Sebuah Fenomena

Rabu, November 28, 2012 Atika Nugraheni 1 Comments


Sebuah Fenomena

When the sale come first
And the truth come second
Just stop for a minute and smile
( Price Tag – Jessie J  feat B.O.B )




Tidak ada hal yang istimewa di lagu ini. Ini hanya sebuah lagu yang sering didengarkan oleh generasi gaul masa kini. Tapi coba letakkan perhatian anda pada sebuah bait di atas. Mungkin anda akan tersenyum lebar seperti apa yang sedang saya lakukan sekarang. Lucu sekaligus miris.

Lagu ini seakan-akan berusaha menyentil mereka mereka yang hidup glamour, money oriented, yang lupa akan tujuan utama mereka datang ke dunia –yang jelas bukan untuk berbelanja.

Fenomena iming iming diskon di berbagai pusat perbelanjaan dalam moment moment tertentu  rupanya masih digandrungi sebagian besar masyarakat Indonesia, mulai dari kalangan biasa dengan uang di dompet yang seadanya sampai kalangan kelas atas yang ternyata juga menggemari barang diskonan. Papan papan besar bertuliskan ‘Diskon 50% + 20%’ di keranjang besar berisi pakaian yang katanya ‘bermerek’ kadangkala membuat orang kalap berbelanja. Betapa bangganya ketika berhasil membeli pakaian yang seharusnya seharga Rp 499.900 menjadi Rp 200.050. Coba pikirkan lagi ‘siapa yang benar benar tahu kalau harga asli pakaian tersebut memang Rp 499.900?’. Siapa yang tahu dan mau tahu? Toh nyatanya tidak ada yang peduli ketika wabah diskon besar besaran dan gempuran dari SPG SPG malang mulai menyerang pertahanan iman.



Di saat banyak orang masih kelimpungan memikirkan bagaimana caranya mendapatkan sesuap nasi, kesulitan tidur nyenyak tanpa harus dibayang bayangi hutang, kesulitan menghilangkan predikat jomblo veteran *eh, kegiatan belanja dengan iming iming diskon nyatanya tak pernah benar benar musnah. Menghabiskan waktu berjam-jam di pusat perbelanjaan untuk berdesak desakkan mengejar diskon demi membawa pulang puluhan kantong belanja. Ternyata masih banyak orang kaya di Indonesia, meskipun tak sebanyak fakir asmara.

Coba kita intip isi lemari mereka mereka yang suka berbelanja –dan suka diskonan tentu saja. Coba lihat berapa banyak pakaian yang sia sia di lemari sang shopaholic ini. Sekali pakai, terlupa gara gara sudah ada penganti yang baru. Masih jauh dari kata tidak layak pakai, sudah berakhir menjadi kain pel darurat. Lalu, apa yang mereka sebut harga? Saya curiga jangan jangan mereka tak mengenal kata mahal, semuanya dianggap murah semurah harga mie biting super pedas. Dahsyat sekali. Ini sangat ironis dengan kehidupan saya tentu saja yang harus berpikir ribuan kali sebelum membeli pakaian gahol ala ala model di sampul majalah fashion ( yang sudah didiskon ). Saya selalu berpikir ‘apakah setelah membeli baju ini, masih akan tetap ada asupan rames warteg sampai akhir bulan?’,’apakah status jomblo saya menjadi hilang ketika saya memakai baju ini?’ dsb. Pada akhirnya, saya gagal membeli pakaian tersebut. Karena rupanya selain iman saya yang masih cukup kuat untuk menahan terpaan diskon yang bertubi tubi, saya juga masih ingin makan nasi lauk di saat paling krisis seorang anak kos dibandingkan menjilati baju yang saya beli ketika lapar melanda *paham maksud saya?*

Kadangkala saya berusaha mengakumulasi jumlah uang belanja mereka setiap bulannya. Bisa jadi jumlahnya setara dengan gaji rector di sebuah universitas. Atau, jika sang shopaholic masih level 1 alias yang kayanya masih setengah setengah, uang belanja mereka mungkin bisa digunakan untuk membayar kost saya selama satu semester. Sedih. Dan dari semua yang saya paparkan, satu yang paling jelas di sini adalah saya iri.

Saya termasuk dalam golongan orang yang iri terhadap mereka yang dengan mudahnya mendapatkan kesenangan mahal dengan mudahnya, sedangkan saya harus berjuang sedemikian kerasnya hanya untuk mendapatkan kesenangan murah, ice cream coklat di akhir bulan misalnya. Murah sekali bukan keinginan sederhana saya? Sungguh ironis memang, ketika masih ada seorang anak kos jomblo bertampang unyu menginginkan sepotong ice cream cokelat di akhir bulannya yang merana diantara orang orang yang kalap berbelanja mengejar diskon Natal dan akhir tahun. Sebuah fenomena yang seharusnya perlu dibenahi.

© Hasil adaptasi dari sebuah artikel berjudul ‘Sebuah Percakapan’ karya Andi Gunawan ©

1 komentar:

Anak Kost dan Tanggal Tua

Rabu, November 28, 2012 Atika Nugraheni 0 Comments

Anak Kost dan Tanggal Tua


Siapa yang paling gelisah ketika angka-angka di kalender udah ada di kisaran 20an? Siapa lagi kalo bukan anak kos ( kelas Melati ). Tanggal tua adalah momen momen dimana anak kos di seluruh jagad raya secara serempak mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki ( di akhir bulan ). Dompet yang didominasi foto foto KTP dari Kapitan Pattimura dengan taburan bunga melati di atasnya sejenak membuat para anak kos malang ini ngebatalin niat makan bahkan buat makan sesuap nasi di warteg. Kalo udah gini, air putih adalah harapan terakhir yang diharepin bisa menunda kematian sampe waktu makan malem tiba. Perut yang mulai bawel, gak sepadan sama dompet yang menipis , memaksa anak kos buat stay di kos sambil ngebayangin makanan makanan lezat dan tante tante tajir yang punya warung penyetan *ehh. Hal hal yang luar biasa menyiksa ini mendorong anak kos yang penuh derita ini bersimpuh di hadapan Tuhannya, sekadar buat minta uang jajan biar bisa delivery paha dada di KFC. Gitu deh kelakuan manusia, inget Tuhan cuman di akhir bulan. Yang awal bulan inget siapa? Inget mantan?

Beberapa anak kos menjadi amat kreatif di tanggal tanggal uzur, dengan membuat variasi indomie misalnya. Beberapa lagi tetep mengkonsumsi air putih sampe wisuda. Beberapa yang lain memilih untuk itiqaf di masjid, menghimpun pahala. Siapa tau, 100 pahala bisa dituker dengan sebungkus nasi padang, berlaku kelipatan *syarat dan ketentuan berlaku*.

Sebenernya ada banyak hal yang bisa dilakuin para anak kos sejati buat melawan rezim tanggal tua yang baru baru ini menambah daftar pengidap penyakit maag di Indonesia. Ini semata mata dilakukan untuk menciptakan generasi anak kos bebas maag. Hal hal tersebut contohnya :
  •     Cari gebetan (baru+tajir) SEGERA !

Cara ini cuman berlaku buat anak anak kos yang ngerasa punya tampang kece atau tampang SNI tapi punya kemampuan ngomong setaraf sales obat penumbuh rambut. Yang gak punya dua kemampuan minimal tersebut, bersabarlah. Langkah pertama yang bisa kita lakuin adalah mulai nyari sasaran yang tepat di kampus masing masing. Kriterianya udah pasti yang mukanya putih mulus, pake gincu, pake high heels setinggi 1 meter. Rumus mencari tinggi yang sesungguhnya= tinggi palsu (-) tinggi heels. Jangan salah, semakin tinggi hak di sepatunya semakin tebel lah uang di dompetnya. Kriteria selanjutnya adalah rambutnya panjang dan punya perbedaan yang teramat tipis sama rainbow cake. Gadgetnya dimana mana. Diutamakan yang pake mobil, bukan odong odong. Dalam mencari wanita sempurna dari segi finansial, jangan cepet ketipu sama penampilan. Soalnya, banyak diantara wanita cantik nan sempurna itu yang FAKE alias cuman ikut ikutan trend . Yang kayak gini sih bisanya cuman ngerepotin. Setelah itu, pengenalan. Bisa dengan cara sengaja ataupun yang gak disengaja ala ala FTV SCTV gitu. Misalnya, nabrak dia pake tank waktu dia lagi jalan sendirian. Cewek itu berdarah darah, trus kita turun dari tank buat minta maaf dan bilang ‘aku nggak sengaja. Kamu gak apa apa?’. Oke, ketika tampang sekelas Robert Pattinson atau Taylor Lautner, tamparan gak akan sampe di pipi. Tapi… yeah, you know what I mean. Dari kenalan tersebut, harusnya bisa dapet pin BB atau account twitter. Sebelum tanggal semakin menua, usahakan pendekatan mulai menampakkan hasil. Jargon #AkuCowokPerhatian harus selalu diterapin selama masa masa PDKT, syukur syukur bisa jadian. Itu semata mata demi nasib tanggal tua yang lebih baik dari biasanya. Ketika tanggal tua menyerang, dengan rayuan tingkat sales obat penghilang jerawat, ajak makan. Tapi dengan berbagai macam alasan, bilang kalo duit lagi gak cukup buat ngajak makan di tempat mahal. Manfaatkan kelemahan cewek yang katanya ‘gampang tersentuh hatinya’ *itu penipuan*.
‘ aku sebenernya pengen banget ngajak kamu makan ‘
‘ eh ciyusss? Enelaan? ‘ *ternyata cewek tajirnya alay*
‘ Iya deh beneran, tapi aku takut kamu gak mau aku ajak makan di warteg Bu Siti ‘
‘ eh aku mau kok ‘
JEGEEEER.. GAGAL MAKAN ENAK, GAGAL DIBAYARIN, COWOKNYA BUNUH DIRI !!
  •     Baik baik sama PACAR ( buat yang punya pacar aja )

Agak jarang sih nemuin pacar yang ‘setia’ di tanggal tanggal mencekik ini. Tapi gak menutup kemungkinan pacar yang setia dengan sebenar benarnya setia dari awal bulan sampe akhir bulan itu ADA. Ketika kebetulan pacar yang kalian punya adalah pacar yang setia sekaligus gak tegaan, pastinya akan selalu ada bubur ayam/lontong sayur di setiap pagi pagi menjelang akhir bulan, selalu ada nasi goreng bikinan pacar yang muncul di setiap adzan isya berkumandang. Itupun tergantung sama prestasi sikap ke pacar yang diakumulasi dari awal bulan sampe menjelang akhir bulan, kalo ranking-nya jelek, jangan ngarep diperlakuin kayak tahanan napi yang dikasih makan 3x sehari *lhoo. Makanya, baik baikin pacar demi akhir bulan ceria. Lalalala yeyeye.
  •     Jadi Penonton Bayaran


Sebenernya, dua cara yang dipaparkan di atas adalah cara cara yang SALAH dan gak pantes dilakukan oleh seorang anak kos yang udah hafal PANCASILA & DASA DHARMA PRAMUKA. Itu adalah jalan pintas. Gimanapun, jalan pintas adalah jalan yang gak diridhoi Tuhan *terus kenapa ditulis di point 1 sama 2?????*.
Nah, pernah liat penonton yang kerjaannya cuman lalalala yeyeyeye sambil kucek kucek jemur jemur ato ngetawain hal hal yang gak ada lucu lucnya sama sekali? Itu adalah pekerjaan penonton bayaran. Sekali tampil bisa dapet 50 ribu rupiah, tarif beda beda. Selain buat ngisi waktu kosong di hari Sabtu sama Minggu, itu juga sekaligus buat ngisi perut selama dua hari itu dengan makanan makanan yang lebih manusiawi.
  •     Jualan Indomie



Kalo selama ini anak kos beli indomie buat dikonsumsi sendiri, sekarang coba deh mulai bangkitkan jiwa wirausahanya. Sebelum tanggal tua dateng, sisihin sebagian kecil jatah hidup buat beli satu kardus indomie. Ketika dompet mulai meronta ronta dan ATM menunjukkan saldo minimal, mulailah jualan Indomie di depan kosan. Untuk kompor dan gas, bisa ngerayu rayu ibu kos yang udah uzur dengan bilang ‘Ibu kok makin uzur makin cantik yaa. Boleh pinjem kompornya bu?’ *masalah selesai. Indomie dengan harga 1500 rupiah per bungkus bisa dijual 3000 rupiah ( udah termasuk ongkos masak ). Untungnya udah keliatan dong, bisa buat beli nasi padang sampe tanggal 1. Tapi kalaupun gak laku, gak ada cara lain selain breakfast,lunch sama dinner menunya sama yaitu INDOMIE.
  •        Nge-game sampe MATI. Hidup ANAK KOS !!

Kalo udah mentok alias gak ada lagi usaha yang bisa dilakuin untuk memperpanjang nyawa, nge-gamelah. Mainin tuh game game macho semisal angry bird, plant vs zombie sampe khatam 200 kali. Niscaya kalo kita menikmati, laper akan terlupakan, seperti mantan yang terlupakan setelah ada Sandra Dewi di pelukan *ngawureee.

Untuk anak kos di mana pun kalian berada, jangan biarkan MAAG menyerang selama masih tersisa tenaga untuk mencari rezeki demi sepiring nasi warteg. Semangat !!


#AnakKosSehat
#AnakKosBebasMaag
#AnakKosDipeliharaNegara
#AnakKosMenantiKirimanUangBulanan


*sudut padang laki laki*

0 komentar:

Sudah Berapa Banyak?

Kamis, November 22, 2012 Atika Nugraheni 0 Comments


Sudah Berapa Banyak?

Hai apa kabar? Gimana? Masih jomblo? Masih belom move on? Atau masih belom ngungkapin perasaan dan lebih milih nahan kangen?  Udah gak usah duduk di bawah jemuran basah gitu. Sini merapat sini, gue kasih sedekah pukpuk satu satu. Kapan lagi dapet puk puk dari orang secantik sebaik gue, ya gak sih? NGGAAAAK. Oke oke santai, gak usah pake capslock gitu. Oiya, gimana rasanya setelah dapet pukpuk gratis dari orang cantik baik? Pastinya galaunya udah terbang ke awan bareng butiran debu nih. So, daripada galau mendingan baca baca tulisan sesat gue, siapa tau ikutan sesat trus kalo beruntung langsung dapet jodoh semenor Syahrini. Aamin ( eh perlu di-Aaminin gak sih? ).

Tadi pagi di sela sela kuliah yang lebih pagi dari kuliah subuh, gue nyempetin diri buat kerja. Apa kerjaan gue? Kerjaan gue itu ngetwit sampah sambil nyeret nyeret timeline. FYI, kuliah gak boleh menganggu waktu ngetwit. Itu adalah slogan baru yang bakal menggeser posisi ‘rajin pangkal pandai’ di buku Bahasa Indonesia-nya anak SD. Nah, pas gue nyeret nyeret timeline, gue nemuin tweet dari salah satu followers gue hasil serangan rudal ‘folbek eaaaaa qaqa’ yang gue luncurin secara membabi buta. Itu adalah salah satu tweet dari @haryoedho, seorang manusia biasa *jaan. Perhatiin baik baik siapa tau keluar di ujian skripsi.


Apa yang dirasain pas ngebaca ini? Yaa mungkin rasanya biasa aja buat orang-orang yang selama ini udah merasa jadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Mereka malah bisa ngejawab pertanyaan pertanyaan ini dengan mudah. Tapi enggak buat orang orang yang selama ini ngerasa belom ngelakuin hal apapun buat dirinya sendiri apalagi orang lain, ditambah lagi hal hal itu adalah hal hal yang menguntungkan semua pihak. Pasti rasanya kayak ada sesuatu yang tiba tiba menghantui pikiran sekaligus menganjal di hati. Sesuatu ini bisa jadi lebih ruwet dibanding sebuah jatuh cinta sama seorang PHP.


Termasuk gue dan mungkin beberapa di antara kalian. Perasaan gue mendadak jadi campur aduk dan aneh. Sama anehnya kayak indomie rebus rasa soto dicampur sama indomie goreng rasa rendang. Kalimat sederhana ini kalo dibaca sama orang orang yang gak sesuai kriteria emang bener bener makjleb maksimal. Tipe kalimat seorang motivator. Bisa banget bikin orang yang baca ( dan yang PEKA ) itu jatuh remuk terus sosok motivator itu perlahan lahan jadi pahlawan yang nyusun kepingan yang remuk itu menjadi sesuatu yang kembali utuh. Hebat.

Sekarang balik lagi ke topik. Berapa banyak aktifitas yang gak menguntungkan diri sendiri, gak menguntungkan orang lain sekaligus gak menghasilkan apa apa? Masyaalloh, pertanyaan yang tingkat kesulitannya setara dengan ‘Mau lulus kapan?’,’IPK semester ini berapa?’. Bingung juga mau jawab gimana. Bukan bingung gara gara gak tau jawabannya tapi gara gara terlalu banyak jawaban. Dua hari dua malem pun gak bakalan selese kalo disuruh nulis semuanya. Ya maklum lah, gue kan salah satu makhluk di dunia yang udah masuk daftar koleksi makhluk hidup yang bentar lagi mau dimusnahin ( ih laah jangan dulu, ketemu jodoh aja belom K ). Eh bentar. Meskipun gue belom punya aktifitas yang menguntungkan buat orang lain, gue punya kok aktifitas yang bisa nguntungin diri gue sendiri. Gue makan sehari sekali, itu untung di gue soalnya itu bisa memperpanjang masa aktif musim hujan di dompet gue. Internet gue ON terus karena menurut research sesat internet bisa menunda kelaparan anak kos selama beberapa hari. Sebagai anak kos istiqomah, jelas ini aktifitas yang teramat menguntungkan. Trus apalagi ya, ya pokoknya gitu. Segala aktifitas gue (menurut gue) selalu mengandung unsur menguntungkan, terutama dalam urusan memperpanjang nyawa di tanggal tua. Dan kegiatan gue yang gak pernah menghasilkan apa apa adalah nggak ada juga. Di setiap galau pun, gue selalu menghasilkan sedikitnya setetes air mata *halah. Sama seperti konsep ‘di balik sebuah PHP pasti ada pihak yang ke-geer-an’, aktifitas yang kita lakuin pun gitu ‘di setiap aktifitas pasti ada sesuatu yang dihasilkan, entah itu apa’ (seberapa gak nyambung nih kalimat gue hah?).

Lupain soal kalimat kalimat gue yang sesat itu.

Yang harus kita lakuin saat ini supaya kita bisa menjawab pertanyaan itu (suatu saat nanti) dengan tepat dan gak ngarang kayak gue tadi adalah mulai melakukan sesuatu yang lebih berorientasi kepada orang lain. Jadi kita selalu punya planning buat mensejahterakan kehidupan orang lain atau mungkin planning buat menghadirkan kembali senyum senyum yang mulai pudar milik tuna asmara orang orang yang hampir kehilangan semangat untuk mengarungi kehidupan. Minimal kalo planning itu bisa terealisasi, kita bisa menghadirkan keuntungan untuk orang lain minimal buat diri sendiri. Dan syarat dari terealisasinya semua itu adalah kemauan dan keberanian kita untuk berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat ( kira kira ada yang ngerti maksud gue gak? )

Illustrasi yang gak nyambung sama sekali:

Pas kita mau berangkat kuliah, ada cewek cantik (syukur syukur jomblo) yang motornya mogok. Nah kita kebetulan lewat dan cewek itu udah nangis nangis tapi kita lagi buru buru karena mau ujian. Pilih mana? Cewek cantik atau ujian? Sebuah pilihan yang rumit untuk seorang laki laki (spesifikasi: jomblo istiqomah) normal dan tetep pengen IP Cumlaude.

Lagi lagi gue nulisnya sambil mabok. Ah udah dulu deh ya. Yang belom selese laporannya ,makalahnya, ataupun tugasnya, mending selesein dulu biar malem Minggu besok nggak pacaran sama tugas. Semangaat kakaaak.

Gue mau cari pacar dulu yaa….dadaaaaaaaaah :D


0 komentar:

Nothing

Senin, November 19, 2012 Atika Nugraheni 0 Comments


FIB vs FT?

Saat ini, gue adalah mahasiswa semester 3 di Fakultas Sastra. Selama 3 semester ini, gue pikir kuliah gue ini ya cuman gitu-gitu aja. Gak banyak tugas, gak banyak mikir, woles dan dengan kesibukan seminim ini harusnya gue lebih punya banyak waktu buat nyari pacar tambahan uang bulanan. Perlu gue jelasin di sini, sibuk yang gue maksud adalah sibuk sama tugas tugas kuliah yang seabrek bukan sibuk organisasi dan antek anteknya. Ngomong-ngomong organisasi, harusnya gue bisa ikut banyak banget organisasi di segala waktu luang gue. Tapi entah karena muka gue yang gak meyakinkan atau kemampuan gue yang parah buat ngungkapin segala apa yang gue pikirin dengan lisan, gue ditolak di semua organisasi yang pernah gue daftarin. Fine kalo gitu maunya, gak apa apa. Jadilah gue yang sekarang, mahasiswa dengan IP minim yang jauh dari harapan, gak punya kesibukan ekstra, kuliah pulang kuliah pulang, dan ya gitu deh *berlinang air mata*. Oiya, yang bakal gue bahas di sini adalah diri gue sendiri bukan orang lain meskipun dari jurusan dan fakultas yang sama kayak gue.

Dengan kuliah gue yang sesantai ini, herannya gue tetep aja males. Gue males buat memaksimalkan waktu luang yang gue punya buat belajar materi kuliah gue, gue males ngerjain tugas tugas dari dosen meskipun deadlinenya masih lama, dan intinya gue males. Apa mungkin gara gara kebanyakan waktu luang makannya rasa males gue malah semakin menggunung? Gue juga gak ngerti.

Kadang kadang, gue ngebandingin diri gue sama anak-anak dari fakultas lain. Dan seringnya, gue ngebandingin diri sama anak Teknik. Di pikiran gue, mahasiswa Teknik itu selalu gue anggep sebagai mahasiswa yang kesibukannya seabrek. Mulai dari praktikum, bikin laporan bareng temen temen sekelompoknya sampe pagi buta, belom lagi semangat mereka buat ngikutin organisasi. Jadi, saat orang nanya ke mereka ‘Lagi sibuk apa sekarang?’ trus mereka jawab ‘sibuk kuliah’, itu adalah statement yang jujur. Bandingin sama gue, jawaban ‘sibuk kuliah’ yang keluar dari mulut gue perlu dikaji lebih lanjut. Sebenernya banyak juga sih yang sibuk, MIPA,FKM,dan yang lainnya. Tapi, kali ini gue ngebahas yang Teknik dulu yaa.  Buat gue, anak Teknik itu keren ( inget prinsip: semuanya kembali ke tampang ! ). Gue gak ngebayangin betapa syok-nya gue kalo gue jadi anak Teknik. Bayangin aja, dengan kemampuan otak yang pas-pasan gue disuruh ngerjain laporan laporan yang angkanya itu bertebaran di mana-mana. Bisa bisa gue mabok rumus gue jon. Belom lagi begadang, pulang malem, pulang kampung satu semester sekali. Astaga. Kalo inget itu, gue bersyukur jadi anak Sastra. Tapi, dari semua itu, gue salut buat anak Teknik yang masih hidup sampe saat ini dan gak pindah ke jurusan lain. Gue salut. Sekarang coba bandingin sama gue. Buat urusan tugas, jelas gue gak ada apa apanya dibandingin mereka. Urusan tingkat kesulitan pemahaman materi, jelas banget kalo gue anti rumus dan itu artinya modal baca doang dan everything will be okay. Dari dua yang gue bandingin, gue udah kalah telak. Dan setiap kali gue males atau kebanyakan ngeluh tiap ngerjain tugas, kadang kadang gue ngomong di dalem hati ‘Anak teknik aja sanggup ngerjain tugas-tugas mereka dengan jangka waktu yang lebih singkat dari ini, masa lo gak bisa?’ atau ‘Gitu aja ngeluh, mau dipindah ke jurusan Teknik?’ dsb. Itu gue lakuin semata mata biar gue semangat dan gak kalah sama mereka. Oiya,gue pernah nge-tweet tentang kata kata itu. Dan hasilnya, gue dikeroyok temen temen gue. Dengan sinisnya mereka bilang ‘Pindah aja sono ke Teknik!’,’Dasar penghianat FIB’,’ngapain sih lo ngomongin anak Teknik mulu’ dan sejenisnya. Gue hampir mati gara gara tweet gue sendiri. Oh my GOD, ini konyol.

Gue sering bertanya-tanya, apa mereka gak pengen ngeliat hidup mereka sesantai gue? Tugas dikit, weekend yang free, tidur pules tanpa dibayangin laporan praktikum yang belom kelar. Dan apa bener semua anak teknik itu sibuk? Apa nggak ada yang ngejalanin hidupnya secara normal meskipun anak teknik? Yang jelas, gue nggak tau. 

0 komentar:

Never Become True

Minggu, November 18, 2012 Atika Nugraheni 0 Comments


Never Become True

Kata Giring NIDJI ‘mimpi adalah kunci’. Terus kalo kata Arai ‘bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita’. Buat gue, kata-kata ini mungkin cuma berlaku buat mimpi-mimpi kelas normal semisal ‘gue pengen keliling dunia pake odong-odong, gue pengen sekolah sihir di Hogwarts biar diospek sama Harry Potter, gue pengen punya rumah persis di lapangannya Istana Negara’ dan sebagainya. Mimpi mimpi itu masih punya kemungkinan dikabulin sama Tuhan suatu saat nanti. Dan untuk mimpi-mimpi yang tingkatnya udah double impossible, mimpi bukan lagi kunci tapi mimpi adalah gerbang menuju sebuah kekecewaan dan pengharapan tiada akhir. Mimpi mimpi ini punya kerja sama bilateral sama yang namanya cinta, siapa lagi. Misalnya nih ‘gue suka banget sama dia dan gue pengen banget suatu saat dia jadi suami/istri gue, minimal jadi pacar deh’ padahal yang diharepin itu manusia sempurna dengan sejuta cem-ceman sedangkan pihak yang ngarep adalah kaum minoritas yang penuh dosa dan tanda tanya (aiih). Antara mimpi sama ngarep emang bedanya cuma 0,0000001 mm.

Di antara cewek dan cowok, yang banyak punya mimpi double impossible adalah kaum cewek. Sebenernya ini cuman sensus kasar sih, mungkin aja cowok cowok justru lebih expert lagi dan lebih impossible lagi mimpinya. Tapi gue aja yang nggak tau. Kasus yang paling heboh yang sering dialami adalah ngefans sama seorang cowok. Biasanya cowoknya ini adalah cowok yang berasal dari fakultas lain atau fakultas yang sama tapi bisa juga beda kampus. Cowok cowok ini biasanya gila organisasi alias ngeksis dimana mana dan selalu keliatan sibuk kesana kemari ngurusin proposal,danus dan sebagainya, tapi bisa juga yang kalem. Dari ngefans itu dimulailah masa-masa dimana kepo akan merajai alam bawah sadar. Cari tau username twitter sampe kepoin tweet-nya, nge-save ava-nya, belom lagi yang ngefollow semua cewek yang diajak mentions mentions-an sama dia. Kepo itu biasanya berujung pada sebuah cinta. Cinta yang muncul biasanya menghadirkan sebuah mimpi-mimpi yang mustahil dikabulin sama Tuhan. Mimpi yang terlalu muluk-muluk, sampe sampe Tuhan aja bingung gimana cara ngabulinnya. Contohnya ya kita adalah cewek super biasa dengan spesifikasi IQ Melati, tampang gak laku di pasaran (ebuseet), tampilan standar bawah jauh dari modis. Trus ngefans atau malah suka sama seorang cowok dengan spesifikasi bak HP android seri paling baru dan mimpiin cinta yang nggak bertepuk sebelah tangan. Bayangin, tingkat ke-matchingannya aja masih kurang dari 10%. Sebaik-baiknya cowok yang lagi kita suka misalnya dia mau bales mentions dengan becanda yang sedikit dipaksakan, mau ngebales sms gak penting kita meskipun cuma jawab pertanyaan aja, inget dia ngelakuin itu semua karena dia udah kepentok sama predikat baiknya. Aslinya sih ogaah. Dari semua tindakan tindakan kita yang sedikit banyak udah nunjukkin kalo kita suka, dia biasanya mendadak langsung nyari orang yang pas dan selevel buat dijadiin gebetan atau bahkan pacar. Sekonyong-kongyong itu langsung ngebikin patah hati. Tweet tweetnya yang isinya semua tentang gebetan/pacarnya bakalan langsung ngebunuh kita secara gak langsung ‘Udah pake parfum Cap Lang sebotol nih, saatnya makan bareng diaa…’. Dari semua kejadian itu pasti ada campur tangan Tuhan. Tuhan sengaja ngebikin orang yang lagi kita suka mendadak suka juga sama orang lain. Mungkin itu Tuhan lakuin supaya kita nyerah dan sadar kalo mimpi itu nggak bakal jadi kenyataan. Tapi Tuhan justru bikin mimpi yang kita punya semakin susah buat dihapus (lho kok?)

Kebanyakan dari kita yang berani bikin mimpi mimpi mustahil terealisasi adalah orang-orang yang udah tau kalo itu emang mustahil. Kita sadar tapi sayangnya kita nekat. Untuk urusan cinta, kadang manusia memang menjadi kehilangan akal sehatnya. Nggak ada kata realistis, yang ada cuma jembatan harapan menuju ‘kamu’ yang mungkin bisa runtuh kapan aja. Meskipun harapan itu kosong tapi hati ini masih mau menyebutnya harapan.

Gue juga ngalamin hal ini. Dan belakangan ini gue ngalamin hal-hal yang sengaja dibuat Tuhan untuk nyadarin gue dari mimpi panjang gue. Nyesek dan ngejleb si emang. Tapi itulah kenyataan, nggak pernah lebih indah dari sebuah ketidaktahuan. Prinsip gue ‘ Siapa tau namamulah yang tertulis di Lauful Mahfudz-ku. Karena itu, aku menunggu ‘. Maksud menunggu yang gue maksud adalah gue bakal nunggu sampe gue bener-bener bangun sesadar-sadarnya dari mimpi gue.

Buat yang masih ngarepin sesuatu yang sia-sia alias never become true, tenang aja soalnya gue yakin kita nggak sendirian. Dan cuman ada dua kemungkinan disini 1) mimpi itu nggak akan pernah terwujud dan 2) kita akan mendapatkan hal yang lebih. Keep on dreaming although we know that It’s never become true.

0 komentar:

Senin, November 05, 2012 Atika Nugraheni 2 Comments


MBLO?


Perhatiin deh dunia ini sekarang ! Perhatiin kata-kata apa aja yang lagi nge-trend belakangan ini ! Ciyus,enelan,miapah, cuman itu? ENGGAK. Masih ada lagi. Sebenernya itu bukan kata sih tapi penggalan kata. And that word is MBLO ! Lo nyadar gak sih kalo akhir-akhir ini banyak banget orang yang ngegunain ‘mblo’ buat manggil temen-temennya ( yang jomblo )? Gue sering banget liat di timeline kalimat gini ‘Selamat siang mblo. Jangan lupa makan ya, ntar mati’,’Lagi malem mingguan di mana,mblo?’ dan sebagainya. Bahkan gue juga dipanggil gitu kadang-kadang. Dan sebagai balesannya, gue juga ikutan buat make kata ‘Mblo’ buat manggil mereka. Fine, entah ini kreatif atau apa, yang jelas pada awalnya that’s fun tapi lama-lama bikin naluri kejombloan yang udah lama tidur nyenyak perlahan-lahan bangun (trus tidur lagi). Buat yang belom tau apa artinya ‘naluri kejombloan’, plis jangan tanya balik ke gue. Gue juga nggak ngerti apa maksudnya. Cari aja di thesaurus kalo mau, ntar kalo ketemu, kasih tau gue.

Oke, focus ke masalah MBLO yang semakin marak di kalangan anak muda baik yang mukanya pas-pasan ataupun yang lebih ngepas lagi.

Kalo umur kita masih antara 0-15 tahun, jomblo itu gak dianggep masalah karena itu masih wajar. Kita masih dianggep anak kecil yang belom pantes punya pacar. Tapi bakal beda cerita kalo udah umur 19 tahunan keatas masih jomblo juga. Kenormalan kita sebagai seorang manusia bakal dipertanyakan sama ibu ibu gossip dari RT ke RT. Pertanyaan aneh aneh yang paling mutakhir ala infotaiment pun bisa-bisa dikeluarin. Bayangin bro, betapa ngejlebnya kita kalo misalnya kita lagi jalan-jalan sambil koprol tiba-tiba ditanyain sama ibu-ibu ‘Koprolnya sendirian aja neng, pacar mana pacar?’ atau gini ‘Ih kok abangnya belom punya pacar sih, belom nemuin cowok yang pas di hati abang ye?’, mampus gak tuh kalo pertanyaannya model begituan. Tapi sebenernya, itu model-model cobaan tingkat akut alias jomblonya udah kebangetan. Trus kalo model cobaan ringannya gimana dong? Gue misalin gini, kita punya nama paling kece sedunia bahkan masuk di Guiness Book of Records tapi nama itu seketika berubah jadi ‘mblo’ karena kejombloan kita dan nama kece itu gak pernah kepake sama sekali kecuali di daftar hadir kampus ataupun di sampul depan skripsi. Nah, yang kayak gitu tuh yang dianggep cobaan ringan.

Mungkin kalian pernah dipanggil ‘mblo’ entah sama siapa, dan di setiap panggilan itu ada sebuah kelucuan dan kesadaran akan sesuatu yang udah lama gak kesentuh sama nurani ( masyaalloh diksi gue? -.- ). Lucu karena kata ‘mblo’ itu mengandung sesuatu yang ya pokoknya lucu aja didenger meskipun ngeselin dan kadang-kadang bikin emosi kalo mood kita lagi parah. Dan kesadaran kalo kita ini ternyata jomblo, udah lama pula. Sedih? Enggak juga. Tapi kalo nyesek? Lumayan lah. Kedua rasa itu bisa aja terjadi secara bersamaan ato kepisah-pisah. Yang repot adalah ketika keduanya rasa itu dirasain bebarengan dengan kondisi mood yang lagi gak karu-karuan. Rasanya pasti pengen teriak ’kenapa Vino G Bastian nikahnya sama Marsha Timothy, kenapa gak sama gue?’,’Kenapa ada yang mau jadi pacarnya Ruben Onsu?’,’Kenapa ada malem minggu?’ dan serentetan pertanyaan mengenai kejombloan lainnya. Ah sudahlah, jangan dipikirkan lagi Esmeralda, dunia memang kejam *melenceng*.

Kebetulan, gue adalah jomblo angkatan Balai Pustaka. Tau kan Balai Pustaka? Tanya sama Chairil Tanjung tuh kalo gak tau. Masih nanya juga siapa itu Chairil Tanjung? Masyaalloh,itu lho yang bikin puisi Kerawang-Bekasi. Sebagai pemenang ajang pencarian jomblo berbakat, gue menyatakan kemerdekaan Indonesia dalam tempo yang sesingkat-singkatnya *salah naskah*. Gue mau ceritain gimana nyeseknya jadi jomblo. Ini adalah pengalaman gue yang sengaja gue lebay-lebaykan biar kesan ‘jomblo=menderita’-nya itu dapet.

Sebenernya, gue udah sering dapet pengalaman pahit yang berurusan sama masalah jomblo-menjomblo gue. Tapi ya rata-rata masih cobaan kecil yang udah gak mempan sama sekali sama jomblo-jomblo angkatan balai pustaka. Salah satunya gini, waktu itu gue lagi ada di kosan temen kampus gue. Ya seperti layaknya cewek cewek rumpi pada umumnya,gue sama yang lain ngumpul di satu salah satu kamar sambil ngobrolin berbagai macam hal mulai dari harga cabe di pasar sampe masalah perekonomian dunia yang semakin lama semakin rumit. Heran ya sama rumpian gue? Hish *nyengir setan*. Sampe akhirnya, masing masing orang cerita tentang kisah cintanya. Orang pertama, ceritain mantan mantannya. Orang kedua, galau gegara kebanyakan cowok yang ngedeketin dan dia pusing gimana cara nolaknya karena dia lagi suka sama cowok ganteng lainnya yang kebetulan juga udah ngasih bendera kuning eh maksud gue lampu kuning ke dia. Buseeeet, sebagai jomblo gue langsung envy parah. Di saat gue masih nunggu orang yang tepat, dia udah kebanjiran antrian dan lagi bingung gimana cara nolaknya. Dan ketika dia udah nolak semuanya pun, dia masih ada cadangan yang siap nerima dia kapanpun. Sadaap. Jadi orang cantik emang gak perlu rempong pontang-panting kesana kemari buat nyari jodoh ye, mana dapetnya orang-orang yang ganteng ganteng semuanya. Dan sampe detik itu, gue masih nyoba ngeyakinin diri gue kalo Tuhan itu (masih) adil. Berulang kali gue ngucapin kata-kata itu di dalam hati gue sembari pasang tampang antusias dengerin cerita. Sampe akhirnya cerita cerita roman yang iyuuh banget itu hampir selese, ada yang nyeletuk ‘Dia si pacarnya siapa?’ sambil nunjuk ke arah gue. Gue jawab aja ‘gak punya’ dan kenyataannya emang gitu,masa iya gue mau ngaku ngaku. Trus dijawab lagi ‘Gak punya atau emang gak ada yang ngedeketin?’. JLEB. Seketika ada yang nusuk nusuk kepala gue, dan ternyata gue kena migraine. Temen gue ngebelain gue,sesame jomblo emang harus saling membela. Harusnya gue sedih atau malah koprol sambil bilang onde mande nih? Gue juga gak tau. Sempet gue mikir ‘Segitunya gak ------ ya gue sampe dibilang gitu di depan muka gue?’. Lagi-lagi kalimat Tuhan itu (masih) adil gue gumamin di dalam hati,alih alih supaya gue tetep kuat, cuman itu.

Hanjir, melankolis juga gue yak. Dengan mempertahankan kemelankolisan ini,kayaknya gue bisa jadi penulis scenario buat sinetron sinetron RCT*I itu deh.

Hidup di perantauan sebagai seorang jomblo itu nggak gampang men. Jomblo itu sama dengan single fighter. Arti harfiahnya adalah pejuang tunggal. Tunggal berarti sendirian. Sendirian itu artinya (terpaksa) mandiri. Gimana enggak, ketika lo jomblo dan bener bener jomblo, yang artinya gak ada gebetan atau sejenisnya, lo bakal ngelakuin semua hal sendirian. Misalnya, ketika lo tiba tiba kelaperan malem malem dan saat itu keadaan gak memungkinkan lo keluar malem buat nyari makan karena tugas yang belom kelar. Kalo lo punya pacar atau gebetan sih asik,tinggal sms ntar dianterin makanannya. Syukur kalo dibayarin. Tapi karena lo jomblo, lo gak mungkin ngelakuin hal itu. Itu artinya lo harus keluar sendirian nyari makan, bayar sendiri,makan sendiri di pojokan kamar kos. Ngenes. Tapi gak apa apa, dengan lo ngelakuin hal itu berarti lo berhasil mandiri. Selain itu, jomblo itu harus terbiasa tidur sendiri meskipun gak ada yang ngucapin selamat malam. Jomblo juga harus tetep makan meskipun gak ada yang ngingetin makan. Pokoknya, semuanya harus serba mandiri. Kalo gue beda lagi. Gue emang udah punya benih benih kemandirian sejak tahun 1936 (BOHONG!). Itu terbukti dengan usaha gue meminimalisir kalimat ‘tolong dong’ ke cowok ataupun cewek selama gue masih bisa ngelakuin itu sendiri (BOHONG LAGI!). Dan hal itu gue lakuin karena gue jomblo *kekerenan langsung turun drastic*. Oke sekarang gue serius. Sebenernya jomblo ataupun enggak emang dituntut harus mandiri. Cuma dalam konteks ini, jomblo adalah katalis untuk mempercepat reaksi dalam hal ini adalah mandiri itu sendiri. Teori gue, semakin lama lo jomblo, semakin besar tingkat kemandirian yang lo punya ( Teori ini dikecam oleh seluruh umat ).

Rasa iri emang selalu dateng tepat pada waktunya yaitu tepat pada saat ada pasangan yang gak punya peri kejombloan memamerkan kemesraannya di depan seorang jomblo yang sedang terpuruk. Itu jelas bikin ngedrop. Ditambah lagi kalo ada pasangan yang sengaja pake kaos couple, astagfirulloh banget itu sih. Belom lagi temen yang suka curhat masalah cowoknya atau yang dengan gampangnya putus trus beberapa detik kemudian udah jadian lagi atau malah yang selalu cerita kalo doi selalu ditaksir sama cowok cowok ganteng nan macho. Lemes dan lunglai juga langsung menyerang pas orang yang lagi disuka juga lagi suka sama orang lain yang lebih sempurna udah gitu mention mentionan mesra di socmed. Cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan atau selalu dincintai sama orang yang gak tepat. Waah, ini sebenernya udah cukup membulatkan tekad buat bunuh diri. Tapi, jomblo yang hebat gak akan menyerah secepat ini. Sefrustrasi apapun, bukan jomblo hebat namanya kalo gak bangkit lagi.

Jadi jomblo terlalu lama juga bikin kita jadi orang yang gak realistis. Saking lamanya jomblo bikin kita sering bilang ‘gak apa apa sih gue jomblo sekarang, siapa tau jadi istri keduanya SBY besok besok’,’yaa, gue jomblo sih emang sengaja kan gue lagi nungguin Inul Daratista cerai sama Adam Kumis’ dan sebagainya. Puk puk puk puk.

Disini gue,selaku perwakilan dari jomblo jomblo angkatan Balai Pustaka, bakal negesin kalo jomblo itu bukanlah hal yang perlu disesali. Jomblo itu ya biasa aja. Anggep aja ini adalah jalan yang ditempuh sebelum lo nemuin seseorang yang bener bener tepat buat hidup kita. Nah, kalo semisal dalam menempuh jalan ini lo gak pernah mampir kemana mana berarti lo termasuk jomblo yang istiqomah. Tapi ini susah dilakuin. Percaya aja sama Tuhan, bukannya Tuhan nyiptain makhluknya berpasang-pasangan? Meskipun gitu gue masih bingung sama orang yang punya istri 3, dimana letak berpasang-pasangannya? -,-

Setelah gue baca tulisan gue dari awal sampe akhir, gue baru nyadar kalo tulisan ini gak ada nyambung-nyambungnya sama sekali. Freak. Tapi, itu wajar sih, namanya juga jomblo *eehh*. Semoga gak pusing bacanya ya, AAMIN. 
Oiya, tetep inget sama pepatah 'Jomblo adalah forever alone yang tertunda' !!

2 komentar: