yang biasanya nggak sengaja terselip di antara kata kata yang gue rangkai. Gue harap dengan tulisan ini bisa ngingetin gue tentang momen momen yang pernah terlewati saat gue udah jadi pelupa dan jadi pengingat saat gue mendadak kangen sama temen temen gue.. Selamat bernostalgia :)


Rajutan Kenangan dari Kota Wonosobo
Lebaran cuman tinggal jejak. Jejak yang tersisa yang paling terlihat adalah kaleng-kaleng Khong Guan yang isi aslinya tinggal satu dua, beberapa kaleng Khong Guan yang lain bisa jadi udah berpindah ke tangan tukang nasi goreng buat jadi ganti kaleng kerupuknya yang udah lawas. Uang angpao lebaran udah jadi masa lalu, dompet dompet yang sempet dihuni sama seorang Proklamator sekarang udah diambil alih sama Tuan Pattimura. Selain itu, buat para mahasiswa, KHS udah diterima meskipun aslinya berat. KRS pun udah disetujui dosen wali. Liburan dua bulan berasa dua hari, cepet abis. Dan minggu-minggu ini adalah minggu terakhir sebelum akhirnya para mahasiswa ini kembali ke alamnya, kembali jadi anak kos dengan intensitas makan Indomie yang tinggi, pfft. Welcome to the JUNGLE untuk kesekian kalinya (udah tau hutan masih aja dimasukin sampe 4 tahun pula).

Liburan yang berasa lari marathon ini harusnya dilalui dengan hal-hal yang bisa membuat hati dan otak siap dengan kegiatan kegiatan kampus yang nantinya bakal bikin ngos-ngosan setengah mampus. Contohnya adalah pergi ke tempat-tempat yang indah, bisa gunung, bisa pantai, bisa pasar malem (plis banget), atau bisa ke hati orang yang dicintai dan mencintai balik (eeaa). Sayangnya, udah berapa banyak rencana liburan semacam itu yang berakhir hina dengan digagalkan begitu saja bahkan dilupakan tanpa pernah berusaha mengingat kembali. Berapa banyaak rencana rencana liburan yang sewaktu ngerencanain seolah-olah bakalan kesampean yang nyatanya cuman berakhir jadi sebuah wacana tanpa bisa menjadi nyata? Coba liat tempat sampah deh, pasti udah penuh sama kenangan masa lalu (apadeh) dan rencana rencana yang nggak ada realisasinya.

Rencana liburan gue dan temen temen gue nyaris mengalami nasib yang sama, berakhir tanpa kejelasan di sebuah tempat sampah bernama ketidakpastian. Untungnya, rencana indah ini diselamatkan oleh sebuah rencana yang mendadak dan tanpa rapat panjang beserta pengandaian yang berlebihan. Kejadiannya singkat dan realisasinya cepet. Ini yang gue suka, nggak bertele-tele nggak buang waktu dan nggak bikin kecewa. Kenapa nggak bikin kecewa? Bayangin kalo rencana itu dibuat jauh jauh hari dan pas hari H ujung ujungnya gagal padahal hari sebelum hari H, padahal rencana itu secara nggak langsung memaksa otak buat ngebayangin betapa asyiknya liburan itu, kecewa kan?

Eksekusi liburan dimulai ketika seorang Darmawan Widianto yang lebih suka dipanggil Wawan mengusulkan buat pergi ke Wonosobo ( 20 Agustus ). Karena yang para calon rombongan adalah anak twitter yang always ON, usulan itu terjadi melalui sebuah mention singkat. Calon rombongan itu adalah Rosiana Faradisa (Rosi), Akhmad Faiq Nashrullah (Om Faiq), Dyah Wahyu Novianti (Nopi) dan siapa lagi kalo bukan pemilik nama Atika Nugraheni (gue). Usulan direspon dengan cepat sama Rosi. Rosi ngasih pilihan hari yaitu Kamis atau Jumat. Balasan yang didapet dari Wawan adalah hari Kamis ( 22 Agustus ) dan kumpulnya langsung di rumah gue. Responnya cepet banget kan ya, nggak sampe satu jam. Saking seringnya kita ngebikin rencana dengan akhir yang tidak jelas akhirnya keluarlah kata kata ‘serius nggak nih?’ dari Rosi. Hahaha. Dan ternyata itu serius, bener bener serius. Alhamdulillah banget kalo gitu, akhirnya liburan kali ini bakal punya warna. Sayangnya, karena beberapa alasan, Nopi nggak bisa ikutan main bareng kita kita. Dia lagi jadi nyiapin karnaval gitu gitu deh. Yaaah, yaudahlah, show must go on, rencana ini nggak boleh jadi omong kosong aja.

Malam tanggal 21 Agustus

Faiq ngirim sms yang isinya menanyakan sebuah kepastian (cintanya..tsaah). Mungkin gara gara itu, nggak berapa lama Rosi menebar jarkom tentang kejelasan rencana ini. Yaiyalah dipastiin lagi soalnya rencana dadakan ini bener bener kayak ngajak becanda, nggak biasa biasanya langsung pada OK. Hahaha. Gue bales jarkoman Rosi yang intinya kalo emang beneran jadi, ya gue jelas ikut. Dan kata Rosi, yang udah konfirmasi alias udah fix ikutan adalah gue, Rosi, dan Faiq. Masalahnya adalah Wawan sendiri gimanaa? Rosi bilang kalo dia ditelepon nggak bisa, disms nggak dibales, apa sih maunya? Saking niatnya, Rosi malah sampe mentions twitter dengan nada yang super jutek tanpa titik koma, berasa lagi jengkel sama pacar dah. Hahaha. Beberapa saat kemudian akhirnya muncullah jarkom yang fix, isinya adalah harus udah kumpul di rumah gue jam 8 (tapi akhirnya diralat jadi jam 7 biar sampe tempat tujuan lebih cepet, Faiq malemnya ada acara). Fiuuuh, masalah selesai. Dan yang harus dilakuin saat ini adalah tidur biar besoknya bisa bangun pagi dan udah siap jam 7 pagi. Sayangnya, gue baru bisa tidur jam 1 pagi karena nyamuk lagi-lagi memaksa gue buat angkat senjata, perang !

Eksekusi rencana, 22 Agustus 2013

Nggak kayak biasanya, gue bisa bangun pagi meskipun gue baru tidur beberapa jam. Harusnya gue udah bisa siap jam setengah tujuh pagi kalo seandainya langsung mandi. Tapi, mandi itu butuh niat bro dan ngumpulin niat itu susah sama susahnya kayak ujian hidup. Nggak segampang itu gue ngerelain air dingin ngeguyur badan gue yang juga lagi kedinginan. Seenggaknya, gue perlu waktu sekitar 30 menit cuman buat bengong dan ogah ogahan mandi. Yang nyadarin gue kalo hari udah semakin siang adalah teriakan ibu gue. Fine, jadi niat itu akan lebih cepat terkumpul apabila dibarengi dengan teguran seorang ibu.

Tapi akhirnya setelah gue masuk kamar mandi, gue akhirnya bengong lagi menatap air dalam bak, disitu ada wajah kamu (duuh). Jam 6.37 gue selese mandi. Gue liat hp dan udah ada sms dari Wawan nanyain kesiapan. Mampus, udah pada siap nih berarti sedangkan gue baru selese mandi. Gue tanya Rosi, ternyat di jam segitu dia juga baru mulai siap siap. Roman romannya ini bakal ngaret, ujung ujungnya kembali ke rencana pertama, jam 8.

Gue udah rapi. Pakaian gue serba biru hari ini, tumben banget nyambung. Peralatan main mulai dari permen sampe kamera dengan full batre udah siap di tas kecil. Tik tok tik tok tik tok, jam setengah 8 belom dateng juga. Tuh kan bener kan ngaret. Jam setengah 8 lebih, Rosi dateng dan langsung syok mendapati keadaan rumah gue yang masih sepi. Dan gue mulai ngantuk (lagi). Untungnya, sebelum gue bener bener tidur, Wawan dan Faiq muncul. Yok ah ndang, keburu turu lagi gue (opoo iki)

Perjalanan berangkat  (9``)9

Syemangat semuanyaaah? Yap..udah pasti kita syemangatt bett. Kalo hubungannya sama jalan jalan sih kita udah pasti semangat, coba kalo suruh kuliah pasti bakal beda cerita. Karena banyak jalan menuju Roma, maksud gue Wonosobo, kita berembug mau lewat jalan yang mana. Gue sih cuek mau lewat jalan yang mana aja, iyalah soalnya gue tinggal bonceng. Setelah melewati perhelatan yang sangat panjang, akhirnya diputuskanlah kalo kita bakalan lewat Sempor. Kasian banget mereka, udah dari Gombong harus balik lagi ke Gombong. Gue mah enak disamperin..Haha. Motor udah siap, kita pun udah siap, perlengkapan berkendara pun udah siap. Supaya nggak terjadi hal-hal yang nggak diinginkan, kita semua berdoa dulu, semoga Allah melindungi perjalanan kita, aamiin. Dalam perjalanan kali ini, Rosi dibonceng sama Faiq dan gue dibonceng sama Wawan. Brum brum brum…Wonosobo, we are coming. Yuuk capcusss.. (`3`)

Jalanan Sempor dan seterusnya mulai nggak nyante. Banyak tikungan dan beberapa kali ada tanjakan yang lumayan bikin motor bekerja ekstra. Gue ngerasa langsing sih, jadi ya nggak merasa bersalah sama sekali sama motornya Wawan toh motornya Wawan oke oke aja, atau mungkin pura pura oke demi menjaga perasaan gue (apaan sih!!). Dan apa kabar Rosi sama Faiq? Roman romannya mereka ketinggalan lumayan jauh di belakang gue sama Wawan. Apa mungkin mereka terjebak di masa lalu mereka, mengais-ngais kenangan syahdu bersama seseorang yang udah nggak bisa lagi diulang di masa sekarang? Cuman mereka yang tau. Yang jelas, sebagai teman yang baik, kita akhirnya berusaha buat nungguin mereka dengan memacu motor lebih pelan dan gue sesekali menengok ke belakang siapa tau Rosi dan Faiq udah keliatan. Dan itu mereka…

Beberapa saat kemudian, kita udah sampe di Kabupaten Banjarnegara, nggak terasa kita udah ninggalin Gombong cukup jauh. Keadaan jalanan masih mirip mirip. Sepi dengan pepohonan di kanan-kiri. Tapi asli, pemandangannya kece, sesuatu yang nggak mungkin bisa dilihat di kota kota besar. Mata gue sibuk merhatiin kanan kiri, gue nggak rela semua ini terlewat begitu aja. Angin segar bertiup dan berusaha menyapa lewat sentuhan dingin yang menyejukkan. Seandainya ini FTV, pasti pemeran ceweknya udah ngelepas helm dan membiarkan rambutnya yang panjang berkibar kibar ditiup angina. Sayangnya ini bukan FTV dan gue pake kerudung. Sesekali kita ngobrol sekadar untuk memecah suasana. Sejauh mata memandang, Rosi dan Faiq masih kelihatan, terlihat membicarakan sesuatu. Suara mesin motor menderu dan kita masih harus melaju.

Wus wus wus…jalanan mulai terlihat ramai, orang orang dan kendaraan sibuk berlalu lalang. Ternyata kita udah sampe di kota-nya orang Banjarnegara, seenggaknya karena jalanan udah berubah jadi jalan raya. Skip skip skip perjalanan kita sama kayak perjalanan pake motor yang biasanya, kadang nyalip nyalip, kadang ngebut, kadang pelan. So, welcome to Wonosobo. Akhirnyaa Wonosobo juga ya.. Disini, udara mulai dingin, dingin khas dari sebuah dataran tinggi tapi karena belum terlalu masuk, dinginnya masih bisa dimaafkan. Di perjalanan ini, kita mulai mengalami apa yang sering disebut macet. Kondisi jalan yang sempit tapi dilewatin sama kendaraan kendaraan gede itu sukses banget bikin perjalanan kali ini rada tersendat. Seandainya gue yang pake motor mungkin gue nggak akan bisa nyalip karena gue nggak punya cukup nyali, ngeri. Untung yang di depan Wawan bukan gue, so setelah melalui proses tunggu yang lumayan, motor kita bisa nyalip dan fyuuuh jalanan di depan lancar. Rosi sama Faiq gimana? Aduuh nggak tau deh, motor terlanjur ngebut mumpung jalanan lenggang. Seandainya ketinggalan jauh, pasti kita bakal nungguin mereka kok.

Seperti yang udah diperkirakan sebelumnya, Faiq sama Rosi emang ketinggalan jauh di belakang. So, gue sama Wawan mutusin buat berhenti pas di depan SMA 2 Wonosobo buat nungguin mereka daripada ntar kepisah. SMA itu konon ceritanya (yaelah) adalah bekas SMA-nya Nopi. Beberapa menit berjalan dan akhirnya munculah Faiq yang masih setia ngeboncengin Rosi. Sayangnya mereka nggak menyadari keberadaan kita dan lewat begitu aja. Yaaah, kita yang lagi nyante nunggu mendadak gugup dan langsung berusaha ngebut buat ngebarengin mereka.

Sumpah demi apa saat itu gue ngantuk banget. Ngantuknya bener bener yang udah bikin nguap-nguap terus sampe mata berair kayak orang nangis. Tapi sebisa mungkin gue nahan ngantuk itu. Bagaimanapun ini di atas motor bukan di bangku kuliah. Dan ternyata nggak cuman gue yang lagi berusaha nahan ngantuk, Wawan juga. Beeuh, beraat..mana badan udah mulai pegel lagi, dduuh, yok ah syemangaat. Bentar lagi nyampe di Wonosobo Kota.

Nggak afdol rasanya kalo ke Wonosobo tanpa nyobain Mie Ongklok. Karena itu, buat mengisi perut kita mampir dulu ke sebuah warung Mie Ongklok yang udah cukup terkenal di Wonosobo. Lagian ini juga baru jam setengah 11, nyantai laah. Sekalian istirahat, ngelurusin kaki yang udah mulai pegel-pegel.


Kita pesen 4 porsi Mie Ongklok, 3 porsi Sate Sapi dan 4 gelas teh anget. Gue sama Rosi ceritanya lagi sok laper berat nih sampe sampe masing-masing pesen satu porsi sate. Haha..biarin deh. Pesanan dateng, dan setelah diinget-inget ini udah hari kesekian hari-hari gue diwarnai oleh mie, cuman jenisnya aja yang beda. Yummy..masih belom terlalu laper sih, tapi ya doyan, mau gimana lagi coba. Pada akhirnya, kenyang menyapa saat gue sampe di tusukan sate yang keenam, nggak sanggup lagi. Gue liat Rosi juga gitu, nyerah. Tapi tenaang, masih ada dua orang yang siap ngabisin ini semua, Faiq sama Wawan. Silahkan mas dihabiskan.. hahaa

Perjalanan menuju Dieng (9^0^)9

Perut udah terisi full tank, bensin juga udah, saatnya naik. Sebelum masuk lebih jauh ke area Dieng, kita diwajibin buat bayar uang retribusi dulu sebesar Rp 5000,- per orangnya. Perjalanan kali ini disambut oleh udara yang dinginnya udah kebangetan banget. Dengan laju kendaraan yang segitu, anginnya berasa nampar nampar pipi, cukup banget buat nyadarin gue dari mimpi panjang. Gue nggak yakin Wawan baik baik aja soalnya dari tadi berisik banget bilang dingin. Tapi ya tetep aja gue nggak tau mesti ngapain, nggak bawa kompor juga buat ngangetin (krik krik krik). Hahaha. Apa kabar Rosi dan Faiq, lagi lagi mereka nggak keliatan di belakang gue. Apa mereka kedinginan juga? Gue rasa Faiq iya, tapi kalo Rosi, dia cuman bisa ngerasa dingin kalo dihadepin sama kipas angin. Yang begini maah biasaaa.

Rasa dingin yang sebegitunya setimpal sama pemandangan yang disajikan Dieng buat kita. Dari ketinggian yang masih segini, kita udah bisa ngeliat hamparan hijau yang luas dengan tebing tebing tinggi di depan mata. Belom lagi, semakin tinggi kita naik, view yang disajikan semakin menawan. Ini lebih dari sekadar amazing, ini subhanallah bangett. Dan gue semakin jatuh cinta sama alamnya Indonesia. Ini baru di Dieng lho ya. Indonesia masih punya lebih banyak lagi yang lebih keren dari ini. Sepanjang perjalanan, hati gue sibuk bertasbih, memuji-muji kebesaran Rabb-ku, Rabb-kita. Subhanallah.

Apa artinya sebuah perjalanan tanpa sebuah foto. Mau bagaimanapun, foto itu bukti kalau kita udah pernah menyinggahi sebuah tempat. So, tepat di depan tugu bertuliskan ‘Kawasan Dieng Plateu’, kita menyempatkan diri buat berfoto, kenang kenangan masa muda sebelum kita benar benar tua.

Telaga Warna (/`3`)/

Tempat pertama yang kita singgahi adalah Telaga Warna. Tiket masuknya murah bett, cuman 2000 rupiah dan kita udah bisa nikmatin keindahan yang luar biasa. Pas kita masuk, keadaan masih belom terlalu rame, mungkin karena bukan musim liburan. Tapi it’s okay, terlalu rame justru jadinya nggak terlalu menikmati tempat wisata itu sendiri. Di telaga warna itu sendiri kita disajikan semacam telaga dengan warna yang cantik, hijau agak kebiruan pada beberapa sisi. Nggak cuman itu aja, pemandangan sekitarnya juga cantik.

Nggak lupa kita foto foto. No pict=hoax, itu adalah alasan utama kenapa kita ngambil foto sebanyak-banyaknya selagi bisa. Dan beberapa foto harus diulang karena di dalam foto itu Rosi nggak kelihatan langsing. Plis banget, langsing itu cuman mitos dan langsing itu cuman ada di girlband SNSD sama Barbie. Jadi, tetaplah berisi, karena langsing nggak menjamin kita nggak jomblo lagi (ujung-ujungnyaa).





Hari itu kayaknya ada yang kurang buat Rosi. Kurang apanya? Ada kepingan hatinya yang masih tertinggal di sebuah tempat bernama ------------ , separuh jiwanya ada di hati salah seorang yang berdomisili di sana  yang kebetulan menolak buat diajakin pergi bareng kita karena suatu alasan. Mungkin karena sohibnya nggak ikutan. Puk puk Kak Oci dengan cinta. Ada Faiq sama Wawan yang bisa berkolaborasi jadi separuh jiwamu yang ilang itu Ros, seenggaknya buat sementara. Semaanggat Kak Oci, kecup banjir dari kita semuaa.. :*

Setelah puas, kita keluar dari tempat itu. Cari mushola buat sholat Dzuhur dan setelah itu ngelanjutin perjalanan kita ke tempat lain. Kita harus cepet cepet, ngejar waktu karena jam 7 malem kita harus sampe di rumah, kan Faiq ada acara. FYI, air buat wudhunya dinginnyaa minta ampun, dan lantai musholanya juga nggak kalah dingin.. Brrr.

Kawah Sikidang

Sebelumnya kita sempet berembug tempat tujuan kita selanjutnya. Awalnya kita bingung antara mau ngunjungin candi atau kawah. Tapi akhirnya, kita mutusin buat pergi ke Kawah Sikidang. Candi kan cuman gitu gitu aja ya walaupun kawah juga cuman gitu gitu aja.

Jarak antara Telaga Warna ke Kawah Sikidang nggak terlalu jauh, cuman beberapa menit aja. Dan tiket masuk per orang ke kawah ini cuman Rp 5000,- , lebih mahal dibandingkan ke Telaga Warna tadi. Tapi ini masih dalam hitungan murah laah.

Setelah parkir motor, kita berjalan menuju kawah. Pedagang masker berusaha menjajakan barang jualan mereka ke setiap pengunjung yang dateng. Sayangnya, kita udah tau kalo itu semua nggak perlu. Semakin dekat dengan kawah, bau belerang semakin tercium menyengat. Tapi masih dalam batas normal. Agak jauh dari kawah utama juga udah terdapat kawah kawah kecil. Panas matahari masih menyangat kulit padahal ini udah masuk jam 3 sore. Rosi terlihat enggan naik ke atas, kayaknya sih dia udah capek karena perjalanan yang kita tempuh emang udah lumayan. Tapi gue, Faiq sama Wawan masih semangat luar biasa. So, mau nggak mau Rosi pun akhirnya ngikutin kita. Semangat kak Oci.

Dari pinggur kawah kita bisa mencium bau yang lumayan familiar di indra penciuman kita, nggak salah lagi itu bau telor rebus. Haha..kawah ini nama lainnya juga kawah telor rebus. Pantesaan dinamain gitu. Dari situ kita juga bisa ngeliat air yang mendidih, nggak tau deh berapa suhunya, yang jelas itu panas banget banget banget. Hiih ngeri, yang di dunia aja kayak gitu gimana di neraka ya? Semoga kita menjadi orang orang yang nggak bakal ngerasain betapa dahsyatnya api neraka. Aamiin..

Photo session kita kali ini antimaninstream. Kita foto dengan keadaan diterabas sama asap kawah. Bisa ngebayangin kan betapa baunya, itu sukses bikin mual. Hahaha. Tapi nggak apa apa, hasilnya keren kok.



Hari semakin sore, dan itu artinya udah waktunya kita turun pulang supaya apa yang udah direncanain nggak gagal. So, ucapkan salam perpisahan untuk Dieng. Tengkyu buat pemandangan indahnya, tempat wisata yang super keren dan kenangan kenangan yang tertoreh.

Perjalanan pulang ke Kebumen (ToT)

Sore itu, kita seakan nggak rela buat pulang. Kita masih pengen di sini, menikmati keindahan Dieng, meskipun kita udah mulai nggak tahan sama dinginnya. Motor kita melaju lebih pelan tapi pada akhirnya jadi cepet juga soalnya waktu pulang, jalan yang kita lewatin bener bener jadi turunan semua, tanjakannya ada sih tapi dikit. Udara semakin dingin, kalo aja kita nggak pulang, kita bisa aja kejebak sama kabut. Perjalanan pulang semakin mengesankan dengan pemandangan yang lagi-lagi bikin takjub, kota Wonosobo dari ketinggian lebih dari 1700 mdpl. Ya ampuun..

Nggak tau kenapa kalo pulang pasti bawaannya jadi lebih cepet dari pada pas berangkat. Yaah, padahal kan gue nggak mau hari ini berakhir cepet. Tapi ya mau gimana lagi ya. Sebelum pulang ke Kebumen, atas permintaan Rosi kita mampir dulu di pusat oleh oleh. Seperti biasa, yang khas dari Wonosobo harus kita beli nih, apalagi kalo bukan Carica. Manisan dari pepaya Dieng. Untuk pelengkap, kita beli makanan khas lainnya seperti opak dan kripik combro.

Tujuan selanjutnya adalah cari makan. Iyalah makan lagi. Seharian cuman diisi semangkok mie itu nggak bakalan bisa mengganjal perut sampe malem. So, kita harus cari nasi. Tapi ntar, kita kayaknya mau makan di daerah kota-nya deh, nggak tau makan apa, yang penting nasi bukan pengganti nasi atau apapun, titik.

Out of the Planning

Lagi asik-asiknya jalan, nggak tau kenapa ada suatu hal yang nggak kita harapkan terjadi tapi ujung-ujungnya malah kejadian. Apa itu? kejadian itu adalah kejadian putusnya kabel kopling dari motornya Wawan, di tengah keramaian pula. Gue nggak paham urusan beginian tapi yang jelas, panic. Faiq sama Rosi juga. Untungnya masih bisa jalan dan untungnya Wawan tau caranya gimana biar motornya tetep bisa jalan meskipun kabel koplingnya udah putus. Bengkel mana bengkeeeeel. Giliran dicari aja susah banget ditemuin, duuh. Takut banget nggak nemu bengkel kalo lagi begini sih. Alhamdulillahnya, beberapa ratus meter dari tempat kejadian, ada bengkel yang masih buka dan bengkelnya itu bener bener bengkel, bukan cuman sekadar bengkel buat tambal ban. Ya ampuun, harus bersyukur gimana lagi coba kita..

Sambil nunggu motor jadi, kita makan, mengisi perut sebelum pulang. Dilanjutkan dengan sholat ashar di sebuah masjid nggak jauh dari bengkel. Mungkin kabel kopling putus itu cuman sekadar pengingat untuk kita supaya berhenti buat sholat. Mungkin. Tapi apapun itu, kita bersyukur seenggaknya motor bermasalah pas kita udah nyampe kota, bukan pas kita masih di atas.

Out of the planning (part 2)

Motor wawan udah kelar dibenerin. Dan kita siap buat ngelanjutin perjalanan lagi. Ini udah sekitar jam 5, gue harap Faiq bisa sampe di rumah tepat waktu. Aamin.

Kita pulang lewat jalan yang sama kayak pas berangkat, tapi ada sedikit perubahan rute. Gue nggak tau itu nama daerahnya apaan, yang jelas disitulah tempat kejadian yang tak terduga selanjutnya. Gue sama Wawan melaju di depan, seperti biasa Rosi sama Faiq ngikutin di belakang kita. Lagi lagi momen Rosi sama Faiq yang ketinggalan terulang lagi. Kali ini lebih bikin panic karena ditunggu beberapa saat belom nongol juga. Sampe akhirnya mereka ditelpon dan kita tau kenapa mereka nggak muncul muncul. Ternyata ban motornya Faiq bocor. Apalagiii ini ya ampuun. Nggak mikir panjang,kita langsung putar arah, balik lagi nyusulin Faiq sama Rosi.

Dari kejauhan gue udah ngeliat dua orang itu berjalan menitih motor dengan so sweetnya (apasih). Kebetulan jalan yang kita lewatin itu jalan desa, bengkel mungkin cuman sekadar mitos di daerah ini. Ada satu bengkel yang ada tulisan ‘Tambal Ban’-nya, tapi sayangnya itu cuman sekdar tulisan, nyatanya nggak ada. Demi waktu yang semakin larut, kita tanya kesana kemari, berharap ada bengkel yang masih buka sampe malem dan nggak terlalu jauh. Dan katanya orang orang yang kita tanyain, ada bengkel di deket sekolahan, belakang kecamatan (eh iya nggak sih). Lumayan jauh kalo harus ditempuh dengan jalan kaki apalagi sambil bawa motor. So, gue sama Rosi akhirnya harus bonceng wawan, mau gimana lagi. Sumpah berasa baru pulang nonton dangdut. Harga diri kita sebagai wanita baik baik mulai tercabik-cabik dengan sebuah ketidaksengajaan berbonceng tigaan gini, ya nggak Ros? Faiq dengan terpaksa menaiki motornya yang bocor. Sebelnya, bengkelnya itu nggak di pinggir jalan selayaknya bengkel bengkel pada umumnya. Hampir aja kita mikir kalo sebenernya nggak ada bengkel disitu. Untung, ada inisiatif nanya sama bapak bapak yang baru pulang dari masjid. Ternyata bengkelnya udah deket, bengkelnya Pak Tutur. Karena lokasi bengkel yang sedikit menyulitkan pencarian, gue nanya lagi sama anak anak kecil yang ada disekitaran situ. Dan akhirnya gue dianterin sampe ke bengkelnya. Duh, makasih ya dek. Penderitaan, kecemasan, rasa capek dan panik, seketika hilang saat kita menemukan bengkel Pak Tutur. Terimakasih Pak Tutur..

Karena deket masjid, kita nyempetin buat Maghrib-an dulu. Air wudhu yang dingin tapi sejuk membasuh lelah kita. Segeer abis. Oiya, FYI gue nggak bawa mukena karena gue pikir disetiap masjid di zaman sekarang disediain mukena. Tapi, di masjid itu nggak ada mukena sama sekali. Mampus nih. Kalo gue pake rok sih bisa aja sholat langsung, atau minimal gue butuh bawahan (semacam sarung) yang bisa nutupin kaki. Akhirnya, gue mutusin buat sholat dengan keadaan seadanya. Semoga Allah memaklumi.

Sambil nunggu motornya faiq jadi, kita semua duduk duduk di depan rumah orang. Sempet ditawarin masuk sama pemiliknya tapi di luar lebih baik meskipun ujung ujungnya dikepung nyamuk. Gue sama Rosi seperti biasa sibuk dengan video video korea, kalo nggak muter video SHINee ya DBSK. Dan seketika heboh, untungnya kita masih bisa mengontrol kehisterisan kita. Sesaat gue buka twitter, nge-scroll timeline. Daaaaann…ada tweet yang mengejutkan gue dan akhirnya mengejutkan Rosi. Mampus nih mampus. Duuh maaf banget lah pokoknya ya, nggak ada maksud apa apa kok, seriusaan. Apa isi tweetnya, rahasia lah, udah dihapus juga kok ya Ros? Hahaha. Lupakan tweetnya karena sekarang motornya Faiq udah sehat kembali. Dan kita bisa pulang Kebumen sekaraang juga.. Yeaaaah..

Dengan kembalinya kita ke Kebumen sekaligus menjadi tanda bahwa liburan yang indah telah usai dan kembali ke kehidupan normal lagi untuk kesekian kalinya. Ganbare, ganbatte kudasai !!

Atas semua kebersamaan ini gue cuman mau ngucapin terimakasih. Terimakasih karena udah ngerelain waktu, tenaga, dan apapun itu untuk satu hari yang berharga ini, seenggaknya ini berharga buat gue. Ini adalah sebuah kebersamaan yang sederhana, dengan orang orang yang sederhana juga tapi tetep luar biasa. Semoga semua ini bisa menjadi cerita saat kita mulai tua. Semoga bisa membuat kita tersenyum lagi saat kita sedang sedih karena dikepung oleh kesendirian, setidaknya dulu kita pernah bersama-sama menikmati gejolak masa muda. Semoga ini tetap menjadi kenangan yang luar biasa meskipun setiap diri dari kalian mempunyai kenangan yang lebih hebat dari ini. Semoga, selalu ada folder di sebuah ruang kecil di otak kita yang menyimpan kenangan ini dengan rapi diantara sekian banyak memori tentang dunia.

Udah gitu aja. Sorry banget kepanjangeeen.. Hahaaha. See you again in the next trip.. J



















0 komentar: